BIJI-BIJIAN

BIJI-BIJIAN

Beberapa jenis biji-bijian dan umbi-umbian disebutkan dalam Alquran dan hadis, baik dalam posisi sebagai tamsil maupun sebagai hal yang bersifat material. Dalam posisinya sebagai perumpamaan, biji-bijian dikaitkan dalam salah satu ayat dengan upaya memotivasi manusia untuk berderma, dengan janji mendapat balasan yang berlipat ganda. Ayat lainnya mengaitkan penyebutan biji-bijian dengan kesempurnaan ilmu Allah. Yang lain lagi berbicara mengenai siklus kehidupan, sesuatu yang bersifat material, namun dikaitkan dengan kemampuan Allah untuk membangkitkan kembali manusia yang telah mati. Sisanya berbicara mengenai biji-bijian sebagai rezeki yang itu merupakan berkah yang Allah berikan kepada manusia. Ayat-ayat tersebut adalah:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ۝

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 261)

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ۝

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padaNya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 59)

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ۝

Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Alquran, Surah al-An’am/6: 95)

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ۝

Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun  anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)

وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ۝

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan. (Alquran, Surah Yāsīn/36: 33)

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ۝

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. (Alquran, Surah Qāf/50: 9)

لِّنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا۝

Untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman. (an-Naba’/78: 15)

فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا۝

Lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 27)

 

Beberapa macam biji-bijian yang (azim diketahui masyarakat Arab pada masa itu antara lain:

 

Jelai (Hordeum vulgare)

Jelai (Hordeum vulgare) dari suku Poaceae, biasa disebut barley dalam Bahasa Inggris, adalah sejenis serealia. Jelai memegang peranan penting sebagai penyedia pangan bagi manusia dan pakan bagi ternak. Jumlah produksi jelai dunia pada 2005 berada pada peringkat keempat dari total produksi serealia di tahun yang sama.

Bukti paling awal mengenai pertanian jelai berasal dari situs arkeologis Mehrgarh, India, yang diperkirakan berasal dari tahun 7.000 Sebelum Masehi. Jelai yang didomestikasi (Hordeum vulgare) mulanya adalah jelai liar (Hordeum spontaneum). Saat ini jelai liar ini masih dapat dijumpai di banyak tempat. Jelai liar dan jelai budi daya seringkali masih saling kawin secara alami.

Salah satu lokasi tempat budi daya jelai adalah Tell, Abu Hureyra, Suriah. Jelai juga merupakan salah satu tanaman panenan budi daya pertama di Timur Dekat, dalam kurun waktu yang sama dengan budi daya gandum. Di Mesir Kuno, jelai adalah bahan pokok sereal yang digunakan untuk membuat bir dan roti. Jelai juga dikenal sebagai benda yang menjadi ciri Tanah Perjanjian Kanaan, dan mempunyai peran penting dalam ibadah Israel Kuno. Jelai juga mendapat tempat terhormat dalam ritual keagamaan pada masa Yunani Kuno. Mereka biasa mengeringkan jelai yang sudah ditumbuk kasar sebelum dijadikan bubur. Proses ini menghasilkan kue yang sedikit beralkohol.

Jelai juga sudah dikenal lama di kawasan Asia Timur. Selama berabad-abad jelai telah menjadi makanan pokok masyarakat Tibet. Jelai juga sudah ditanam di Semenanjung Korea sejak awal Era Tembikar, sekitar 1.500-850 tahun SM, bersamaan dengan gandum, jawawut, dan sayur-mayur.

Pada masa kehidupan Nabi Muḥammad‎, jelai, yang juga disebut rabi, ditanam hampir di seluruh Jazirah Arab. Umumnya jelai dibuat tepung dan dijadikan bahan baku roti dan bubur cair, makanan yang disukai Nabi. Nabi juga menganjurkan penggunaan jelai untuk mengurangi stress dan membantu mengobati sakit ginjal. Konon Nabi sangat menyukai masakan yang terbuat dari jelai dan akar bit yang dijual seorang pemuda di Pintu Masjid Nabawi tiap hari Jumat.

Manfaat jelai bagi orang yang sedang dalam proses penyembuhan dinyatakan dalam hadis berikut,

 

Rasulullah bertamu ke rumahku bersama Ali yang baru saja sembuh dari sakit. Keluargaku memiliki beberapa tandan kurma yang sengaja kami gantung (supaya kering). Rasulullah beranjak (menghampiri) tandan-tandan itu dan memakan beberapa butir kurma. Ali pun ikut beranjak dan ingin memakan kurma itu. Namun Rasulullah bergegas bersabda kepada Ali, “Jangan! Engkau baru saja sembuh dari sakit. ” Lalu aku memasak makanan (semacam bubur) berbahan jelai dan akar bit. Kemudian Nabi bersabda, “Wahai Ali, makanlah makanan ini karena ini lebih baik untukmu.” (Riwayat Aḥmad, Abu Dāwūd, at-Tirmiżi, dan Ibnu Mājah dari Ummu al-Munżir binti Qais al-Anṣāriyah)

 

Hadis inimengindikasikan campuran antara akar bit dan jelai dapat menjadi tonik atau penambah darah bagi mereka yang sedang dalam proses penyembuhan. Begitu salah satu anggota keluarga Nabi sakit, beliau selalu minta tolong kepada istri maupun pembantunya untuk memasakkan bubur jelai cair untuknya. ‘Ā’isyah berkata,

 

Ketika salah satu anggota keluarganya sakit, Rasulullah meminta (anggota keluarganya yang lain) untuk membuat bubur. Beliau bersabda, “Bubur ini menghilangkan kesedihan dari dalam hati dan menceriakan hati orang yang sedang sakit, layaknya air yang salah satu dari kalian gunakan untuk mencuci muka mampu membersihkan kotoran darinya.” (Riwayat Aḥmad dan Ibnu Mājah dari ‘Ā‘isyah)

 

Diriwayatkan dari ‘Ā‘isyah, bahwa ia sering meminta tolong (kepada pembantunya) agar membuatkan bubur talbīnah (bubur jelai cair yang dicampur susu dan madu) untuk orang yang sedang sakit dan berduka atas kematian anggota keluarganya. la berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya bubur talbīnah mampu menceriakan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesedihannya.”‘ Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan dari ‘Ā‘isyah disebutkan bahwa ia sering meminta tolong (kepada pembantunya) agar membuatkan bubur talbīnah, seraya berkata, “Makanan ini memang tidak disukai, namun ia sangat bermanfaat.” (Riwayat al-Bukhāri )

 

Dalam redaksi hadis yang agak berlainan —sayangnya dengan sanad yang daif—yang juga diriwayatkan dari ‎‘Ā’isyah disebutkan,

 

Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Biasakanlah kalian mengkonsumsi talbīnah, yang meski dibenci namun ia sejatinya sangat bermanfaat. Demi Tuhan yang menguasai hidupku, talbīnah akan menghilangkan kotoran dari dalam perut salah satu dari kalian layaknya kalian membasuh muka kalian dengan air hingga bersih dari kotoran.” (Riwayat Aḥmad dari ‘Ā‘isyah)

 

Gandum (Triticum spp.)

Gandum (Triticum spp.) yang masuk kelompok rumput-rumputan, Poaceae, berasal dari kawasan Timur Dekat, pada lokasi yang dinamai Fertile Crescent Region. Saat ini gandum sudah dibudidayakan di seluruh dunia. Gandum merupakan produk sereal ketiga setelah jagung dan padi. Namun, gandum memiliki kandungan protein tertinggi dibanding sereal lainnya sehingga dijuluki sumber protein nabati utama di dunia. Dilihat dari jumlah penggunaannya sebagai bahan makanan bagi manusia, gandum menempati urutan kedua setelah padi. ltu karena jagung lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak ketimbang sebagai makanan pokok manusia.

Budidaya gandum adalah cikal bakal sistem pertanian serta komunitas permukiman dan peradaban manusia. Gandum dapat dihasilkan dalam skala besar; ia juga mudah disimpan dan dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk setelah dijadikan tepung (roti, biskuit, mi, dan sejenisnya), dan bisa juga difermentasi menjadi berbagai minuman beralkohol (bir) serta bahan biofuel.

Penelitian antropologis memunculkan dugaan bahwa domestikasi gandum pertama kali dilakukan di kawasan terkecil di Turki Tenggara bernama Nevali Cori, sekitar 64 km dari Gobekli Tepe. Usaha domestikasi dilakukan sekitar tahun 9.000 Sebelum Masehi (SM). Akan tetapi sebagian peneliti yakin bahwa gandum liar, seperti halnya jelai liar, telah lama dikonsumsi manusia jauh sebelum usaha domestikasi, yakni sekitar 23.000 tahun SM. Dari Turki penyebaran gandum sampai di kawasan Yunani, Cyprus, dan India pada 6.500 SM.

Menurut catatan, gandum pertama kali dibudidayakan di Fertile Crescent dan di delta sungai Nil, Mesir pada sekitar tahun 6.000 SM. Budi daya gandum menyebar dengat cepat ke kawasan yang saat ini masuk wilayah Turki, Suriah, dan Israel. Jerman dan Spanyol tercatat mulai membudidayakan gandum pada 5.000 tahun SM. Pada 3.000 tahun SM, budidaya gandum sampai ke Inggris dan kawasan Skandinavia.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu