EKSPRESI

EKSPRESI

Lidah adalah struktur berotot yang terdiri atas tujuh belas otot yang memiliki beberapa fungsi. Lidah di antaranya berfungsi untuk membantu mengatur bunyi dalam berkomunikasi, berbicara, dan membantu proses mengunyah makanan. Menurut perkiraan, lidah membantu proses mengunyah dan menelan makanan sebanyak 2.500 kali per hari.

Perannya sebagai organ pengecap rasa adalah salah satu fungsi utama dari lidah. Terdapat sekitar 10.000 titik pengecap di lidah. Titik-titik ini sangat aktif memperbarui diri. Lidah dapat merasakan berbagai rasa; rasa pahit dikecap di bagian belakang lidah, asam di sepanjang sisi bagian belakang, dan manis di bagian depan lidah. Sedangkan bagian tengah lidah tidak mempunyai fungsi mengecap karena di sana tidak ada titik pengecap. Indera pengecap ini bekerjasama sangat erat dengan indera penciuman dalam mengidentifikasi makanan.

Lidah, dalam bidang agama, hampir selalu dikaitkan dengan hati dan digunakan untuk mengukur baik-buruknya perilaku seseorang. Lidah dan hati yang baik akan mengantarkan pemiliknya kepada kebaikan, dan demikian sebaliknya. Rasulullah menunjuk lidah sebagai faktor utama pembawa bencana bagi manusia. Juga, lidah adalah tolok ukur bagi anggota tubuh lainnya. Beliau bersabda:

 

 Adakah hal lain yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah atau pelipis mereka selain lidah mereka sendiri? (Hadis Riwayat at-Turmużi dan lbnu Majah dari Mu’az bin Jabal)

 

Ketika manusia bangun di pagi hari, maka seluruh anggota badannya berkata merendah kepada lidah dan berpesan,

 

“Bertakwalah engkau kepada Allah mengenai kami, karena kami akan tunduk kepadamu; jika engkau lurus maka kami pun lurus, dan jika engkau bengkok maka kami pun bengkok. (Riwayat at-Turmużi dan Amad dari Abu Sa’id al-Khudri)

 

Untuk dapat berbicara dan mengeluarkan bunyi yang berbeda, lidah bekerjasama dengan organ-organ lain, seperti bibir, rongga mulut, paru-paru, kerongkongan, dan pita suara. Berbicara adalah suatu kegiatan yang sangat kompleks. la bermula dari perasaan yang mendorong untuk mengucapkan suatu maksud. Perasaan itu lalu berpindah ke otak kiri. Selanjutnya, dada memompa udara yang ada di dalamnya dengan kadar tertentu melalui tenggorokan. Udara ini akan mencapai pita suara yang amat kompleks sehingga pita suara itu menghasilkan bunyi yang diperintahkan otak; nyaring atau berbisik, panjang atau pendek, tekanan pada bunyi tertentu, dan lain-lain. Selanjutnya bergeraklah bibir, lidah, rahang serta alat bantu ucap lainnya. Setelah menjalani proses yang rumit, bunyi yang dikeluarkan lidah pada akhirnya dapat dipahami oleh mitra bicara. Semuanya terjadi tanpa disadari dan diketahui prosesnya oleh pembicara.

 

الرَّحْمَٰنُ۝  عَلَّمَ الْقُرْآنَ۝  خَلَقَ الْإِنسَانَ۝  عَلَّمَهُ الْبَيَانَ۝

(Allah) Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Alquran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. (Alquran, Surah ar-Rahmān/55: 1-4)

 

Kalimat “mengajarnya pandai berbicara” atau dalam Tafsir Al-Mishbah diungkapkan dengan “mengajarnya ekspresi”. Maksud kedua versi terjemah ini pada dasarnya sama, yaitu bahwa Allah mengajar manusia untuk dapat menjelaskan suatu maksud yang ada di dalam benaknya dengan segala macam cara, utamanya melalui bercakap-cakap dengan baik dan benar. Maksudnya, Tuhan menganugerahkan potensi agar manusia dapat mengungkapkan maksud yang ada dalam benaknya. Hal ini berarti bahwa dalam mengemukakan sesuatu, tidak hanya organ penghasil suara saja yang berperan  tetapi justru yang terpenting adalah potensi manusia itu sendiri untuk berekspresi dan berpikir.

Kata “al-bayān” dalam ayat ini pada umumnya diartikan dengan kejelasan. Kata ini dapat pula dipahami sebagai potensi mengungkapkan, yakni ucapan yang dengan perantaraannya apa yang ada dalam benak seseorang bisa diugkapkan. Ucapan bukanlah sekadar mewujudkan suara. Lebih dari itu, Tuhan melalui metode pengilhaman menjadikan manusia mampu memahami makna suara yang keluar itu. Dengan ucapannya, manusia dapat menghadirkan sesuatu: yang besar, kecil, nyata, dan tidak nyata. Dengan suara pula manusia dapat menghadirkan sesuatu dari masa lampau atau masa depan. Semua dihadirkan oleh pembicara kepada pendengar dan ditampilkan ke inderanya seakan pendengar melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Kemampuan manusia yang demikian ini membuat manusia tidak dapat hidup sendiri. Dengan kata Iain, kemampuan manusia untuk berekspresi menyebabkan manusia menjadi makhluk sosial. Pada gilirannya, interaksi yang terjadi antarmanusia akan melahirkan aneka ilmu pengetahuan yang berguna dalam menyejahterakan hidupnya. Seseorang dapat berkomunikasi dengan berbicara setelah seluruh masyarakat menyepakati arti dari suatu bunyi. Kemudian, bunyi-bunyi yang sudah disepakati artinya itu digabungkan dalam susunan yang tepat untuk menjadi kalimat. Pada tahap selanjutnya, terciptalah suatu bahasa.

 

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ۝

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 22)

 

Bahasa satu kelompok masyarakat dengan masyarakat Iain bisa sangat berbeda. Bahasa diduga sudah digunakan manusia sekitar 45.000 tahun sebelum Masehi, dan Iran serta daerah sekitarnyalah yang diperkirakan sebagai tempat pertama kali bahasa muncul dan berkembang. Jumlah bahasa di dunia diperkirakan berkisar 6.000an. Di Indonesia sendiri ada sekitar 370 suku dan hampir semuanya mempunyai bahasa sendiri. Dengan demikian, di Indonesia saja setidaknya sudah ada 370 bahasa.

Orang sering menyangka bahwa seorang anak dapat dengan mudah menguasai bahasa ibunya hampir tanpa kesulitan. Pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, diperlukan waktu bertahun-tahun dengan latihan yang tiada henti dan koreksi yang berulang atas kesalahan-kesalahan supaya si anak pada akhirnya dapat menguasai bahasa orang dewasa. Penguasaan tiap bahasa tidaklah di luar kemampuan manusia pada umumnya. Setiap manusia mempunyai potensi untuk menguasai bahasa apa pun di dunia. Kemauan dan desakan untuk memakai salah satu bahasa adalah yang menyebabkan seseorang dapat menguasai bahasa tertentu, dan bukan lantaran keturunan atau warisan.

Orang akan berpikir bahwa putra Jawa tentu pandai bahasa Jawa, putra Perancis tentu pandai bahasa Perancis. Demikian selanjutnya, seolah penguasaan atas sebuah bahasa bergantung pada faktor keturunan semata. Seorang putra Jawa yang dididik dalam lingkungan yang sama sekali asing dengan bahasa Jawa tentu tidak akan pandai berbahasa Jawa. Sebaliknya, ia akan menguasai bahasa yang digunakan dalam lingkungan tersebut.

Banyak orang memasukkan bahasa sebagai bagian dari kebudayaan karena dengan bahasalah kegiatan anggota masyarakat dapat berlangsung. Malah, bagi sebagian orang, bahasa tidak saja menjadi bagian kebudayaan, melainkan sudah menjadi dasar kebudayaan itu sendiri. Alasannya, bahasa adalah sarana paling efektif untuk mengetahui ciri-ciri suatu kelompok masyarakat.

Bahasa membuka pintu bagi timbulnya kebudayaan dan akumulasi ilmu pengetahuan. Bahasa sebenarnya menandai eksistensi manusia. Dengan pengertian macam ini, dapat dikatakan bahwa pameo “aku berbahasa karena aku hidup” adalah benar.

Aktivitas manusia dalam berkomunikasi, seperti berbicara dan berbahasa, pada tahap selanjutnya tentu berkaitan dengan aktivitas Iain, seperti menulis, membaca, serta tersedianya buku, majalah, dan koran yang merupakan kumpulan tulisan. Kemampuan manusia dalam menuliskan apa yang diketahuinya merupakan tonggak yang sangat penting dalam sejarah peradaban manusia. Sejarah kemanusian dengan demikian terbagi menjadi dua fase, yaitu pra dan pasca ditemukannya tulisan.

Sebagian pakar meyakini, tulisan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Mesir kuno sekitar 5.000 tahun lalu. Namun tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa tulisan pertama ditemukan di Yangshau, Cina, sekitar 4.000-5.000 tahun sebelum masehi. Penemuan tulisan, di samping penemuan roda, merupakan penemuan-penemuan terbesar umat manusia.

Dengan tulisan, manusia bisa saling mentransfer pengetahuan satu sama Iain, bahkan ke generasi setelahnya. Seorang penulis, meski sudah meninggal, dengan tulisan yang ia hasilkan akan tetap bisa berdialog dengan orang-orang yang masih hidup. Demikianlah urgensi tulisan sehingga Allah menjadikan alat tulis: pena atau kalam, sebagai perantara sumpah.

 

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ۝

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. (Alquran, Surah al-Qalam/68: 1)

 

Sumpah ini menunjukkan betapa pentingnya huruf dan rangkaiannya yang menghasilkan kata, tulisan, dan kalimat yang mengandung informasi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada peradaban manusia bila tidak ada alat untuk merekam informasi, sementara frekuensi temuan-temuan selalu meningkat dari hari ke hari. Menurut perkiraan, manusia menghasilkan temuan-temuan baru sekitar empat hingga lima buah tiap bulannya.

Dengan adanya tulisan, manusia dapat melakukan aktivitas membaca. Sebelum baca-tulis berkembang, hafalan adalah satu-satunya metode mengingat informasi. Ketika itu, orang-orang yang mempunyai memori kuat akan menjadi manusia unggul.

Dengan sekadar membaca, manusia dapat menjalani banyak kehidupan. Dengan membaca pula manusia mengumpulkan begitu banyak pendapat, rasa, persepsi, dan imajinasi dalam benaknya. Dengan demikian, ia tidak hanya memiliki satu kehidupan. Dengan membaca, ia hidup di banyak tempat, banyak situasi, banyak waktu—masa lalu, sekarang, masa mendatang; mengalami banyak perasaan— senang, sedih, marah dan seterusnya; dan banyak lagi.

Namun demikian, manusia juga harus pandai memilih bahan bacaan. Ada bacaan yang langsung dapat diterima, ada yang harus dikaji terlebih dahulu, dan tidak sedikit pula yang harus ditolak. Dengan demikian, kita harus selalu mengamalkan firman Allah: Iqra’ bismi rabbik, bacalah demi nama Tuhanmu. Membaca yang dimaksud dalam ayat ini adalah apa-apa yang melambangkan aktif maupun pasif; bacalah, bergeraklah, dan bekerjalah demi Tuhanmu.

Kumpulan ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan biasa kita sebut buku atau kitab. Banyak yang menganggap kitab atau buku sebagai sahabat yang paling baik. la setia, patuh, dan tidak pernah bosan menemani pembacanya. Buku dapat memberi nasehat dan menemani pembacanya tertawa, menangis, bersedih, dan gembira. Meski banyak sarana untuk memperoleh informasi, seperti radio, televisi, dan komputer, namun buku tetap tidak kehilangan wibawa.

Leave a Reply

Close Menu