BENCANA AKIBAT AIR

BENCANA AKIBAT AIR

Serial Quran dan Sains

Di samping memiliki manfaat yang penting dan beragam, air sering kita jumpai membawa masalah bahkan bencana. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, antara lain mekanisme pada alam yang tidak dipahami atau diantisipasi dengan baik oleh manusia, tetapi pada umumnya terjadi karena ulah manusia sendiri. Bencana banjir yang sering terjadi di berbagai wilayah, baik di perkotaan, perkampungan, maupun di pedesaan, antara lain karena penebangan hutan di sekitar hulu sungai, penutupan permukaan tanah dengan beton-beton sehingga air tak mampu meresap ke dalam tanah, kebiasaan buruk membuang sampah-sampah plastik dan sejenisnya di sembarang tempat, dan sebagainya.

Alquran juga menceritakan tentang bencana yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kesombongan dan keingkaran mereka. Hampir seluruh cerita mengenai bencana yang diceritakan Alquran menyangkut azab terhadap umat-umat yang sombong dan ingkar atau karena melakukan perbuatan buruk yang melampaui batas. Meskipun bencana-bencana yang diceritakan Alquran menyerupai bencana alam yang biasa kita jumpai saat ini, misalnya banjir, gempa bumi, petir, dan sebagainya, tetapi apabila kita perhatikan kronologi atau intensitas kejadiannya memang tidak mudah untuk dipahami sebagai bencana alam biasa. Salah satunya termaktub dalam Surah al-An‘ām/6: 6.

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِم مِّدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ۝

Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Kami curahkan hujan yang lebat untuk mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah generasi mereka (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 6.) 

فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُم مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ۝

Kemudian Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi mereka digulung ombak laut yang menenggelamkan mereka (Alquran, Surah Ṭāhā/20: 78) 

Terbelahnya lautan seperti yang tergambar pada kisah Nabi Musa yang kemudian disusul dengan tenggelamnya Fir‘aun, merupakan suatu fenomena alam istimewa yang sampai sekarang masih sulit diterangkan sebab alamiahnya.

Bagaimanapun juga, bencana alam yang terjadi dan kita amati pada zaman ini pada dasarnya merupakan bagian dari siklus dinamika alam, hanya saja ia terjadi pada intensitas, waktu, dan tempat yang di luar dugaan manusia sehingga manusia tidak dapat mengantisipasinya. Umumnya, fenomena alam yang menimbulkan bencana datang secara tiba-tiba. Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia belum mampu memprediksi secara tepat kapan sebuah bencana terjadi. Hal ini menyadarkan manusia bahwa mereka adalah makhluk yang hanya memiliki ilmu sangat terbatas, tidak serba tahu segala-galanya sehingga tidak menyombongkan diri, bahkan menganggap diri sebagai tuhan sebagaimana klaim Fir‘aun terhadap dirinya. Namun demikian, manusia pun diharapkan untuk terus mengamati berbagai fenomena alam untuk mengambil manfaat dan mengurangi dampak buruk dari sebuah bencana bagi makhluk hidup dan alam secara keseluruhan.

Bencana pada zaman ini, khususnya yang berkaitan dengan air, dipahami terjadi sebagai akibat dari kesalahan manusia dalam memperlakukan alam. Konsekuensi perlakuan buruk manusia terhadap alam ini bisa terjadi dalam waktu yang relatif pendek, misalnya banjir bandang atau longsor akibat pembalakan hutan, atau sebagai hasil akumulasi kesalahan yang terus-menerus, seperti fenomena pemanasan global dan perubahan iklim. Allah telah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (ar-Rūm/30: 41).

