DISTRIBUSI AIR

DISTRIBUSI AIR

Serial Quran dan Sains

Air di bumi terdapat di mana-mana, bahkan di dalam benda padat sekalipun, selama dia memiliki kesarangan atau pori-pori, karena umumnya ruang kesarangan mengandung air. Akan tetapi, kondisi keterdapatan dan sifat-sifat air di setiap tempat berbeda-beda, tergantung pada kondisi setempat. Selain itu, dengan adanya energi panas matahari, molekul air selalu bergerak, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dan selalu dalam keadaan yang menuju perubahan, dari padat menjadi cair, menjadi gas, atau sebaliknya.

  1. Daur Air

Meski air mendominasi penampakan planet dari luar angkasa, keterdapatan air di bumi terbatas hanya di bagian permukaannya yang dikenal dengan hidrosfer (Iapisan air).
Bagian terbesar air menempati bagian-bagian terendah muka padatan bumi dalam bentuk laut dan samudra. Permukaan laut dan samudera meliputi kira-kira 71% permukaan bumi, tetapi laut dan samudra menyimpan sekitar 97% jumlah air yang ada di bumi. Cadangan yang cukup besar dijumpai dalam bentuk es di kutub dan di puncak-puncak gunung atau dalam bentuk salju yang menutupi dataran yang terletak pada Iintang rendah di musim dingin. Di daratan dalam, air dijumpai dalam bentuk aliran permukaan (sungai) dan genangan di danau-danau, rawa, kolam, sawah.

Di samping itu, air terdapat di atmosfer dalam bentuk uap yang biasa pula tampak sebagai awan dan di dalam tanah dan batuan sebagai air tanah dangkal dan air tanah dalam yang biasa kita ambil dari sumur gali maupun sumur bor, atau keluar sebagai mata air.

Pada kenyataannya air selalu berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya dan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dengan adanya aliran arus, baik di laut maupun di darat (sungai), dan adanya pergerakan angin. Pergerakan ini disertai pula dengan perubahan fasa dari fasa gas (uap) menjadi cair (air) dan padat (es). Dengan demikian, setiap molekul pada suatu saat akan berubah menjadi bentuk yang lain dalam kurun waktu rata-rata tertentu untuk setiap bentuk. Pergerakan dan perubahan ini berjalan secara terus-menerus dan pada suatu saat akan kembali lagi kepada bentuk semula.

Proses daur air merupakan salah satu proses yang di dalam Alquran sering tersurat, didekripsikan secara rinci dan mudah dimengerti, walaupun dengan ayat yang relatif singkat.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِن بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَن مَّن يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ۝

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampirhampir menghilangkan penglihatan (Alquran, Surah an-Nūr/24: 43). 

 

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ۝

Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya maka apabiJa Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 48). 

 

Daur air bisa diuraikan secara sederhana sebagai berikut. Uap air di udara, apabila jumlahnya sudah cukup banyak, akan terkumpul menjadi awan. Begitu uap air di dalam awan sudah mencapai titik jenuh, ia akan berkondensasi menjadi air yang kemudian dijatuhkan ke bumi menjadi hujan. Pada daerah di mana suhu udara lebih rendah daripada titik beku air, kondensasi air akan membentuk fasa padat yang dijatuhkan dalam bentuk salju atau es. Dengan pemanasan, salju akan mencair. Air lelehan salju, sebagaimana air hujan, akan mengaliri dan menggenangi bagian-bagian terendah permukaan bumi dalam bentuk sungai, danau, atau rawa di daratan dan akhirnya akan mengalir ke laut. Sebagian aliran air ini akan meresap ke dalam bumi, mengalir dan tersimpan di dalam tanah dan batuan dalam bentuk air tanah dalam dan air tanah dangkal. Dengan adanya panas matahari, sebagian air yang mengalir dan menggenangi daratan dan lautan akan menguap ke udara dan bergerak bersama pergerakan angin. Pada lokasi-lokasi tertentu, kelembapan tersebut akan terkumpul menjadi awan, dan apabila mencapai titik jenuh akan dipresipitasikan kembali sebagai hujan atau salju dan es.

Penyebab pergerakan ini adalah perbedaan suhu di muka bumi yang juga selalu berubah-ubah mengikuti rotasi bumi yang menyebabkan siang dan malam dan peredaran bumi mengitari matahari (evolusi). Allah berfirman,

وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝ تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ۝

Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya (Alquran, Surah al-Jāṡiyah/45: 5-6). 

 

Yang dimaksud dengan tanda-tanda adalah tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Pada proses-proses pergantian malam dan siang, hujan yang diturunkan Allah dari langit, perkisaran angin dan semua kehidupan, hanya sedikit orang yang mau memahami dan mengambil pelajaran dan manfaat darinya. Sejatinya dengan adanya proses-proses tersebut, manusia dan makhluk hidup lainnya mendapatkan manfaat darinya.

Menurut Wahbah Zuḥailī dalam at-Tafsīr al-Wasīṭ, di dalam Alquran terjadi pengulangan penyebutan tanda-tanda yang menunjukkan eksistensi Allah, seperti penciptaan langit (dan lapisan-Iapisan atmosfer), lapisan dan irisan bumi, penciptaan manusia dan hewan, perbedaan siang dan malam beserta akibat-akibatnya, turunnya hujan yang menjadi salah satu penyebab terjadinya proses ekonomi, dan pergerakan angin dari berbagai penjuru. Bagi orang beriman, cukuplah tanda-tanda itu menjadi motivator untuk mengagungkan Allah. Akan tetapi, bagi mereka yang ingkar dan sombong, tak ada lagi keterangan yang dapat menjelaskan dengan benar sesudah Alquran itu, yang dapat mengantarkannya menuju keimanan.

Selain sebagai tanda (sign) yang menakjubkan dan diharapkan dapat membawa kepada kemantapan iman kepada Allah, hal tersebut juga secara pragmatis dimanfaatkan oleh makhluk untuk hidup dan berpenghidupan sesuai dengan fenomena alam tersebut dengan terus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap sunnatullah tersebut. Bahkan, dengan pikiran yang Allah anugerahkan kepada manusia, mereka diharuskan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; bagaimana mengatasi agar air yang mengalir di sungai dapat dibendung untuk mengairi sawah yang tempatnya lebih tinggi daripada aliran sungai, atau bagaimana membuat air supaya bisa dibekukan dan didinginkan sehingga terciptalah freezer dan kulkas. Pendek kata, manusia dapat mengontrol secara terbatas berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyesuaikan kehendak manusia dengan sunnatullah yang telah ada dan diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, misalnya bagaimana manusia dapat mengontrol siklus hidrologi dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki manusia.

Salah satu upaya kontrol manusia terhadap siklus hidrologi adalah membuat apa yang disebut hujan buatan. Proses kondensasi dalam pembentukan hujan di angkasa dipicu oleh adanya inti kondensasi, yakni titik-titik air atau partikel polutan seperti debu. Inti kondensasi itulah penyebab pembentukan kondensat air yang lebih besar dan cukup berat untuk jatuh berupa hujan. Semakin banyak inti kondensasi, semakin mudah awan atau uap air membentuk hujan. Hal ini dapat kita amati, bagaimana daerah-daerah yang dekat dengan pabrik semen sebagai sumber emisi debu halus ke angkasa, merupakan daerah yang relatif lebih sering hujan daripada tempat yang jauh dari pabrik.

Selain itu, mekanisme kondensasi uap air dalam pembentukan hujan dapat dimanfaatkan untuk membuat hujan. Hujan buatan dapat dilakukan ketika air diperlukan untuk mengisi waduk dan menyirami daerah yang dilanda kekeringan. Penyebaran inti kondensasi seperti bubuk garam (NaCl) dengan pesawat terbang akan mempercepat kondensasi uap yang ada menjadi hujan. Pembuatan hujan akan berhasil apabila memang masih ada cukup uap/awan, dan penyebaran inti-inti kondensasi dilakukan dengan tepat. Meski demikian, hujan buatan hanya dapat dibuat apabila jumlah uap air di atmosfer dalam bentuk kelembapan udara mencukupi. Apabila tidak maka hujan buatan tidak dapa diwujudkan. Jadi, apa yang disebut hujan buatan sebenarnya hanya merupakan proses kondensasi yang dipercepat. Setelah kondensasi terjadi, seringkali hujan buatan tersebut jatuh di daerah yang tidak diinginkan, karena meski dapat diperkirakan, tetapi perubahan arah dan kecepatan angin tidak dapat dikontrol.

Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk melakukan salat Istisqā’ memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Biasanya hal ini terkait dengan panjangnya musim kering sehingga membahayakan kehidupan tanaman, binatang, dan manusia. Ini dapat dimengerti karena hakikatnya, hujan turun adalah kehendak Allah, baik sedikit maupun banyak. Allah dalam Alquran berfirman bahwa Dia-lah yang mengarahkan awan menuju daerah-daerah yang dikehendaki-Nya untuk menjadi hujan dan menghidupkan tanah yang mati.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ۝

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahu/ui kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran (Alquran, Surah Al-A‘rāf/7: 57)

 

Dari firman di atas, jelaslah bahwa hujan turun berdasarkan kehendak Allah dan wajar apabila dalam musim kering yang panjang orang-orang beriman memohon kemurahan Allah untuk menurunkan hujan. Tentu akan sangat positif apabila doa dan salat Istisqā’ itu dibarengi pula dengan upaya pembuatan hujan buatan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup di wilayah yang dilanda kekeringan ketika galibnya sudah memasuki musim hujan.

Menurut Abū Ḥafṣ Sirājuddīn an-Nu‘mānī, setelah Allah menguraikan benda-benda angkasa, seperti langit, bintang, matahari, bulan, sebagai tanda-tanda kebesarannya, Allah mengiringinya dengan menyebutkan benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di bagian bawah, tepatnya di atas bumi ini. Hal-hal yang termasuk dalam alam bawah (di dalam dan di atas permukaan bumi) adalah flora, fauna, barang tambang, dan peristiwa-peristiwa yang berpengaruh di angkasa (al- āār al-‘ulwiyyah), meliputi angin, awan, dan hujan. Ketiga hal inilah yang berpengaruh secara berantai dan kemudian menyebabkan tumbuh- tumbuhan dan aneka hayati tumbuh di permukaan tanah. Tidak dapat diingkari bahwa keterkaitan awan (uap air), angin, dan hujan merupakan anugerah dari Allah yang menyebabkan manusia dan makhluk-makhluk lainnya memperoleh berbagai kebutuhan hidup yang saling terkait antara satu dengan lainnya.

 

  1. Air Laut

Laut merupakan keajaiban berikutnya dalam kehidupan makhluk di planet ini. Air laut tidak pernah beristirahat barang sekejap pun dalam bentuk gelombang air atau gerakan di bawah permukaannya. Kadangkala gelombang itu membentuk berbagai pola yang dapat dikatakan beraturan, tapi pada saat yang berbeda gerak itu tampak sama sekali kacau, atau gelombang itu sangat rendah sehingga riak-riaknya seolah tak terasa. Jelasnya, setiap partikel air itu timbul tenggelam, bergerak ke depan dan ke belakang, tiada henti. Air laut menutup lebih dari 70% permukaan bumi, yaitu 3/5 dari belahan bumi utara. Sementara kedalaman rata-rata laut sekitar 3.800 m, bandingkan dengan ketinggian rata-rata daratan yang hanya sekitar 840 m. Terdapat 300 kali lebih banyak ruang hidup yang tersedia dalam lautan daripada di darat dan di udara bila digabungkan. Orang menjumpai kehidupan yang berlimpah di dekat permukaan laut dan kehidupan yang langka di kedalaman yang terdalam. Alquran berbicara banyak sekali tentang laut, meskipun Nabi Muhammad, berdasarkan riwayat yang ada, diketahui tidak pernah melaut atau berlayar mengarungi samudra luas. Salah satu dari sekian banyak ayat tentang laut adalah firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 14)

 

Dalam Tafsīr Fatḥul-Qadīr, Asy-Syaukānī menjelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia kemudahan mobilitas di laut dengan berbagai alat transportasi laut dan potensi penangkapan ikan dan hasil laut lainnya seperti mutiara. Dalam rangkaian ayat ini, sebelum dan sesudahnya, disebutkan secara integral nikmat-nikmat Allah di bumi, di langit, dan di laut (samudra). Hal itu dimaksudkan sebagai penyadaran terhadap manusia akan keesaan dan kekuasaan Allah sebagai Pencipta.

Terdapat dua hasil laut yang disebut dalam ayat tersebut di atas, yaitu daging segar dan perhiasan. Menurut az-Zamakhsyarī, yang dimaksud dengan daging segar adalah ikan, sementara penyertaan kata “segar” menunjukkan bahwa dalam waktu relatif singkat daging ikan akan cepat rusak. Adapun yang dimaksud dengan kata perhiasan (ḥilyah) pada ayat di atas adalah mutiara (lu‘lu) dan marjan. Penyebutan daging (ikan) segar merupakan representasi hasil laut yang pada umumnya dikonsumsi oleh manusia. Betapa banyak biota laut berlimpah-Iimpah disediakan oleh Allah di lautan mulai dari ikan segar dalam berbagai bentuk dan rasanya, hingga rumput laut yang halal dikonsumsi dan bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Laut yang luasnya melebihi daratan merupakan salah satu area tempat manusia mencari penghidupan yang menakjubkan. Wilayah yang kadang tampak tak bertepi dengan kedalaman yang mencapai ribuan meter menyimpan sejumlah besar air yang tak terhitung volumenya, bergerak dan bergelombang setiap saat, sungguh, menurut logika manusia, bukanlah diciptakan oleh tangan manusia. Keanekaan hayati dan bahan mineral yang tersimpan di bawah permukaan laut tak terbayangkan jumlah dan asal-muasalnya. Makhluk hidup seperti ikan terus bereproduksi dalam jumlah yang sangat banyak untuk menyediakan mata rantai makanan bagi aneka makhluk, termasuk manusia. Kalaupun terjadi saling memangsa, hal itu tidak seharusnya dilihat sebagai bentuk sadisme antarmereka, melainkan sebagai sebuah mekanisme yang dibuat oleh Sang Pencipta agar keseimbangan hidup di alam tetap terjadi secara alamiah. Sekiranya tidak ada mekanisme seperti itu maka hampir dapat dipastikan seluruh lautan akan dipenuhi oleh ikan karena reproduksinya yang bersifat masal. Demikian pula proses alamiah bagaimana peran laut dalam menyediakan air untuk penguapan yang dengan mudah dibawa oleh angin dan menjadi hujan di berbagai wilayah yang mungkin sangat jauh dari lautan.

Manusia yang berakal sehat akan meyakinkan dirinya bahwa eksistensi laut dan aneka kehidupan di dalamnya pasti diciptakan oleh Yang Mahakuasa. Di dalam Alquran dengan tegas disebutkan bahwa Pencipta langit dan bumi, termasuk laut di dalamnya, adalah Allah.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ۝

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 32).

 

Memang, hanya orang-orang yang memfungsikan akalnya dengan baik yang dapat merenungkan kemahakuasaan Allah dari fenomena alam. Laut adalah ciptaan Allah yang menakjubkan, terbentang luas seolah tak bertepi, menghubungkan antara satu tempat ke tempat lain, dengan mudah digunakan berlayar oleh aneka bentuk dan bobot kapal pengangkut barang, dari sampan-sampan kecil hingga kapal-kapal tanker, anjungan pengebor minyak lepas pantai, industri kelautan, dan berbagai macam keperluan yang dapat diperoleh di/atau melalui lautan. Pendek kata, langit dan bumi beserta seluruh isinya, pergantian siang dan malam, kemudahan mobilitas di lautan, fenomena hujan yang berperan menghijaukan bumi, reproduksi makhluk-makhluk di atasnya, adalah tanda-tanda kebesaran dan kemahakuasaan Pencipta, Allah Subḥānahu Wata‘ālā. Mari kita renungkan ayat berikut!

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164) 

 

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ ۝ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ ۝

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing) (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 19-20).

 

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا ۝

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus (Alquran, Surah al-Furqān/25: 53).

 

Gambaran umum air laut adalah asin, tetapi keasinan ini tidak merata. Setiap laut memiliki salinitasnya sendiri-sendiri. Bahkan dalam suatu bentangan samudra yang sama, salinitas air laut bervariasi dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Rata-rata garam yang terlarut di dalam air laut adalah sebesar 35 gram per satu liter air, sangat banyak dibandingkan dengan air tawar yang umumnya mengandung beberapa ratus miligram garam per satu liternya.

Apabila kita tambahkan air tawar ke dalam air garam pada suatu wadah maka kita akan menjumpai air di dalam wadah tersebut berubah menjadi air garam yang lebih encer,  dengan proses yang terjadi hampir seketika. Untuk proses pada skala kecil, kejadian tersebut memang demikian adanya. Tetapi apabila proses ini menyangkut massa yang besar, misalnya pada pencampuran air sungai dan air laut di muara, kita akan dapati bahwa kedua massa air tidak tercampur dengan serta-merta. Proses pencampuran pada dasarnya adalah waktu serta zona atau lokasi peralihan di antara keduanya, di mana sifat-sifat air merupakan campuran antara keduanya. Zona dan waktu peralihan ini berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lainnya, bisa terjadi seketika atau memakan waktu lama, dan bisa meliputi area yang sangat luas atau setempat. Pada beberapa muara sungai, batas antara air laut dan air sungai seringkali dapat dilihat dan tampak sebagai garis batas yang jelas antara keduanya, terutama ketika air laut memiliki warna yang berbeda dari  warna air sungai, misalnya ketika air sungai membawa lumpur. Demikian pula keadaannya di laut lepas. Meskipun antara satu laut dengan laut lainnya yang ada di permukaan bumi ini saling berhubungan dan terdapat aliran air dari satu laut ke laut lainnya, tetapi kegaraman air laut antara satu dengan lainnya tetap berbeda. Laut-Iaut yang terletak di sekitar daratan yang beriklim gurun pada umumnya memiliki kegaraman yang tinggi karena besarnya penguapan. Misalnya Laut Tengah atau Laut Mediterania yang berdekatan dengan memiliki kegaraman ratarata sekitar 38 gr/I dan Laut Merah yang terletak antara Sahara dan Gurun Arab memiliki kegaraman sekitar 40 gr/l. Kegaraman tertinggi, sekitar 3 persen, dijumpai di Laut Mati yang merupakan laut tertutup terletak di daerah Palestina, dimana masukan air tawar ke danau sedikit sekali, curah hujan amat rendah, sedangkan penguapan tinggi sepanjang tahun.

Daerah di sepanjang khatulistiwa mempunyai tingkat penguapan yang tinggi sepanjang tahun, tetapi daerah ini memiliki curah hujan yang juga tinggi sehingga air laut di sini mengalami pengenceran terus menerus yang menghindarkannya dari peningkatan kegaraman. Semakin dekat ke daerah kutub, intensitas rata-rata tahunan pemanasan oleh sinar matahari semakin berkurang sehingga penguapan di daerah ini relatif kecil. Sementara itu, presipitasi dalam bentuk salju atau pembekuan air laut yang membentuk es di daerah ini mencairkannya sebagian pada musim panas dan mengencerkan perairan di sekitarnya.

Seperti telah diuraikan terdahulu, pada dasarnya salinitas air laut selalu berkaitan dengan suhu dan berat jenis air laut. Semakin tinggi suhu air, semakin tinggi pula kemampuannya untuk melarutkan garam. Dengan meningkatnya jumlah garam yang terlarut, berat jenis air laut akan meningkat. Di lain pihak, pada batas-batas tertentu, kenaikan suhu air akan menyebabkan volume air mengalami pemuaian sehingga semakin panas air akan memiliki volume yang lebih besar. Uniknya, volume terkecil molekul air terjadi pada suhu sedikit di atas titik bekunya, yaitu pada suhu 3,98°C. Penurunan suhu air yang terjadi di  bawah suhu ini (3,98°C) juga akan menyebabkan pemuaian sehingga es memiliki berat jenis yang lebih rendah daripada air dan mengapung di dalam air. Distribusi salinitas dan suhu air laut yang tidak merata di permukaan bumi menyebabkan adanya pergerakan arus air dan angin. Proses yang memicu pergerakan ini sangat kompleks dan melibatkan pula tenaga dari luar seperti rotasi bumi, topografi dasar laut, maupun hubungan antara laut satu dengan lainnya.

Distribusi rapat massa yang tergantung pada tingkat kegaraman, temperatur, dan tekanan udara, juga memiliki peran penting. Aliran arus permukaan yang hangat dari kawasan tropis mengalir melintasi  khatulistiwa menuju Lautan Atlantik Utara dan Laut Norwegia, untuk kemudian mengalami pendinginan. Akibat pendinginan ini terjadi peningkatan rapat massa, dan laut bergerak ke bawah sebagai aliran arus bawah, dan bergerak menuju Lautan Atlantik Selatan, Lautan Hindia, dan Lautan Pasifik. Gerakan aliran arus bawah ini dikenal sebagai pola sirkulasi thermohalin, yang gerakannya sering diidentikkan dengan conveyor belt yang menggerakkan air, temperatur, dan sifatsifat lainnya, serta materi-materi di lautan.

Dalam kenyataannya pergerakan arus  laut adalah lebih kompleks. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan oleh seorang ahli kelautan, yang mengatakan bahwa di bawah garis khatulistiwa di Lautan Pasifik, Atlantik dan Lautan Hindia, terdapat arus yang bergerak melawan arus permukaannya, dan dikenal sebagai Pasific Equatorial Undercurrent, atau disebut juga sebagai Cromwell Current. Arus ini bergerak ke timur, yang menentang arus Pasific South Equatorial Current, yang bergerak ke barat. Arus yang mempunyai ketebalan 150 m dan panjang 402 km, dan batas atasnya antara 42-91 m, selalu bergerak di bawah khatulistiwa. Air laut yang bergerak dalam aliran arus Cromwell ini, yang bergerak ke timur menentang aliran arus ke barat, antara keduanya terdapat batas. Batas antara dua aliran arus laut ini tidak hanya sebatas wilayah yang disebutkan di atas, tetapi juga ditemui di Selat Gibraltar maupun di sebelah timur Jepang.

 

  1. Air di Permukaan Bumi

Air sungai mengalir dari hulu menuju danau atau laut lepas. Sungai secara alamiah terbentuk oleh arus air dari sumber-sumber air di pegunungan atau ketika air hujan tak terserap oleh tanah. Di  mana ada pegunungan maka di situ pula ada sungai yang mengalirkan air di bagian bawahnya. Sungai itu mengalirkan air yang dalam perjalanannya menyediakan manfaat bagi berbagai makhluk, termasuk manusia. Penyebutan sungai dalam Alquran sering digandengkan dengan gunung-gunung, seperti dapat kita baca dalam ayat berikut.

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۝

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir (ar-Ra‘d/13: 3)

 

Kata anhār merupakan jamak dari kata nahr selalu ditemukan dalam bentuk jamak dan pada umumnya bertutur tentang sungai-sungai yang mengalir di surga. Beberapa ayat di antaranya menjelaskan tentang sungai-sungai yang kita kenai di Iingkungan kita. Menurut aI-Alūsī, kata nahr (dengan jamak anhār atau nuhūr) digunakan secara khusus untuk menunjukkan makna air yang mengalir di bumi (wa tuṭlaqu ‘alal-miyāh as-sā’ilah ‘alal  ar). Sungai yang mengalirkan air deras seringkali pada awalnya hanya bersumber dari mata air kecil di pegunungan lalu bertemu dari berbagai cabang aliran air menjadi besar mengalir sampai jauh, menghanyutkan apa saja yang ada di dalamnya. Di sela-sela batu pegunungan, di antara rerimbunan dedaunan dan pepohonan hijau, seringkali dijumpai mata air yang sangat jernih dan tidak atau belum terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia. Mata air yang muncul dari celah-celah bebatuan telah dinyatakan oleh Alquran, dalam Surah al-Baqarah/2: 74.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ۝

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 74).

 

Ayat ini berbicara tentang adanya manusia yang berhati keras bagai  batu, diberi nasihat atau tidak diberi nasihat sama saja tanpa bekas. Begitu kerasnya ia melebihi batu cadas, lalu Allah menceritakan bahwa sekeras-kerasnya batu ada di antaranya yang mengalirkan air dalam jumlah besar, bahkan dari celah-celahnya mengucur mata air yang jernih. Dari mata air ini mengalirlah sejumlah debit air yang diperlukan oleh makhluk hidup sepanjang alirannya hingga ke laut dan siap bersirkulasi ulang.

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ۝

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit maka mengalirlah ia (air) di lembah-Iembah menurut ukurannya maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 17)

 

Dengan adanya gaya gravitasi, air di permukaan tanah selalu bergerak  menuju tempat yang lebih rendah berupa air Iimpasan yang kemudian mengaliri saluran-saluran, parit-parit, dan sungai-sungai. Pada tempat-tempat yang dilaluinya aliran air akan mengangkut segala yang dapat diseretnya. Dengan demikian, air Iimpasan yang dihasilkan hujan pada dasarnya melakukan pencucian terhadap tempat-tempat yang dilaluinya. Meskipun pengangkutan kotoran itu terjadi selama pengaliran, sampai dengan batas-batas tertentu aliran air tersebut tidak akan jenuh dengan kotoran, dan akan terus mempunyai kemampuan untuk mencuci dan membersihkan, karena air yang mengalir memiliki daya pulih membersihkan dirinya sendiri (self purification) dari kotoran yang terlarut di dalamnya. Pencemar yang masuk ke dalam perairan, dalam batas-batas tertentu, pada suatu saat akan menghilang secara alami sehingga aliran air akan bersih (pulih) seperti sedia kala. Hanya saja, apabila jumlah pencemar yang masuk melebihi batas kemampuan alami untuk dibersihkan maka pencemar itu akan terakumulasi dan bisa mencemari air tanah.

Kemampuan aliran air sungai untuk memelihara atau mengembalikan aliran air pada kondisi yang tetap atau selalu kembali segar  (bersih) meski terdapat pencemar yang memasukinya, dikenal dengan istilah Daya Pulih Kembali (self purification). Proses ini berkaitan dengan proses-proses kimia, fisika, dan biologi yang terjadi pada suatu aliran air. Mekanisme utama yang menyebabkan proses pembersihan pada aliran ini adalah reaksi oksidasi yang terjadi antara oksigen yang terlarut di dalam air dengan senyawa terlarut lainnya yang menyebabkan terjadinya proses penguraian zat-zat pencemar secara kimia. Pada air yang mengalir, pasokan oksigen ke dalam air tidak pernah terhenti karena adanya riak, percikan, terjunan air, dan sebagainya, yang menyebabkan oksigen di dalam udara tercampur ke dalam air. Selama pasokan oksigen tidak terhenti maka penguraian zat-zat terlarut akan berlangsung terus-menerus, dengan dipercepat oleh aktivitas biota dan jasad renik air. Hasil akhir proses-proses penguraian ini sebagian besar akan berupa gas, dan sebagian lainnya yang memiliki berat jenis tinggi umumnya berbentuk padatan. Gas sebagai bagian yang ringan dari hasil proses penguraian tersebut akan mengapung di atas permukaan air membentuk buih-buih yang kemudian menguap. Sedangkan bagian hasil proses penguraian yang berat akan tenggelam dan mengendap. Dengan demikian aliran air semakin lama akan semakin bersih, walaupun tidak akan menjadi air murni tanpa zat terlarut.

Pengukuran Daya Pulih Kembali suatu aliran sungai biasanya menggunakan indikator tingkat kebersihan yang meliputi: Kemasaman (pH), Oksigen Terlarut (DO = Dissolved Oxygen), Kebutuhan oksigen Biologis (BOD = Biological Oxygen Demand), dan Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD = Chemical Oxygen Demand). Adanya mekanisme pemurnian dalam aliran air diisyaratkan di dalam Surah ar-Ra‘d/13: 17, dan Allah memakai mekanisme tersebut sebagai perumpamaan agar orang pandai menjaga sesuatu yang bermanfaat, yaitu yang hak (diibaratkan sebagai air bersih dan logam), dan melepaskan segala hal yang tidak bermanfaat, yaitu yang batil (diibaratkan dengan buih, baik yang terdapat pada aliran air maupun pada logam yang dilebur)

Secara fisik, aliran air mengakibatkan pula pengikisan tanah dan batuan pada tempat-tempat yang dilaluinya. Proses pengikisan ini dikenal dengan istilah erosi. Hasil erosi yang terangkut aliran air ini pada suatu saat akan diendapkan di tempat ketika kecepatan arus melemah atau terhenti. Proses pengendapan ini biasa disebut proses sedimentasi. Proses erosi dan sedimentasi yang berjalan terus-menerus sepanjang sejarah bumi telah membentuk rupa permukaan bumi yang sekarang  kita lihat. Lereng gunung berjurang-jurang di antaranya terjadi karena torehan aliran sungai, demikian pula lembah-Iembah terjadi karena proses pengikisan terus-menerus dataran oleh aliran sungai. Oleh karena itu, besar dan dalamnya suatu lembah yang terbentuk ditentukan oleh besarnya aliran air yang melaluinya serta lamanya lembah itu dilalui sungai. Adapun dataran yang rata terjadi karena proses sedimentasi. Semua pengaruh iklim dan pergerakan air yang menyebabkan terjadinya dinamika di permukaan bumi, dalam ilmu geologi di kelompokkan menjadi energi eksogen. Di dalam Alquran, bekerjanya gaya eksogen di atas permukaan bumi tergambar di antaranya pada ayat berikut.

أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ۝

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 17) 

 

Terjadinya erosi di berbagai wilayah di bumi pada umumnya karena ulah manusia yang menebangi pohon (illegal logging), membabat hutan, membakar semak-semak, yang membuat serapan-serapan dan kantong-kantong air menjadi tidak lagi berfungsi seperti sedia kala. Allah telah menegaskan bahwa banyaknya kerusakan di darat dan di laut diakibatkan oleh perbuatan manusia, seperti dapat dibaca dalam Surah ar-Rūm/30: 41.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 41)  

 

  1. Air di Dalam Bumi

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ۝

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkanNya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderaiderai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (Alquran, Surah az-Zumar/39: 21) 

 

Setelah jatuh di bumi, air hujan akan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menguap kembali  karena pemanasan; bagian kedua mengalir di permukaan sebagai air sungai atau menggenang di danau, kolam, sawah, atau cekungan tanah; dan bagian ketiga meresap ke dalam tanah. Sebagian dari yang meresap ke dalam tanah akan tetap tertahan di dalam tanah sebagai kelembapan tanah atau mengalir ke dalam lapisan batuan yang lebih dalam dan tersimpan sebagai air tanah dalam.

Di daerah hilir yang lebih rendah, air tahah dalam ini akan keluar kembali sebagai mata air di hulu-hulu sungai atau pada tebing-tebing yang tertoreh. Apabila air tanah ini mendapat tekanan yang cukup kuat, mata air bahkan dapat menyembur ke atas sebagai mata air artesis.

وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ۝

Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan (Alquran, Surah al-Qamar/ 54: 12).

 

Air di dalam bumi, dinamai air tanah, secara umum dapat dibedakan dua bagian. Pertama disebut air tanah dangkal, menempati bagian dekat permukaan, termasuk di dalamnya kelembapan tanah dan air tanah dangkal atau air sumur. Kedua biasa disebut air tanah dalam yang diistilahkan untuk air di dalam bebatuan atau air yang terletak pada kedalaman lebih dari 50 meter. Di dalam tanah maupun di dalam batuan, air menempati ruang antarbutir atau kesarangan media yang dikenal pula dengan nama ruang pori-pori. Umumnya terdapat hubungan antara satu ruang pori dengan pori lainnya yang memungkinkan air bergerak di antara butiran sehingga membentuk aliran air tanah. Sekeras-kerasnya batu memiliki ruang pori, dan ini dijadikan perumpamaan dalam Alquran.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ۝

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 74) 

 

Pada bagian permukaan tanah, kesarangan ini berhubungan pula secara langsung dengan udara bebas sehingga memungkinkan pertukaran udara dan air antara bagian-bagian di atas dan di bawah permukaan tanah. Melalui hubungan kesarangan ini pula terjadi proses-proses penguapan air ke udara dan imbuhan air permukaan ke dalam tanah, yang menjadi pasokan awal air tanah.

Pada lapisan tanah atau batuan di sekitar permukaan peran air yang dikandungnya, baik sebagai air tanah maupun sebagai kelembapan, amat penting bagi kehidupan dan pertumbuhan tanaman. Proses masuknya air tanah ke dalam akar tumbuhan berjalan melalui proses osmosis. Proses osmosis merupakan salah satu proses pergerakan air dari satu sel ke sel lainnya yang bersebelahan, dari mulai air dalam tanah, ke dalam akar, ke dalam batang, daun atau bunga dan buah sampai akhirnya menguap ke udara. Proses penguapan air di daun melalui stomata, dikenal dengan istilah transpirasi, menyebabkan air di dalam sel berkurang dan larutan di dalam sel menjadi pekat. Kepekatan larutan di dalam sel tersebut melebihi kepekatan sel tetangganya yang letaknya lebih jauh dari stomata.  Dinding sel adalah membran semi permeabel yang dapat melalukan air dan ion-ion/molekul tertentu yang ukurannya memadai atau muatan Iistrik yang berlawanan, tapi tidak zat atau molekul-molekul terlarut lainnya yang berukuran lebih besar atau bermuatan sama. Pada dinding sel inilah berlangsung proses osmosis, seperti telah pula diuraikan terlebih dahulu. Dengan adanya proses osmosis berantai dan transpirasi yang terus menerus maka larutan di dalam sel-sel tumbuhan menjadi lebih pekat, termasuk dalam sel-sel akar sehingga air tanah pun mengalir ke dalam akar dengan mengangkut ion-ion yang terlarut di dalam air tanah sebagai hara (nutrisi atau makanan) bagi tanaman.

Fenomena di atas menerangkan bahwa tanah tidak akan berfungsi apa pun untuk tumbuh-tumbuhan tanpa adanya air. Dan sumber air tanah adalah air hujan (atau salju yang mencair) yang diturunkan dari langit. Berulang kali Alquran menyatakan fenomena ini dalam ayat-ayatnya, antara lain:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً ۗ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ۝

Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit  sehingga bumi menjadi hijau? Sungguh, Allah Mahahalus, Maha Mengetahui (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 63).

 

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ۝ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ۝ رِّزْقًا لِّلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ۝

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur) (Alquran, Surah Qāf/50: 9-11).

 

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ۝

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) (Alquran, Surah an-Naml/27: 60)

 

Sementara itu, air di dalam pori-pori tanah tertahan dengan besar  gaya yang berbeda. Semakin kecil ukuran pori, semakin kuat air tertahan di dalamnya. Pada pori-pori yang tidak jenuh, semakin tipis lapisan air menyelimuti butiran, semakin kuat air tertahan. Namun terdapat sejumlah air di dalam tanah yang tidak dapat tercuci ke dalam lapisan di bawahnya karena tertahan oleh pori-pori kapiler. Air ini hanya bisa diambil dari pori-pori oleh pemanasan (penguapan) atau oleh isapan osmotis akar. Besarnya konsentrasi garam di dalam tanah menyebabkan air sulit diserap akar karena tekanan osmotiknya sama atau bahkan lebih besar daripada tekanan osmotik akar. Oleh karena itu, kekeringan bisa disebabkan oleh kurangnya air atau tingginya kegaraman air tanah.

Pori-pori tanah atau batuan di dekat permukaan, terutama pada dataran tinggi atau lahan-Iahan miring, umumnya tidak dijenuhi air. Batas antara bagian tanah yang tidak jenuh dan jenuh air adalah permukaan air tanah atau permukaan air sumur pada lubang-lubang sumur yang digali. Posisi muka air tanah ini umumnya sejajar atau mengikuti bentuk permukaan tanah. Oleh karena itu, gunung-gunung atau tanah tinggian, terutama di daerah beriklim basah, sebenarnya merupakan menara  air bagi tempat-tempat yang lebih rendah karena menyimpan air pada pori-porinya. Air yang terdapat di sekitar muka air tanah yang miring umumnya selalu bergerak ke tempat yang lebih rendah dengan kecepatan yang jauh lebih rendah daripada air permukaan, ditentukan oleh permeabilitas tanah atau batuan. Pada bidang perpotongan antara muka air dan permukaan tanah, umumnya terletak pada tekuk lereng atau kaki lereng atau lereng yang tertoreh, air keluar berupa mata air-mata air dan kemudian mengalir berupa air sungai atau mengumpul sebagai air danau. Keadaan tersebut diuraikan dalam Surah an-Naml/27: 61.

أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ۝

Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui (Alquran, Surah an-Naml/27: 61)

 

Dilihat dari kesinambungan aliran air, gunung dan sungai, sesungguhnya merupakan pasangan karena adanya gunung sebagai penampung air hujan yang melepasnya sedikit demi sedikit, luah aliran air sungai dapat berkelanjutan, selama proses pengimbuhan air hujan ke dalam tanah di daerah gunung tidak mendapat hambatan yang berarti. Dalam hal ini fungsi gunung adalah untuk mengokohkan (aliran) sungai.

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ۝

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungaisungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasangpasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 3)

 

Air tanah, khususnya air tanah dalam pada umumnya memiliki kualitas yang baik; bersih dan tawar, tetapi mengandung cukup unsur mineral yang terlarut. Oleh karena itu, umumnya orang lebih suka mengambil air sumur daripada mengkonsumsi air permukaan, terutama di daerah di mana aliran air permukaannya sudah banyak dipergunakan.

 

  1. Air di Atmosfer

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ۝

Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira (Alquran, Surah ar-Rūm/30:48)

 

Air di atmosfer dijumpai dalam bentuk gas (uap) sebagai hasil penguapan air di permukaan laut serta genangan atau aliran air di permukaan daratan yang terpanaskan oleh sinar matahari dan dari transpirasi tumbuhan. Kandungan uap air di atmosfer didefinisikan sebagai kelembapan udara yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Proses penguapan air ke udara pada dasarnya merupakan proses pendinginan, karena untuk menguapkan air (atau es) diperlukan sejumlah energi. Sebaliknya pada udara yang cukup dingin, uap air akan terkondensasi menjadi butiran air (atau langsung membeku menjadi salju atau es)  dan apabila sudah cukup berat akan jatuh (presipitasi) menjadi hujan (atau hujan salju, hujan es). Di lain pihak, perbedaan suhu mengakibatkan perbedaan tekanan dan pergerakan udara. Udara yang lebih dingin dan lembap akan mempunyai tekanan yang lebih tinggi dan akan bergerak ke tempat yang bertekanan rendah yang umumnya bersuhu lebih tinggi. Sifat umum lainnya adalah bahwa semakin tinggi (jauh dari permukaan bumi) udara semakin jarang dan tekanannya semakin rendah. Karena itu, pemanasan udara akan menyebabkan pemuaian dan udara akan bergerak ke atas sehingga udara di tempat yang kena panas bertekanan rendah. Pada lapisan atmosfer yang paling bawah (Troposfer, ketinggian di bawah 17 km) suhu udara berkurang dengan ketinggian. Maka dengan naiknya udara, terjadi pendinginan pada massa udara yang bergerak tersebut. Secara umum, perbedaan suhu dan tekanan udara menjadi faktor utama yang mengendalikan kandungan uap air di udara yang juga selalu bergerak sebagai embusan angin.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ۝

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 57)

 

Kandungan uap air yang cukup tinggi di udara akan tampak sebagai awan (atau kabut). Tidak semua awan yang terbentuk akan menjadi hujan.Awan-awan yang tipis seperti awan cirrus, seringkali hilang karena uap yang terakumulasi bergerak terpencar lagi oleh embusan angin atau pemanasan yang lebih kuat. Awan yang hampir dipastikan akan turun menjadi hujan adalah awan tebal yang bergumpal-gumpal dan menumpuk sangat tinggi, dikenal dengan nama awan cumulonimbus. Alquran menyatakan tentang awan ini berkali-kali, di antaranya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِن بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَن مَّن يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ۝

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendak; dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan (Alquran, Surah an-Nūr/24: 43)

 

Adanya pergerakan massa udara pada suatu tempat dengan kecepatan berbeda menyebabkan adanya gesekan-gesekan antarmassa udara yang memiliki tekanan dan suhu berbeda. Gesekan- gesekan pada batas massa udara yang berbeda ini menghasilkan muatan listrik yang semakin lama semakin tinggi tegangannya antara satu massa dengan yang lainnya. Pada tegangan tertentu, perbedaan muatan ini akan menghasilkan lompatan muatan Iistrik yang disertai dengan suara ledakan atau gemuruh yang kita kenai dengan halilintar atau guruh. Halilintar sering kita dapati pada gumpalan-gumpalan awan tebal yang bergerak dengan cepat. Seringkali sambaran halilintar ini  mencapai bumi dan menimbulkan kerusakan berupa kebakaran atau bahkan kematian hewan atau manusia. Karenanya, apabila guntur dan halilintar mulai terdengar, tidak sedikit orang yang merasa ketakutan. Allah dalam hal ini berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 24)

 

Proses peguapan air di alam dan kondensasi uap menjadi hujan pada dasarnya adalah proses pemurnian air, seperti halnya proses destilasi air di laboratorium. Uap adalah molekul-molekul air yang berubah fasa menjadi gas. Ketika menguap itulah molekul air terbang meninggalkan bahan-bahan terlarutnya. Meskipun di antara bahan terlarut tersebut terdapat gas (misalnya CO2, NOx atau metan) atau zat yang juga dapat berubah fasa menjadi gas (misalnya khlor), penguapan akan memisahkan air dari pengotornya. Oleh karena itu air hujan pada dasarnya adalah air murni.

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا۝

Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih (Alquran, Surah al-Furqān/25: 48).

 

Tetapi di masa kini banyak terjadi hujan yang jatuh di lingkungan yang udaranya sudah tercemar. Air hujan yang demikian ini membawa serta gas-gas pengotor udara (umumnya sulfur) yang terlarut di dalam air hujan. Fenomena ini dikenal sebagai hujan asam yang kini menimbulkan masalah serius di daerah industri berat, terutama yang memakai batu bara sebagai sumber energi.

Sejatinya, Allah telah menciptakan air hujan dalam keadaan bersih untuk berbagai keperluan makhluk dan menyuburkan tanah yang tandus. Akan tetapi ulah sebagian manusialah yang mengakibatkan air yang tadinya murni dan bersih menjadi terkontaminasi. Adakalanya perbuatan itu tidak disadari dampak negatifnya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan adakalanya sangat disadari, meski kesadaran itu kalah oleh ketamakan. Manusia tak lagi peduli akan keberlangsungan hidup makhluk di alam yang menjadi milik bersama, termasuk milik generasi-generasi yang akan datang. Peringatan ini telah difirmankan oleh Allah untuk kita  perhatikan, betapa tangan-tangan manusia seringkali menyebabkan malapetaka lingkungan hidup yang sangat serius. Allah berfirman dalam Surah ar-Rūm/30: 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (ar-Rūm/30: 41).

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu