DUA ALAM: PERBEDAAN YANG TERLUPAKAN

DUA ALAM: PERBEDAAN YANG TERLUPAKAN

Saya menekankan satu bahasan penting yang tampaknya sering diabaikan atau bahkan tidak dihargai secara selayaknya oleh para pembaca Alquran atau pemeluk agama Islam yang notabene memiliki cara pandang Islami. Alquran mengemukakan adanya perbedaan metodologis antara “dunia yang diamati” (yaitu fisik) (‘alam as-syahādat) dan “dunia yang tak terlihat atau tidak dapat diakses” (yaitu metafisika) (‘alam al-ghaib). Yang pertama didefinisikan sebagai sesuatu yang mengandung semua material yang hidup dan mati, atau yang oleh para ilmuwan disebut alam semesta. Sedangkan yang kedua didefinisikan sebagai segala hal yang berhubungan dengan Allah, malaikat, surga, neraka, jiwa (dengan berbagai definisi) dan lain-lain yang hanya dapat dibahas dengan pendekatan agama murni dan biasanya disimpulkan dari teks keagamaan (kitab suci dan sabda nabi).

Perbedaan antara dua dunia tersebut barangkali sudah tampak jelas. Akan tetapi, ketika topik yang dibincangkan adalah kosmologi yang sama-sama dibahas dalam teks keagamaan maupun dalam penafsiran religius para uIama, kerancuan sering muncul sehingga kesimpulan yang diperoleh sering mudah dipatahkan oleh para pemikir rasional. Sayangnya, kosmologi Islam tradisional/ kosmogoni tidak hanya menolak pemisahan tersebut, tetapi juga membuat titik pemersatu antarkeduanya.

Saya akan menyajikan beberapa contoh mengenai hal ini pada bagian berikutnya. Akan tetapi, sebelum itu, penting kiranya menampilkan dua pendapat yang paling mutakhir dalam perspektif ini. Keduanya adalah eksposisi Muzaffar Iqbal mengenai kosmologi dalam budaya Islam dan usaha William Chittick menyajikan sebuah alternatif dalam pendekatan “Barat” terhadap kosmologi dan pengetahuan (pada umumnya). Dengan bersikeras bahwa yang dimaksud kosmologi dewasa ini sangat berbeda dengan kosmologi tradisional dalam tradisi Islami, Iqbal menyatakan bahwa “kosmos Qurani tidak hanya membahas hal-hal fisik yang terdiri dari bintang, planet, dan entitas fisik lainnya, tetapi juga mencakup semesta spiritual yang dihuni entitas nonfisik”. Saya tidak berkeberatan terhadap deskripsi yang demikian jika dua “kosmos” dianggap sebagai dua alam yang terpisah, tetapi dalam doktrin Iqbal, Nasr, dan Chittick, tidak ada pemisahan antarkeduanya. Chittick memang menegaskan bahwa “tidak ada tempat bagi dualisme ketat yang merupakan ciri pemikiran modern”. Ia bahkan memandang bebatuan bukan “materi”. Selain itu, ia juga melihat bahwa kosmos dan jiwa merupakan dua hal yang saling terjalin dalam hubungan “organismik, yang tidak membedakan subjek dengan objek”

Tinggalkan Balasan

Close Menu