CATATAN TENTANG EVOLUSI

CATATAN TENTANG EVOLUSI

Serial Quran dan Sains

Masyarakat awam seringkali rancu dalam memahami definisi yang benar tentang evolusi biologi. Kerancuan ini sebagian besar timbul akibat ketidakmampuan para ahli evolusi biologi itu sendiri untuk mengkomunikasikan ilmu yang ditekuninya kepada masyarakat. Tidak terbatas pada masyarakat awam belaka, kebingungan ini juga terjadi di antara para ahli karena tidak ada kesepakatan tentang arti dari evolusi itu sendiri di antara mereka.

Dalam mendiskusikan evolusi, kita perlu membedakan antara terjadinya evolusi di alam dan berbagai teori mengenai mekanisme terjadinya evolusi. Pada dasarnya, pengertian tentang evolusi biologi adalah: “perubahan pada sifat-sifat yang terwariskan oleh suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya.”

Secara luas, evolusi hanyalah suatu ilmu yang mempelajari suatu perubahan, sebagaimana juga terjadi evolusi atau perubahan pada alam semesta, ilmu bahasa, atau sistem politik. Dengan demikian, evolusi biologi adalah suatu perubahan dari properti yang dimiliki oleh populasi atau kelompok organisme tertentu yang diturunkan kepada semua individu selama hidupnya. Apabila perubahan macam ini terjadi pada satu individu saja maka hal tersebut tidak dinamakan evolusi. Jadi, individu tidak berevolusi. Perubahan yang ada dalam tingkat populasi dinamakan evolusi bila sifat-sifat yang terjadi itu diturunkan melalui material genetika dari satu generasi ke generasi berikutnya. Evolusi biologi dapat terjadi dalam tataran parsial maupun menyeluruh, mulai dari perubahan kecil dari bagian genetika yang mengatur, misalnya tipe darah, hingga perubahan besar yang menyebabkan organisme bersel tunggal berubah menjadi cacing, keong, banteng, atau bunga anggrek.

Dengan demikian, evolusi biologi berbicara pada tataran populasi dan bukannya individu. Selain itu, perubahan yang terjadi harus pula diturunkan kepada generasi berikutnya. Dalam praktiknya, evolusi adalah suatu proses yang menghasilkan perubahan yang diturunkan dalam beberapa generasi.

Definisi ilmiah yang demikian ini cukup bagus untuk memetakan perbedaan antara perubahan yang evolusioner dan perubahan yang tidak dapat disebut sebagai evolusi. Seorang ilmuwan akan menyatakan bahwa ia sedang melihat fenomena evolusi karena ada bukti tentang terjadinya perubahan dalam frekuensi gen dalam tingkat populasi. Seringkali, peneliti akan melihat dari penampakan perawakan yang berubah dan diturunkan kepada generasi selanjutnya karena perubahan frekuensi dalam tingkat gen akan diekspresikan dalam bentuk dan ukuran fisik.

Definisi demikian ini berbeda sekali dengan apa yang ada di dalam buku-buku umum. Pada beberapa kamus umum, evolusi dinyatakan sebagai: “Suatu proses perubahan yang terjadi secara perlahan, ketika binatang dan tumbuhan yang ada saat ini merupakan kepanjangan dari binatang dan tumbuhan yang lebih primitif dan hidup di masa lalu yang dipercaya prosesnya berlangsung terus-menerus selama 3 miliar tahun.” Kalimat “proses perubahan yang terjadi secara perlahan” sangat tidak relevan dimasukkan dalam definisi evolusi. Kalimat ini lebih tepat masuk dalam penjelasan mengenai sejarah dalam evolusi daripada menjadi bagian dari evolusi itu sendiri. Definisi demikian makin memicu kerancuan dan perdebatan panjang, karena sulit untuk membedakan yang mana evolusi dan mana yang bukan evolusi. Misalnya, pertanyaan apakah orang berkulit putih yang semakin bertambah tinggi dalam sekian ratus tahun adalah evolusi; apakah perubahan warna sayap suatu populasi ngengat, sejenis kupu, adalah contoh dari kejadian evolusi.

Evolusi dapat hadir dalam formasi perubahan bentuk luar binatang atau tumbuhan. Akan tetapi, perubahan yang terjadi pada binatang atau tumbuhan dapat saja terjadi tanpa campur tangan evolusi. Manusia relatif jauh lebih tinggi dan besar badannya saat ini disebabkan meningkatnya mutu makanan yang dikonsumsi manusia, bukan karena proses evolusi, karena ukuran badan itu tidak diturunkan ke generasi selanjutnya.

Evolusi bukanlah kemajuan. Populasi sebetulnya hanya sekadar beradaptasi dengan lingkungannya. Suatu jenis tidak selalu menjadi lebih baik dengan berjalannya waktu. Bisa saja strategi yang dilakukan untuk satu satuan waktu, dan berakhir menguntungkan, menjadi tidak menguntungkan lagi di lain waktu.

Organisme bukanlah target yang pasif dari lingkungannya. Setiap jenis mengubah lingkungan sekitarnya agar menguntungkan bagi kelompoknya. Evolusi memerlukan adanya variasi genetika. Terjadinya seleksi alam sangat bergantung pada ketersediaan variasi genetika ini. Agar evolusi berlanjut, harus ada mekanisme untuk terus meningkatkan atau mengurangi variasi genetika. Mekanisme untuk hal ini berarti mutasi, seleksi alam, aliran genetika (genetic flow), rekombinasi, dan genetic drift.

