BUKTI EVOLUSI DAN REKAM FOSIL

BUKTI EVOLUSI DAN REKAM FOSIL

Pertama dan paling utama, perlu dibedakan antara evolusi sebagai sebuah fakta yang bisa disimpulkan dari beberapa observasi alam dan eksprimen biologi dengan evolusi sebagai sebuah teori yang bagian-bagian di dalamnya jauh lebih kuat dibandingkan teori-teori lain. Penting sekali bagi Muslim maupun non-Muslim untuk memahami perbedaan mendasar ini. Inilah alasan mengapa saya mengkhususkan bagian tulisan ini untuk menyajikan banyak sekali bukti yang mendukung evolusi sebagai sebuah fakta alam. Pada tulisan selanjutnya, saya akan meringkas teori evolusi dan memaparkan versi standar ala Darwin yang barangkali menjadi biang percekcokan antara filsafat umum -terutama dalil-dalilnya yang naturalistis dan tanpa tujuan- dan pandangan hidup Islam. Setelah itu, barulah saya akan menjelaskan versi-versi non-Darwin yang kurang dikenal (dan kurang diterima luas) yang jauh lebih bersahabat dengan pandangan hidup teistik seperti Islam.

 

REKAM FOSIL

Ketika binatang atau tetumbuhan mati, sisa-sisa jasadnya biasanya hancur luluh atau dimakan binatang, khususnya burung pemakan bangkai. Akan tetapi, terkadang pula, sisa-sisa jasad itu terkubur di lumpur atau bebatuan lunak, sehingga bila dirembesi garam mineral, maka tulang atau bagian lain dari jasad makhluk yang mati itu akan mengeras dan awet dalam bentuk fosil selama periode waktu yang lama. Jasad bisa juga tetap utuh apabila terkubur di lapisan es, damar kayu (batu ambar), ter, dan lingkungan-lingkungan lain semacam itu. Karena itulah di padang tandus, hal yang paling banyak ditemukan para ahli paleontologi adalah tulang atau serpihan tengkorak, sedangkan dalam lapisan es terkadang ditemukan bangkai binatang yang wujudnya masih terpelihara dengan baik. Selain itu, pemfosilan juga berlangsung lebih mudah di lingkungan yang kadar airnya cukup karena pengendapan sedimen dan mineral lebih banyak terjadi di area tersebut. Karena itu pulalah, jasad yang jatuh ke dasar laut akan lebih mudah menjadi fosil. Akan tetapi, kecil sekali kemungkinan binatang bukan-Iaut jatuh di laut. Inilah jawaban dan penjelasan mengapa rekam fosil terbaik yang ditemukan para ahli biologi adalah fosil binatang laut, sementara fosil terburuk berasal dari makhluk udara.

Saat ini, lapisan (strata) bumi biasanya tersusun menurut urutan kronologis, yakni benda-benda tertua di lapis terbawah dan benda-benda termuda di lapis teratas. Terlebih lagi, pentarikhan radioktif (radioactive dating) terhadap anekaragam bagian geologis atau biologis memungkinkan manusia menentukan kapan sebuah organisme tertentu terkubur. Inilah alasan mengapa fosil menjadi potongan bukti yang sangat penting dalam penelusuran sejarah spesies-spesies. Sayangnya, sekalipun sudah ditemukan jutaan serpihan fosil di dunia, yang mewakili sekitar 250.000 spesies, rekam fosil paling baik sekalipun masih sepotong-sepotong, sehingga penyusunan kembali kronologi sebagian besar spesies masih dihadapkan pada jurang yang sangat lebar. Jurang terlebar menganga hingga periode Cambrian awal (550 hingga 500 juta tahun silam), ketika terjadi ledakan kemunculan bentuk kehidupan invertebrata dan disusul kemunculan vertebrata sekitar 100 juta tahun kemudian. Dari sanalah, beberapa spesies ‘antara’ juga ditemukan dan kemudian menjadi titik kelemahan teori tersebut atau paling tidak melemahkan dukungan yang seharusnya bisa memperkuat teori tersebut. Jurang lebar ini kerap disebut ‘mata rantai yang terputus’ (missing links), yang sering diangkat oleh kubu yang meragukan teori evolusi.

 

Leave a Reply

Close Menu