 

  1. Banjir

Bencana berkaitan dengan air yang paling lazim kita jumpai adalah banjir. Banjir adalah genangan/aliran air di atas daratan yang tidak biasanya tergenang air. Banjir umumnya disebabkan oleh meluapnya air melalui tepian suatu badan air seperti sungai atau danau sehingga menggenangi atau mengalir di luar batas-batas biasanya. Sedangkan fluktuasi luapan sungai atau volume danau musiman, yang biasanya disebabkan oleh variasi hujan atau pencairan salju, biasanya bukanlah banjir yang membahayakan kecuali luapan air tersebut membahayakan/merusak lahan, permukiman, atau ladang-Iadang pertanian yang dipakai manusia.

Banjir seringkali menyebabkan kerusakan atau kerugian yang besar apabila menerjang daerah permukiman yang terletak di dataran rendah yang berpeluang banjir. Sebenarnya kerugian akibat banjir bisa dihindari apabila dataran banjir tersebut ditinggalkan atau tidak dihuni, hanya saja sejak dahulu manusia memang senang tinggal di dekat perairan karena mudah mendapatkan air, menggunakannya untuk sarana irigasi dan transportasi, bahkan untuk tempat berdagang. Pada saat ini, lebih disadari bahwa tinggal terlalu dekat dengan badan air, apalagi yang memiliki fluktuasi luah yang besar, sangat berbahaya mengingat adanya ancaman banjir sewaktu-waktu. Meskipun pada akhir-akhir ini perubahan cuaca sering terjadi di luar dugaan, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya banjir menimbulkan kerugian atau menjadi bencana karena kesalahan manusia sendiri.

Jenis dan penyebab terjadinya banjir bisa bermacam-macam. Banjir yang paling sering terjadi adalah banjir sungai, ketika luah alirannya melebihi kapasitas tampung saluran, umumnya pada tikungan atau pada alur sungai yang berkelok-kelok berbentuk tapal kuda. Banjir sungai yang kejadiannya relatif lambat biasanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus atau banyaknya salju yang mencair dengan cepat di hulunya. Kejadian seperti ini dijumpai pada hujan lebat di daerah tropis basah  seperti halnya di Indonesia, adanya badai tropis atau adanya embusan angin panas di atas timbunan salju di daerah beriklim sedang. Banjir sungai yang kejadiannya relatif cepat atau dikenal pula dengan istilah banjir bandang (flash flood) disebabkan oleh hujan berintensitas sangat tinggi, seperti badai atau adanya pelepasan luah air yang besar secara tiba-tiba di hulu, misalnya bobolnya bendungan, tanah longsor, atau runtuhnya endapan salju di dataran tinggi.

Banjir bisa pula terjadi di daerah muara sungai atau pesisir, biasanya disebabkan pasang air laut yang bersamaan dengan besarnya luah air sungai dari darat. Di daerah pesisir banjir seringkali diakibatkan oleh kenaikan gelombang yang dipicu oleh embusan angin yang kuat, misalnya ketika terjadi badai, yang mendorong air naik ke daratan. Seringkali badai laut ini disertai pula dengan hujan yang lebat.

Alquran menceritakan banjir terbesar sepanjang sejarah manusia yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Banjir tersebut menenggelamkan dan menghapus semua peradaban manusia saat itu. Besarnya banjir Nabi Nuh dilukiskan dengan tergenangnya permukaan bumi dan tenggelamnya gunung-gunung yang berlangsung dalam waktu yang lama dengan air yang jatuh dari langit maupun yang memancar dari dalam bumi.

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُّنْهَمِرٍ۝ وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ۝ وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ۝

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak (Alquran, Surah al-Qamar/54: 11-13) 

Para ahli pengetahuan alam saat ini masih sulit menerangkan asalmuasal air tersebut. Sebagian orang terutama yang merujuk pada Injil dan kitab Perjanjian Baru, menafsirkan bahwa banjir Nabi Nuh tersebut menggenangi seluruh permukaan bumi, sedangkan sebagian lainnya (misalnya Harun Yahya) percaya bahwa hanya sebagian permukaan bumi saja yang tergenang banjir, yaitu di daerah yang sudah dihuni manusia, yaitu di daerah Timur Tengah. Meskipun hanya sebagian permukaan bumi yang tergenang banjir saat itu, tetapi luas, kedalaman, dan lamanya banjir melukiskan luah air yang sangat besar yang sulit diterangkan dari mana datangnya air.

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ۝

Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 11) 

Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap spesies, jantan dan betina, serta keluarganya. Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air, termasuk anak laki-laki Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan mengungsi ke sebuah gunung yang dekat.

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ۝

Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan (Alquran, Surah Hūd/11: 43)  

 

Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir tersebut dan kejadian telah berakhir, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Alquran kepada kita.

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ۝

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan)! berhentilah”. Dan air pun disurutkan dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi dan dikatakan, “Binasalah orang-orang zalim” (Alquran, Surah Hūd/11: 44).

Studi arkeologis, geologis, dan historis menunjukkan bahwa banjir tersebut terjadi dengan cara yang sangat mirip dan berkaitan dengan informasi Alquran. Banjir tersebut juga digambarkan secara hampir mirip di dalam beberapa rekaman atas peradaban-peradaban masa lalu di dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat bervariasi.

Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi di mana banjir masa Nabi Nuh terjadi. Wilayah ini diketahui sebagai tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Lagi pula, dengan posisinya yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan untuk terjadinya sebuah banjir yang besar. Di antara faktor penyebab terjadinya banjir kemungkinan adalah meluapnya  aliran kedua sungai ini sehingga membanjiri wilayah tersebut. Bukit Judi yang disebutkan pada ayat di atas terletak di Armenia. Tampak bahwa banjir pada zaman Nabi Nuh tersebut meliputi daerah yang membentang dari Armenia hingga Iran-Irak. Apabila kita perhatikan luasnya daerah yang tergenang banjir dengan kedalaman yang menenggelamkan puncak-puncak bukit maka datangnya air banjir tersebut sulit diterangkan dengan fenomena alam biasa.

Banjir lainnya yang diceritakan di dalam Alquran adalah banjir bandang yang menimpa kaum Sabā’. Banjir terjadi karena bobolnya bendungan yang pada awalnya dipakai sebagai sumber air dan sarana irigasi pertanian kaum tersebut. Salah seorang Ratu kaum Sabā’, Ratu Bilqis, beriman kepada Allah melalui Nabi Sulaiman dan menjadi istri Nabi Sulaiman. Bangsa ini memiliki kebudayaan yang cukup tinggi pada masanya dan memiliki angkatan perang yang kuat.

Selepas masa Ratu Bilqis, kaum Sabā’ kembali ingkar kepada Allah sehingga Allah menghukum mereka dengan mendatangkan banjir. Lahan-lahan pertanian kaum Sabā’ yang tadinya subur, hancur tersapu banjir. Setelah kejadian banjir tersebut lahan-Iahan pertanian tidak dapat lagi ditumbuhi tanaman, kecuali tumbuhan liar yang tidak berguna.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ۝ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ۝

Sungguh bagi kaum Sabā’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Namun mereka berpaling maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Aṡl dan sedikit pohon Sidr (Alquran, Surah Sabā’/34: 15-16).

 

  1. Luapan Air Laut (Rob)

Meskipun tidak pernah diceritakan di dalam Alquran bahwa Allah pernah mengazab suatu kaum dengan rob atau luapan air laut (kecuali dalam kisah Fir‘aun zaman Nabi Musa yang mirip walaupun sangat berbeda kasusnya), tetapi Allah bersumpah dengannya. Rob memang suatu fenomena alam yang dahsyat dengan energi sangat besar yang dikandungnya sehingga memiliki daya rusak yang sangat besar. Dua fenomena alam yang dapat menghasilkan rob dengan daya rusak yang besar yakni Tsunami dan Badai.

وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ۝

dan apabila lautan dipanaskan (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 6) 

وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ۝

dan apabila lautan dijadikan meluap (Alquran, Surah al-Infiṭār/ 82: 3)  

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ۝

Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun (Alquran, Surah an-Nūr/24: 40)

Luapan air laut atau rob yang disebabkan oleh pasang surut muka air laut dan luah sungai, meskipun seringkali merugikan, pada umumnya tidak begitu besar dan merupakan suatu siklus alam yang keterdugaannya sebelum terjadi bisa diperhitungkan. Luapan air/rob yang daya rusaknya sangat besar dan dengan keterdugaan yang rendah adalah luapan tsunami yang dipicu oleh gempa atau letusan gunung api di laut.

 

  1. Tsunami

Tsunami (bahasa Jepang, tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harfiah berarti ombak besar di pelabuhan) adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara  vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Tsunami merusak apa saja yang dilaluinya: bangunan dan tumbuh-tumbuhan, mengakibatkan korban jiwa manusia, serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin pada lahan pertanian, tanah, dan sumber air bersih.

Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor, maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya letusan Gunung Krakatau.

Gerakan vertikal pada kerak bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai, menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut tempat gelombang itu terjadi. Kecepatan tsunami bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam, dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut, tinggi gelombang tsunami hanya beberapa centimeter hingga beberapa meter, tetapi saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter akibat adanya penumpukan massa air. Saat mencapai pantai, tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan beberapa kilometer.

Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, di mana lempeng samudra menelusup ke bawah lempeng benua.

Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang memicu tsunami. Gempa menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut  naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, ia dapat memicu mega tsunami yang tingginya mencapai ratusan meter. Gempa yang dapat menyebabkan tsunami umumnya memiliki karakter sebagai berikut.

  • Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0-30 km),
  • Gempa bumi berkekuatan minimal 6,5 Skala Richter,
  • Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.

Beberapa kejadian tsunami yang menimbulkan kerusakan besar yang pernah terjadi di antaranya:

  • 1 November 1755: Tsunami menghancurkan Lisboa, ibukota Portugal, menewaskan 60.000 korban jiwa,
  • 26 Agustus 1883: Gunung Krakatau meletus dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa,
  • 25-26 Desember 2004: Gempa besar di Barat Laut Aceh memicu tsunami yang menelan korban jiwa lebih dari 250.000 orang di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Ketinggian tsunami mencapai 35 m,
  • 17 Juli 2006: Gempa memicu tsunami terjadi di selatan Pulau Jawa, tepatnya di selatan Ciamis. Ketinggian maksimum tsunami mencapai 21 meter, terlihat di Pulau Nusakambangan. Tsunami ini menewaskan lebih dari 500 orang.

 

  1. Badai

Rob lainnya yang memiliki daya rusak tinggi adalah luapan air laut yang diakibatkan oleh badai. Badai-badai yang terkuat dikenal dengan nama badai tropis (tropical cyclone/ siklon tropis) karena hampir seluruhnya terbentuk di perairan laut daerah tropis, biasanya pada  garis lintang tinggi (23,5°), baik di belahan bumi utara maupun selatan.

Badai tropis adalah sebuah badai yang dicirikan dengan sebuah pusat badai yang luas dan bertekanan udara sangat rendah yang disertai dengan banyak petir yang menghasilkan embusan angin yang kuat dan hujan lebat. Badai tropis bertambah kuat apabila air yang diuapkan dari laut dilepaskan sebagai udara jenuh air yang naik ke udara dan menghasilkan uap air terkondensasi pada udara yang lembap. Istilah cyclone didasarkan pada badai yang memiliki sifat berputarberlawanan arah jarum jam di belahan bumi utara dan searah jarum jam di belahan bumi selatan. Perbedaan arah yang berlawanan ini disebabkan adanya efek coriolis. Badai tropis dapat menyebabkan angin berputar yang bertiup dengan kecepatan di atas 250 km/jam sehingga dapat menerbangkan dan menghancurkan benda-benda yang besar dan berat seperti rumah, mobil, perahu, dan sebagainya. Dengan kekuatan seperti itu, badai dapat menyebabkan gelombang yang tinggi atau gelombang pasang di permukaan laut yang bisa terdorong hingga jauh ke daratan. Siklon tropis selalu disertai dengan hujan yang sangat lebat dan petir.

 

  1. Erosi dan Longsor

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya‘ (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 264). 

Pada ayat ini, Allah mengumpamakan sedekah yang disertai riyadengan menyebut-nyebutnya sehingga  menyakiti hati penerima, dengan proses erosi. Erosi adalah proses hilangnya tanah dari permukaan bumi, umumnya karena terangkut oleh aliran air. Semakin besar curah hujan yang jatuh maka akan semakin banyak partikel tanah yang tererosi. Proses pembentukan tanah di atas batuan terjadi dalam waktu ratusan bahkan ribuan tahun, tetapi oleh hujan yang sangat lebat lapisan tanah dapat terangkut dan hilang dari permukaan tanah dengan cepat, terutama apabila permukaan tanah/ batuan miring dan terbuka sehingga hanya meninggalkan sisa batuan yang telah lapuk pada permukaan. Banyak dijumpai tanah terbentuk langsung di atas batuan yang keras, misalnya tanah yang terbentuk di atas batu kapur. Apabila permukaan batuan miring maka tanah seperti ini sangat mudah tererosi. Dengan hilangnya lapisan tanah dari atas batuan, berarti hilang pula produktivitas lahan tersebut untuk menghasilkan tanaman.

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ۝

Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan  untuk memperteguh jiwa mereka seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Alquran, Surah AI Baqarah/2; 265). 

 

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, yakni al-Baqarah/ 2: 264. Dilihat dari sisi mekanisme erosi, adanya penutup lahan berupa pohon-pohonan atau tumbuhan dapat menghindarkan atau mengurangi risiko terjadinya erosi. Hujan yang lebat tidak akan membuat tanah berpenutup tererosi. Bahkan hujan memberikan manfaat berupa peningkatan produktivitas apabila tanah dibudidayakan sebagai kebun. Dalam hal ini, pembelanjaan harta untuk mencari rida Allah diumpamakan sebagai kebun.

Secara alami erosi merupakan bagian dari proses pelapukan batuan. Erosi alami atau dikenal pula dengan istilah erosi geologi berjalan lambat, tidak melebihi kecepatan proses pembentukan tanah, sedangkan erosi yang disebabkan oleh akibat ulah manusia, disebut juga dengan istilah erosi dipercepat (accelerated erosion), berjalan jauh lebih cepat daripada proses pembentukan tanah sehingga membuat semua lapisan tanah terangkut dan hanya menyisakan hasil lapukan batuan yang tersingkap ke permukaan. Beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh erosi adalah: (1) hilangnya lapisan-Iapisan tanah yang subur, (2) berkurangnya kapasitas imbuhan air ke dalam tanah dan kapasitas tanah untuk menyimpan air, (3) makin tingginya luah aliran permukaan sehingga daya rusak aliran air meningkat, (4) turunnya kualitas air akibat tingginya lumpur yang terlarut di dalam air, dan (5) pendangkalan dan penyumbatan saluran air sehingga menyebabkan banjir.

Tingkat kehilangan tanah yang lebih berat daripada erosi diakibatkan oleh tanah longsor. Jumlah massa tanah yang berpindah atau bergerak pada peristiwa tanah longsor jauh lebih banyak daripada peristiwa erosi dan terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Pada peristiwa longsor, umumnya tidak hanya tanah yang bergerak dan terangkut, tetapi juga batuan yang berada di bawah tanah serta tumbuhan/pepohonan dan bangunan yang terletak di atasnya. Tanah longsor biasanya terjadi pada lahan yang berlereng terjal sehingga beban tanah ketika jenuh air tidak dapat tertahan oleh lereng yang miring. Massa tanah yang jenuh air tersebut akan jatuh atau meluncur di sepanjang kemiringan. Besarnya massa tanah yang bergerak bisa menyebabkan tertimbunnya lahan (kampung) di bawahnya. Seringkali peristiwa tanah longsor disertai dengan banjir bandang. Pemicu terjadinya tanah longsor biasanya hujan lebat atau hujan yang terjadi terus-menerus.