Definisi evolusi juga tercantum di berbagai kamus yang lebih bersifat umum. Akan tetapi, apa yang tercantum di dalamnya seringkali jauh lebih melenceng. Misalnya, disebutkan bahwa evolusi adalah: “suatu hukum dimana organisme yang dalam bentuk lebih tinggi datang dari organisme yang lebih sederhana.” Berdasarkan definisi ini, orang membayangkan bahwa evolusi seperti tangga kayu, bagian atasnya merupakan kelanjutan dari bagian di bawahnya. Begitu pula kamus lain yang mendefinisikan evolusi sebagai: “perkembangan dari jenis, organisme, atau suatu organ yang berkembang dari suatu keadaan yang primitif di masa lalu, menjadi sesuatu yang lebih maju dan memiliki fungsi yang lebih spesial.”

Definisi yang demikian ini tidak bisa dikatakan benar. Sayangnya, banyak masyarakat awam menggeluti diskusi tentang evolusi berbekal definisi macam ini. Hal ini tidak bisa tidak menimbulkan perdebatan sia-sia karena masyarakat awam dan peneliti berdiskusi memakai dasar dan perspektif yang berlainan. Jadi, bila seseorang menyatakan ketidakpercayaannya pada evolusi, kita harus meneliti terlebih dulu perspektif dan dasar yang mana yang digunakannya untuk menolak evolusi itu.

Seringkali para peneliti dituduh tidak jujur dan tidak memberikan keterangan yang benar ketika berbicara tentang evolusi. Bahkan, konon seseorang tidak akan dapat mendalami evolusi sekaligus menjadi pemeluk agama yang baik. Akan tetapi, apabila dipahami bahwa evolusi tidak lebih dari suatu proses yang berujung pada terjadinya perubahan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, maka agak aneh bila ilmu ini dikesankan berlawanan dengan agama.

Pada abad 19, utamanya sejak The Origin of Species Darwin diterbitkan, pemikiran tentang evolusi kehidupan menghadapi banyak kritikan dan menjadi tema kontroversial. Meski demikian, kontroversi ini pada umumnya bukannya berkisar pada kadar kebenaran teori ini, melainkan pada implikasinya terhadap ranah filsafat, sosial, dan agama. Dalam komunitas ilmuwan, fakta bahwa organisme berevolusi telah diterima secara luas dan tidak mendapat tentangan, meski ia sendiri masih menjadi konsep yang diperdebatkan oleh beberapa kalangan agamawan.

Manakala berbagai kelompok agamawan berusaha menyambungkan ajaran mereka dengan teori evolusi melalui konsep evolusi teistik, masih banyak pula yang percaya bahwa evolusi dan mitos penciptaan yang ada pada ajaran agama mereka adalah dua hal yang kontradiktif. Seperti diprediksi sebelumnya oleh Darwin sendiri, implikasi yang paling kontroversial adalah asal-usul manusia. Di beberapa negara, terutama Amerika, pertentangan antara agama dan sains telah mendorong kontroversi “penciptaan versus evolusi”; suatu konflik keagamaan yang berfokus pada politik dan pendidikan. Manakala bidang-bidang sains lainnya seperti kosmologi dan ilmu bumi juga bertentangan dengan interpretasi literal banyak teks keagamaan, biologi evolusioner mendapat oposisi yang lebih signifikan.

Beberapa contoh kontroversi tak beralasan yang diasosiasikan dengan teori evolusi adalah Sosial Darwinisme, julukan yang disandangkan kepada teori Malthusianisme Herbert Spencer tentang “sintasan yang terbugar” (survival of the fittest) dalam masyarakat, dan oleh lainnya mengklaim bahwa kesenjangan sosial, rasisme, dan imperialisme oleh karena itu dibenarkan. Namun, pemikiran-pemikiran ini kontradiktif dengan pandangan Darwin itu sendiri, dan ilmuwan bersama filosof kontemporer menganggap pemikiran ini bukanlah amanat dari teori evolusi, alih-alih didukung oleh data yang valid.

Aplikasi utama ilmu evolusi pada bidang teknologi adalah seleksi buatan, yakni seleksi terhadap sifat-sifat tertentu pada sebuah populasi organisme yang disengajakan. Manusia selama beberapa ribu tahun telah menggunakan seleksi buatan pada domestikasi tumbuhan dan hewan. Baru-baru ini, seleksi buatan telah menjadi bagian penting dalam rekayasa genetika, dengan penanda terseleksi seperti gen resistensi antibiotik digunakan untuk memanipulasi DNA pada biologi molekuler.

Karena evolusi dapat menghasilkan proses dan jaringan yang sangat optimal, ia memiliki banyak aplikasi pada ilmu komputer. Pada ilmu komputer, simulasi evolusi yang menggunakan algoritma evolusi dan kehidupan buatan dimulai oleh Nils Aall Barricelli pada 1960-an, dan kemudian diperluas oleh Alex Fraser yang mempublikasikan berbagai karya ilmiahnya tentang simulasi seleksi buatan. Seleksi buatan menjadi metode optimalisasi yang dikenal luas berkat kerja keras Ingo Rechenberg pada 1960-an dan awal 1970an, yang menggunakan strategi evolusi untuk menyelesaikan masalah teknik yang kompleks. Algoritma genetika bertambah populer di tangan John Holland. Seiring meningkatnya ketertarikan kalangan akademis, peningkatan kinerja komputer mengijinkan aplikasi yang praktis, meliputi evolusi otomatis program komputer. Algoritma evolusi sekarang ini digunakan untuk menyelesaikan masalah multidimensi. Penyelesaian memakai metode algoritma lebih efisien daripada menggunakan piranti lunak yang diproduksi oleh manusia. Selain itu, ia juga digunakan untuk mengoptimalkan desain sebuah sistem.

Leave a Reply

Close Menu