PENYELENGGARAAN PENGAJARAN: MENGAJAR BERSAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS/INKLUSI DALAM PELAJARAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Susan Gleason, Melissa Fennemore, dan Kathryn Scantlebury

Sue guru kimia SMU yang sudah berpengalaman, sedang berdiri di depan kelas, mengajarkan ikatan kimia kepada murid-murid sophomore persiapan kuliah/inklusi. Pelajaran tidak berlangsung mulus. Topik pelajarannya sulit, perhatian siswa mudah teralihkan. Melissa, seorang guru sains inklusi kelas dua, mulai menangkap kebingungan siswa. Melissa pindah ke depan kelas, menerangkan sebuah analogi yang bersifat memperjelas topik, kemudian memimpin kembali pelajaran. Tanpa ribut-ribut, Sue mengambil alih peran Melissa bekerja dengan murid-murid secara perorangan. Kedua guru itu sedang mengajar bersama-sama.

Pada hari lain, rencana pelajaran mengharuskan Sue menyelesaikan pengajaran struktur atom. Dua siswa yang sebelumnya absen beberapa hari belum mengerti bahan pelajaran itu. Seorang siswa lain sudah mengacungkan tangan ke udara. Ketika Sue mulai mengajarkan struktur atom, Melissa mengajak kedua siswa yang baru saja masuk kembali itu ke belakang kelas untuk menerangkan kembali bahan pelajaran yang belum mereka mengerti. Sue dan Melissa sedang mengajar bersama-sama.

(more…)

Continue Reading

MENGONSEP PENGETAHUAN TENTANG KELISTRIKAN, MOTOR, DAN MAGNET DI LUAR KOTAK

Serial Pembelajaran Sains: Judith A McGonigal

Sains di sekolah dasar kini didefinisikan oleh budaya standar. Lingkup dan urutan pelajaran sains tidak dikendalikan oleh pertanyaan atau minat siswa, atau antusiasme atau kepakaran seorang guru. Alih-alih, setiap keputusan berfokus pada menyelaraskan kurikulum sains sekolah dasar di sebuah kelas dengan standar negara bagian dan standar nasional.

Salah satu konsekuensi fokus seperti itu ialah pelajaran sains yang sudah dipaket dengan selengkapnya. Seorang guru sudah diperlengkapi dengan buku pegangan untuk enam belas bahan ajar, ditambah seperangkat bahan pendukung untuk setiap pelajaran. Semua pelajaran dalam satu kotak itu dirancang untuk membantu distrik sekolah memenuhi standar negara bagian dan standar nasional. Meskipun demikian, semua itu tidak selalu mendukung -dan dalam beberapa keadaan malah melemahkan-pembelajaran sains. Refleksi pribadi tentang pengajaran sains di sekolah dasar mengidentifikasi kemungkinan bibit-bibit masalah dalam penggunaan pelajaran yang sudah diatur sebelumnya dan menggambarkan bagaimana guru dapat “berpikir di luar kotak” untuk memaksimalkan pembelajaran siswa.

(more…)

Continue Reading

GURU SEBAGAI PENELITI

Serial Pembelajaran Sains: Sonya N. Martin

Partisipasi guru dalam penelitian kependidikan kini bukan hal baru lagi. Meskipun demikian, dalam bekerja sama dengan para peneliti, pada umumnya guru hanya memegang peranan pasif. Aktivitas seperti mengamati, menguji, dan melaksanakan prakarsa-prakarsa kependidikan yang dikembangkan oleh pihak luar sering diserahkan kepada mereka oleh pengelola dan pengambil kebijakan. Selama ini guru jarang diberi dukungan agar melakukan penyelidikan mengenai persoalan-persoalan yang mereka temukan terkait praktik mereka atau praktik siswa-siswa mereka. Melibatkan siswa sebagai anggota aktif dalam penelitian di dalam kelas bahkan lebih jarang lagi dilakukan. Ketika penelitian kependidikan mulai dikecam karena tidak memiliki hubungan yang relevan dengan situasi di dalam kelas dan tidak mampu membawakan perubahan yang efektif, pemberian sarana bagi guru dan siswa guna melakukan penelitian terhadap praktik mereka sendiri di dalam kelas relatif baru. Bab ini akan memberikan wawasan tentang sebuah proses yang berhasil membawa penelitian langsung ke dalam ruang kelas saya sehingga memungkinkan saya menciptakan perubahan-perubahan dalam pengajaran saya sambil meluaskan peluang-peluang belajar bagi siswa-siswa saya. (more…)

Continue Reading

MERAKIT ROVER SEBAGAI JEMBATAN BAGI GAP PENCAPAIAN PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA DI SEKOLAH DAN DI RUMA

Serial Pembelajaran Sains: Alberto J. Rodriguez

ROVER KAMI YANG PERTAMA

Sudah dua jam berlalu, rover kami belum juga selesai dirakit. Selum pernah saya lihat anak-anak kami, seorang perempuan dan seorang laki-Iaki, begitu asyik dalam mengerjakan sesuatu. Rover kami memiliki lengan-Iengan untuk memegang barang dan motor kecil yang kelihatan seperti unit pendingin ruangan kecil mungil sebagai penggerak. Dua motor lain menghasilkan daya untuk roda-roda belakang. Bagian dasarnya berisi kapsul dengan astronot mainan. Walaupun geraknya pelan, senyum anak-anak merekah lebar ketika melihat produk laboratorium mereka menjadi hidup-bersuara, bergerak, dan mengambil benda-benda. Tentu secara bergantian anak-anak mengamati kalau-kalau lengan-Iengan rover bisa dimanipulasi agar jari-jemarinya saling mencubit. Jelas itu bukan misi NASA yang paling utama, tetapi sudah tentu anak-anak menjadi tertawa karenanya dan menikmati kreasi mereka. Saya menjadi tahu, berkat mainan itu, akan ada lebih banyak waktu untuk bersenang-senang bersama sekaligus lebih banyak kesempatan bagi imajinasi dan kreativitas anak-anak saya untuk bisa terbang.

 

Sudah dua belas tahun berselang ketika saya membelikan anak-anak perangkat Robotix untuk pertama kalinya. Perangkat Robotix adalah perangkat perakitan robot berisi banyak bagian dan engsel yang harus dihubungkan, seperangkat roda, motor, kabel, dan unit kontrol yang bertenaga baterai (Robotics and Things, tanpa tanggal: silakan kunjungi www. roboticsandthings. com)! Kini anak laki-laki saya sudah hampir lulus dari Universitas Vanderbilt dengan gelar di bidang kimia, dan anak perempuan saya sedang menyelesaikan tahun pertamanya di program studi biologi pada San Diego State University. Saya sendiri mulai lagi merakit robot-robotan. Namun, kali ini, saya merakitnya bersama anak-anak sekolah dari kelas 4-6 sebagai bagian dan proyek penelitian kami. Sebagai seorang dosen pada pendidikan sains, saya berkomitmen menyelidiki cara menjadikan pendidikan lebih berpusat kepada siswa, lebih setara, dan lebih relevan secara sosial, dan budaya dengan semua anak. (more…)

Continue Reading

MEMAHAMI KEAGENAN DALAM PENDIDIKAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Angela Calabrese Barton dan Purvi Vora

PENGANTAR: KISAH KOBE

Tujuh tahun lampau, saya mulai mengenal Kobe, laki-laki 16 tahun, warga Amerika keturunan Afrika, melalui sebuah program usai sekolah tempat anak-anak muda belajar sains dengan mengubah sebuah kota yang ditinggalkan orang menjadi taman urban.

Kobe sudah lama hidup di penampungan tunawisma bersama ibu dan adik-adik kandungnya di New York City. Kisah Kobe menarik karena tergantung pada aspek mana yang Anda telaah dari kehidupan Kobe, Anda akan melihat orang yang berbeda. Jika Anda lihat Kobe dari bahasa standar sekolah, Anda akan melihat seorang pemuda yang gagal dalam sains (dan pelajaran-pelajaran lain), lebih berminat kepada olahraga dan geng daripada urusan akademis) dan pada akhirnya putus sekolah. Meski mengungkapkan hasrat yang sungguh-sungguh akan suatu hari kelak menjadi “kaya” dan berhasil masuk NBA atau NFL, Kobe tidak bisa berpartisipasi dalam tim olahraga sekolah karena nilai-nilainya yang rendah. Jika Anda lihat Kobe dari kacamata saat kami mengenalnya, Anda akan bertemu anak muda yang tengah berjuang membantu keluarganya untuk bertahan hidup, bersikap kritis terhadap upaya-upaya luar untuk “membantu” komunitasnya dengan cara-cara yang tidak memperhatikan realitas komunitasnya, dan ikut serta dalam sains yang mau menghargai identitas dan konteksnya. Selama ibunya tidak ada, Kobe menjadi pengasuh utama adik-adiknya. Tanggung jawab itulah yang membuatnya kerap mangkir dari sekolah. Kobe menjunjung tinggi afiliasi dengan gengnya karena geng itu menawarkan dukungan finansial dan kebersamaan, dua hal yang tidak diperolehnya di sekolah. (more…)

Continue Reading

KEMISKINAN DAN PENDIDIKAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Rowhea Elmesky

PENDIDIKAN SAINS UNTUK SEMUA: SEBUAH HAK SIPIL

William Tate pada 2001 menyatakan bahwa menerima pendidikan sains yang setara dan memberdayakan selama masa sekolah K-12 merupakan hak sipil atau hak dasar warga negara bagi semua anak. Keadaan pencapaian sains negara bagian saat itu yang diperiksa lintas jalur ras dan sosioekonomi mengungkap bahwa hak tersebut belum diwujudkan secara nyata bagi anak-anak kulit berwarna, terutama anak-anak yang hidupnya dalam kondisi kemiskinan. Contoh, dalam menelaah Nation’s Report Card untuk sains pada 2000 (U. S. Department of Education, 2000), kebutuhan akan akselerasi belajar melintas jalur ras dan kemiskinan disebutkan dengan sangat jelas. Dalam tingkat kelas empat, delapan, dan dua belas, 66 persen warga kulit hitam, 58 persen Hispanik, dan 43 persen penduduk asli Amerika (Native American) tergolong di bawah tingkat pencapaian dasar dalam mata pelajaran sains. Ketika dipelajari bersama-sama dengan tingkat-tingkat sosioekonomi, angka-angka sains di antara ketiga tingkat kelas tersebut juga lebih rendah untuk siswa-siswa yang memenuhi syarat mendapatkan layanan makan siang gratis dan murah. (more…)

Continue Reading
Close Menu