Erosi dan tanah longsor dapat dikendalikan dengan pengelolaan tutupan vegetasi, pengaturan saluran air, terasering, dan semisalnya.

 

  1. Pencemaran Air

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ۝ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ۝ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ۝

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 68-70) 

Apabila air menjadi asin maka air tersebut tidak bisa kita minum. Hanya saja air yang tidak bisa diminum tidak hanya air asin karena memiliki garam terlarut dalam konsentrasi tinggi. Air-air yang memiliki zat terlarut bahan apa pun apabila konsentrasinya terlalu tinggi akan menjadi racun. Air di alam yang telah mendapat bahan terlarut dalam konsentrasi tinggi sehingga tidak dapat diminum atau bahkan tidak pula dapat dipakai untuk sekadar mencuci, dinamakan air yang tercemar. Pencemaran air menyebabkan air kehilangan daya gunanya, terutama secara kimia dan biologi.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, air merupakan kebutuhan mutlak bagi makhluk hidup: tanaman, hewan, dan manusia. Para ahli ekologi menyatakan bahwa kehidupan organisme amat tergantung pada kondisi Iingkungannya. Bila organisme itu manusia maka kehidupan manusia juga bergantung pada lingkungan terutama air sebagai sumber kehidupannya. Penurunan mutu atau kualitas air akan mempengaruhi manfaat bagi manusia. Air yang keruh atau kotor akan mengganggu kesehatan manusia, baik sebagai air minum, memasak, maupun mencuci. Selain itu, buruknya kualitas air juga dapat mematikan binatang air seperti ikan dan udang sebagai makanan manusia. Air kotor yang berbau akan menjadikan Iingkungan menjadi tidak nyaman. Hal yang lebih buruk terjadi apabila air kotor itu mencemari air tanah, membuat air sumur tidak lagi dapat  digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Pencemaran air laut oleh bahan kimia atau minyak bumi berakibat lebih fatal. Bahan-bahan tersebut tidak hanya dapat membunuh ikan dan udang di pantai, tetapi dapat juga mengganggu perkembangbiakan atau reproduksi biota laut. Akibatnya pantai-pantai yang tercemar oleh limbah industri akan menurun drastis populasi perikanannya, suatu kondisi yang sangat merugikan nelayan. Kondisi ini akan mengakibatkan kemiskinan bagi para nelayan seperti yang dapat diamati di pantai utara Jawa. Bahkan kasus pencemaran oleh sebuah perusahaan swasta di Nusa Tenggara yang mencuat beberapa tahun lalu, selain menimbulkan kemiskinan nelayan, juga menimbulkan penyakit bagi masyarakat akibat cemaran logam berat seperti arsen (As).

Jadi jelaslah bahwa efek pencemaran air tidak hanya berpengaruh terhadap sisi kesehatan manusia. Pencemaran pantai misalnya, bahkan dapat menimbulkan dampak yang berakibat pada kemiskinan bagi nelayan yang menggantungkan hidup dari kekayaan ikan di pantai. Karena itu pencemaran air harus dapat dikendalikan agar industri yang juga menyerap tenaga kerja dan menambah devisa dapat berkembang tanpa menimbulkan dampak yang berarti.

Pencemaran air mengakibatkan ikan-ikan mati

Dampak buruk dari pencemaran air dapat dibagi dalam beberapa kategori, di antaranya:

  • Mengurangi kadar oksigen dalam air

Kadar oksigen dalam air amat perlu bagi kehidupan binatang air seperti ikan dan udang. Akibat pencemaran kadar O2 yang normalnya sekitar 8 ppm dapat turun di bawah 4 ppm atau bahkan 0 ppm. Penurunan O2 ini paling banyak disebabkan oleh limbah bahan organik yang mudah terdegradasi, seperti gula, protein, dan lemak. Zat-zat tersebut memang tidak beracun, tetapi ia akan didegradasi di dalam air oleh bakteri yang dalam proses tersebut memerlukan oksigen dari air. Akibatnya, O2 berkurang atau menipis sehingga ikan dan udang mati karena sesak nafas. Parameter penentu cemaran ini adalah BOD (Biological Oxygen Demand) atau COD (Chemical Oxygen Demand). Semakin besar nilai BOD atau COD, semakin buruk kualitas air.

  • Racun bagi biota air

Bahan kimia beracun seperti asam, basa, logam-Iogam berat (Hg, Pb, Cd, As, dsb.), serta fenol dan pestisida adalah bahan  yang amat mematikan. Cemaran tersebut biasanya berasal dari industri kimia. Parameter untuk mengetahui daya racun air limbah biasanya dinyatakan sebagai LC-50 atau Lethal Concentration-50, yang berarti konsentrasi cemaran yang mematikan 50% binatang percobaan. Semakin kecil nilai LC-50 berarti semakin toksik air limbah tersebut.

  • Menurunkan populasi hewan air

Cemaran minyak bumi mempunyai efek yang berbeda dari cemaran di atas. Cemaran ini sifatnya tidak begitu toksik, tetapi pertikel minyak bumi dalam air dapat melekat pada binatang air seperti larva dan insekta air yang biasanya menjadi makanan ikan. Ketiadaan makanan ikan alami membuat populasi ikan-ikan menurun. Selain itu, cemaran minyak bumi dapat pula menempel pada ikan atau udang. Hal ini akan mengakibatkan gangguan pada sex attraction yang akhirnya berdampak pada berkurangnya populasi ikan dan udang.

  • Bau

Cemaran organik maupun anorganik atau bahan kimia dapat menimbulkan bau busuk, terutama di sungai tempat cemaran itu dibuang. Cemaran ini selanjutnya akan merembes ke sumur-sumur rakyat yang membuat air sumur tidak layak pakai karena mengandung bahan kimia penyebab penyakit jangka panjang, seperti liver, syaraf, ginjal, dan kanker. Cemaran yang sudah masuk dalam sumur sukar untuk direhabilitasi.

  • Penyuburan tanaman air

Pembuangan amonia dari area pertanian dan fosfat dari Iimbah rumah tangga ke dalam sungai atau danau menyebabkannya kelebihan nutrisi yang mengakibatkan penyuburan tanaman air atau biasa disebut eutrofikasi. Efeknya, danau atau sungai dipenuhi eceng gondok sehingga tidak berfungsi sebagai penyimpanan dan saluran air.

Pencemaran air di atas adalah akibat perbuatan tangan-tangan manusia yang jelas akan merugikan manusia sendiri. Kerugian besar dapat berupa kerugian ekonomi (nelayan, PDAM, PLTA), kesehatan, dan estetika.

 

  1. Kekeringan

Kekeringan adalah suatu periode panjang ketika suatu daerah kekurangan pasokan air. Umumnya kekeringan terjadi ketika suatu daerah tidak menerima curah hujan atau kurang dari biasanya secara terus-menerus. Kekeringan bisa berdampak terhadap lingkungan dan pertanian daerah yang dipengaruhinya. Kekeringan yang berkepanjangan dapat merusak dan membahayakan ekonomi suatu daerah, walaupun hanya terjadi dalam setahun, belum lagi bila terjadi dalam beberapa tahun terus-menerus. Periode kekeringan yang panjang sejak zaman dahulu telah menyebabkan terjadinya migrasi penduduk dan memegang peranan kunci pada peristiwa-peristiwa perpindahan manusia dan krisis-krisis kemanusiaan pada sejarah peradaban manusia, seperti yang pernah terjadi di bagian tanduk Afrika Utara dan daerah Sahel.  Pada umumnya curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh dua hal: jumlah uap air di udara dan daya dorong yang menyebabkan gerak naik kelembapan tersebut. Jika salah satu dari keduanya berkurang, terjadilah kekeringan. Keadaan ini umumnya dipicu oleh berkurangnya perbedaan tekanan udara dan peredaran angin di darat, sedangkan berkurangnya penguapan air di laut lebih jarang terjadi. Siklus interaksi kondisi atmosferik dan oseanik, seperti halnya EI Nino (ENSO) menyebabkan kekeringan terjadi secara periodik, utamanya di daerah-daerah sekitar samudra pasifik.

Aktivitas manusia dapat secara langsung memicu kekeringan, seperti irigasi besar-besaran dan intensifikasi pertanian dalam skala luas, pembalakan hutan, dan erosi yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kemampuan lahan untuk menangkap dan menahan air. Sementara kegiatan-kegiatan tersebut cenderung berpengaruh secara lokal, terdapat pula aktivitas-aktivitas lainnya yang dapat membawa pengaruh secara global, yang memicu perubahan iklim yang berdampak serius terhadap pertanian, terutama bagi masyarakat negara berkembang. Secara umum, pemanasan global akan meningkatkan jumlah curah hujan, di mana peristiwa erosi dan banjir akan meningkat. Di saat yang sama, terdapat pula daerah-daerah yang akan menjadi lebih kering. Ketika kekeringan terjadi kondisi lingkungan di sekitarnya akan memburuk dan dampaknya terhadap penduduk setempat secara berangsur-angsur akan meningkat. Kekeringan yang parah dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, seperti yang beberapa tahun terakhir ini sering terjadi di Indonesia.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ۝

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu (Alquran, Surah al-Ḥadīd/57: 20).

Salah satu peristiwa kekeringan yang diceritakan di dalam Alquran adalah yang terjadi ketika Nabi Yusuf sedang berada di Mesir. Sebelum kekeringan terjadi, Raja Mesir bermimpi melihat 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus (Yūsuf/12: 46-49). Tidak ada yang dapat menakwilkan mimpi tersebut selain Nabi Yusuf. Tidak hanya itu, beliau bahkan dapat menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kekeringan yang akan terjadi, yang merupakan takwil dari mimpi sang raja. Pada akhirnya Nabi Yusuf dipercaya menjadi bendahara atau perdana menteri Mesir. Dalam Alquran dikisahkan,

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَّعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ ۝ قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ ۝ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ ۝ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ ۝

“Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.” Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur)” (Alquran, Surah Yūsuf/12: 46-49) 

Kekeringan yang terjadi pada masa Nabi Yusuf bukanlah kejadian yang lazim terjadi, karena terjadi selama 7 tahun berturut-turut. Bahkan kekeringan tersebut tidak saja melanda Mesir, tetapi sampai pula di Palestina, tempat ayah  Nabi Yusuf, Nabi Yakub, menetap  sebelum akhirnya bermigrasi ke Mesir. Sumber air Mesir berasal dari  Sungai Nil yang mata airnya sangat jauh di selatan. Dengan demikian, berkurangnya luah Nil tentu saja mengakibatkan kekeringan yang  meliputi wilayah yang sangat luas,  paling tidak hingga tempat mata air Sungai Nil berasal. Dewasa ini, siklus kekeringan yang dipengaruhi oleh mekanisme iklim global, yaitu ENSO (El Nino South Oscillation) di Samudra Pasifik dan IOD di Samudera Hindia, memang terjadi dalam periode perulangan rata-rata selama 7 tahun. Pada periode perulangan tersebut lazimnya hanya terjadi satu kali tahun kering yang berat dan umumnya disusul oleh satu tahun basah (La Nina), bukannya 7 tahun kering secara terus-menerus.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu