DOKTRIN-DOKTRIN KOSMOLOGI ISLAM ABAD PERTENGAHAN

DOKTRIN-DOKTRIN KOSMOLOGI ISLAM ABAD PERTENGAHAN

Ketika bangsa Muslim untuk pertama kalinya bersentuhan dengan peradaban-peradaban lain dan menyerap warisan budayanya, kehidupan intelektual dan pemikiran mereka menjadi matang dan bermunculanlah para pemikir dengan doktrin-doktrin dan konsepsi-konsepsi yang mencerminkan tradisi filsafat kuno. Kemudian, muncullah falsafah (filsafat Islam), kalam (teologi Islam), tasawuf (mistisisme, sufisme) dan doktrin esoteris faidh (emanasi) yang memiliki kecenderungan dan pengaruh sangat luas, belum lagi kawasan-kawasan geografis dan epos-epos sejarah.

Menurut Nasr, spektrum kosmologi Islam dapat digambarkan sebagaimana berikut:

Dalam tulisan-tulisan Ikhwān As-Safā, kita menjumpai kekayaan simbol neo-Pythagoras. Bersama AI-Bīrūni, kita bisa mengenal(nya sebagai) salah satu matematikawan dan astronom Muslim paling terkemuka sekaligus cendekiawan dan sejarahwan independen yang tengah mencari pengetahuan mengenai tempat-tempat dan zaman-zaman lain. Ibn Sīna, tak diragukan lagi merupakan pemikir Muslim peripatetik dengan tulisan-tulisannya yang begitu jelas menyajikan filsafat peripatetik alam raya secara menyeluruh, yang (sedikit banyak) memiliki kesamaan dengan pandangan kaum Sufi mengenai alam semesta dan peran kosmologi dalam perjalanan dari Gnostik menuju illuminasi.

Teori-teori utama kosmologi Islam dapat dibagi ke dalam teori yang bertendensi filosofis dan teologis: para filsuf Helenistik, kelompok Ikhwān As-Safā, cendekiawan independen/ilmuwan, dan para sufi.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu