BIOETIKA TERHADAP TUMBUHAN

BIOETIKA TERHADAP TUMBUHAN

Masih diperdebatkan hingga kini apakah manusia boleh memodifikasi gen tumbuhan dengan memasukkan gen makhluk dari jenis lain, seperti memasukkan gen fosforisensi dari kunang-kunang ke dalam tumbuhan, baik pada tumbuhan tingkat rendah maupun tingkat tinggi. Terlepas dari perdebatan itu para peneliti telah berhasil memasukkan gen fosforisensi ke dalam pohon tingkat tinggi sehingga ia tampak berpendar. Pohon berpendar ini secara umum disebut sebagai genetically modified organisms (GMO), alias makhluk (dalam hal ini tumbuhan) yang dimodifikasi secara genetis. Terkait hal ini Allah mengingatkan manusia bahwa ciptaan Ilahi sudah dalam kondisi sempurna. Allah berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ۝ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ۝

Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih. (Alquran, Surah al-Mulk/67: 3-4)

 

Ayat 3-4 di atas sebetulnya berbicara tentang kesempurnaan jagat raya. Akan tetapi, ia dapat pula berlaku umum untuk semua ciptaan Allah, termasuk di dalamnya tumbuhan. Ayat ini memberi rambu bagi manusia, utamanya dalam upaya mereka melakukan modifikasi kimiawi atau genetis terhadap makhluk ciptaan Ilahi. Ayat ini jelas meminta manusia untuk melakukan observasi intensif sebelum melakukan “perbaikan” pada makhluk alami, agar tidak ada kekeliruan dalam eksperimen kimiawi atau genetis tersebut. Allah menjelaskan bahwa ciptaan-Nya sudah berada dalam keadaan seimbang dan sempurna. Walaupun demikian, Allah juga memberi kebebasan kepada manusia untuk mengolah dan melakukan modifikasi pada produk alam, seperti disebutkan dalam Surah Yāsīn‎/36: 35 di atas.

Rambu-rambu berikutnya disebutkan dalam hadis berikut.

Ada dua hal yang aku hafal betul dari (ajaran) Rasulullah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berlaku baik kepada apa pun. Karenanya, jika kalian membunuh (hewan) maka hendaklah ia membunuhnya dengan baik. Apabila kalian menyembelih maka lakukanlah penyembelihan dengan baik; tajamkanlah pisau kalian dan biarkanlah hewan sembelihan kalian merasa nyaman.” (Riwayat Muslim dari Syaddād bin Aus)

Hadis ini menjadi semacam code of conduct, kode berperilaku, atau etika yang harus dipegang umat Islam dalam relasinya dengan makhluk lain, apakah itu hewan, tumbuhan, ataupun mikroorganisme; juga dalam perlakuannya terhadap lingkungan hidupnya (environment maupun biosphere). Begitulah Islam mengajarkan umatnya untuk memperlakukan setiap makhluk di muka bumi ini dengan baik. Dalam suasana perang sekalipun, Islam tidak membenarkan aksi perusakan terhadap kebun, ternak, maupun lingkungan. Hal itu pula yang Khalifah Abu Bakar pesankan kepada tentaranya saat melawan tentara Persia dan Romawi. Sang khalifah mewanti-wanti mereka untuk tidak membunuh anak-anak‎, orang tua, wanita, dan tidak pula merusak perkebunan, hewan ternak, dan lingkungan. Jelaslah betapa Islam sangat menjunjung tinggi etika dalam proses relasi manusia dengan makhluk hidup Iain maupun lingkungannya. Islamic ethics ini harus menjadi landasan umat Islam dalam pemperlakukan makhluk lainnya, utamanya pada era modern dengan kemajuan di bidang bioteknologi yang begitu pesat seperti saat ini.

Selanjutnya, ada empat prinsip bioetika yang dikemukakan oleh Beauchamp dan Childress (1994), yang itu dapat dijadikan pertimbangan ketika manusia hendak melakukan eksperimen transgenik pada tumbuhan. Tampaknya prinsip-prinsip ini mengutip begitu saja konsep Maulānā Jalāluddīn ar-Rūmi yang dikemukakannya pada abad ke-13. Prinsip-prinsip itu adalah respek terhadap (respect to): (1) otonomi (autonomy); (2) keadilan (justice); (3) kemashlahatan (beneficence); dan (4) tidak menyebabkan mudarat (non-maleficence).

Prinsip demikian ini memang berasal dari dan berlaku dalam dunia medis dan dikenal dengan istilah Medical Bioethics. Namun, prinsip ini dapat pula diberlakukan dalam relasi manusia dengan makhluk lainnya. Universal Declaration on Bioethics and Human Rights (UDBHR) yang ditetapkan UNESCO pada 2005 silam mengakui respect to other living organism, menghormati makhluk hidup lain, sebagai salah satu Prinsip Bioetika. ltu berarti bahwa dalam memperlakukan makhluk hidup lain, apakah itu manusia, hewan, tumbuhan maupun mikroorganisme, setiap manusia harus:

  • Menghormati sifat otonom dari makhluk itu (atau dalam hal ini sifat intrinsik);
  • berlaku adil atau isān dalam perlakuannya;
  • perlakuan itu harus memberi kemaslahatan;
  • perlakuan itu tidak berakibat negatif terhadap makhluk tersebut.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu