BAGAL

BAGAL

Serial Quran dan Sains

Bagal disebut hanya satu kali dalam Alquran, yaitu dalam Surah an-Naḥl‎/16: 8.

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (Alquran, Surah an-Naḥl‎/16: 8)

Nabi Muḥammad dikisahkan menunggang bagal dalam berbagai kesempatan. Beberapa riwayat yang menyebut Nabi bersamaan dengan bagal di antaranya:

Aku (Ilyās bin Salamah) menuntun bagal putih yang ditunggangi Rasulullah, Ḥasan, dan Ḥusain, hingga masuk ke kamar Rasulullah. Salah satu dari keduanya berada di depan, dan yang lain berada di belakang Rasulullah (Riwayat Muslim dari Ilyās bin Salamah)

Aku (‎‘Abbās bin ‘Abdul Muṭṭalib) turut serta dalam Perang Hunain bersama Rasulullah. Aku dan (keponakanku) Abū Sufyān bin al-Ḥāriṡ bin ‘Abdul Muṭṭalib bertugas melindungi Rasulullah dan tidak sedikit pun berpisah dari beliau. Pada saat itu beliau menunggangi bagal putih miliknya, hadiah dari Farwah bin Nufāṡah al-Juzāmi. Ketika pasukan muslim dan kafir berhadap-hadapan, pasukan muslim lari mundur. Melihat hal itu, Rasulullah menunggangi bagalnya berjalan ke arah pasukan kafir. Sementara itu, aku terus saja memegangi tali kekang bagal itu dengan sedikit menariknya ke belakang agar hewan itu tidak berjalan terlalu cepat, sementara Abū Sufyān memegangi perlengkapan milik Rasulullah (Riwayat Muslim dari ‎‘Abbās bin ‘Abdul Muṭṭalib

Diriwayatkan dari al-Barrā’ (bin ‘Āzib), bahwa seseorang dari Bani Qais menanyainya, “Apakah kalian lari meninggalkan Rasulullah pada perang Hunain?” ia menjawab, “(Ya), tapi Rasul tidak. Kaum Hawazin adalah para pemanah ulung. Ketika kami menyerang, mereka lari, lantas kami bergegas memunguti jarahan. Namun ketika itu kami dihadang oleh panah-panah (musuh). Aku melihat Nabi mengendarai bagal putihnya. Abū Sufyān bin al-Ḥāriṡ memegangi tali kendalinya. Nabi berkata, “Aku adalah Nabi; tidak perlu dipertanyakan”. Isrā’il dan Zuhair (dua perawi hadis ini) berkata, “Nabi turun dari bagalnya”. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari al-Barrā’ bin ‘Āzib)

Suatu ketika Rasulullah tiba di suatu bukit. Ketika itu seorang pria naik ke atas bukit dan berteriak kencang, mengatakan, “Tidak ada Tuhan selain Allah; Allah Mahabesar!” ketika itu Rasulullah sedang menunggangi bagalnya, dan bersabda, “(Tidak perlu berteriak seperti itu), karena sesungguhnya kalian tidak sedang memanggil Tuhan yang tuli dan jauh.” Beberapa saat kemudian beliau bersabda, “wahai Abū Mūsā -atau: Wahai ‘Abdullāh- maukah engkau aku tunjukkan sebuah kalimat yang merupakan sebagian dari perbendaharaan surga?” “Mau,” jawab Abū Mūsā. Rasulullah bersabda, “(Kalimat itu adalah)lā ḥaula walā quwwata illā billāh -tiada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak Allah”. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Mūsā al-Asy’ari)

Suatu hari Rasulullah datang menjengukku (Jābir bin ‘Abdullāh). Pada saat itu, beliau tidak mengendarai bagal maupun kuda. (Riwayat al-Bukhāri dari Jābir bin ‘Abdullāh)

Rasulullah ketika wafat tidak meninggalkan uang dinar, dirham, budak lelaki, budak perempuan, dan tidak sesuatu pun. Beliau hanya meninggalkan seekor bagal putih, sebilah pedang dan setapak tanah yang dijadikan sebagai sedekah. (Riwayat al-Bukhāri dari ‘Amr bin al-Ḥāri)

Kami turut serta bersama Rasulullah pada perang Tabuk. Ketika itu penguasa Ailah (bernama Banah bin Rubah) menghadiahi Rasulullah seekor bagal putih (meminta beliau agar tidak mencopotnya dari kursi kepemimpinannya). Sebagai balasannya, Rasulullah memberinya pakaian dan memutuskan untuk melakukan perjanjian damai dengannya (dengan kewajiban membayar jizyah. (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Ḥumaid as-Sā‘idi)

Aku melihat Rasulullah sambil menunggangi seekor bagal putih, berpidato di hadapan orang banyak di Mina, ketika matahari naik sejengkalan. Ketika itu Ali adaah orang yang menyampaikan pesan beliau dengan suara lantang, sementara orang-orang ada yang duduk dan ada pula yangberdiri. (Riwayat Abū Dāwūd dari Rāfi’ ‘Amr al-Muzani)

Dalam perkara pengguguran janin, Rasulullah memutuskan bahwa diyatnya adalah memberikan seorang budak lelaki, budak wanita, seekor kuda, atau seekor bagal. (Riwayat Abū Dāwūd dari Abū Hurairah)

Bagal juga disebut dalam kisah Khalifah Ali bin Abi Talib. Menjelang berangkat perang, Ali mengendarai bagal. Karena penasaran, orang-orang menanyainya, mengapa ia lebih memilihbbaga dari pada kuda yang dapat membawanya berlari jauh lebih cepat. Mendengar pertanyaan itu, ia dengan tegas menjawab bahwa ia tidak berniat melarikan diri dari medan pertempuran.

Perikehidupan Bagal

Bagal adalah anak hasil kawin silang antara keledai jantan (Equus africanus asinus) dan kuda betina (Equus ferus cabalus). Kuda dan keledai adalah jenis yang berbeda, dengan susunan kromosom yang juga berbeda. Penampilan bagal beragam, bergantung pada kombinasi tipe kuda betina dan tipe keledai jantan yang dikawinsilangkan.  Penampilan bagal yang berbeda berbuntut pada penamaan yang juga berbeda. Ada bagal yang dinamai Quarter Horse Mule, Belgian Mule, Appaloosa Mule, Tennessee Walker Mule, Miniature Mule, dan seterusnya. Sebagai contoh, seekor keledai jantan berperawakan kecil apabila dikawinkan dengan kuda betina bertubuh kecil akan menghasilkan, di antaranya, varietas yang disebut sebagai bagal miniatur (Miniature Mule).

Persilangan antara kuda dan keledai tidak hanya melahirkan bagal. Bila pasangannya dibalik, yakni kuda jantan dikawinkan dengan keledai betina, maka akan menghasilkan hewan yang disebut hinny. Hinny umumnya bertubuh lebih kecil daripada bagal. Ditengarai hal itu disebabkan oleh hal yang bersifat fisiologis, di mana kandungan keledai betina lebih kecil daripada kuda, atau oleh hal-hal yang bersifat genetik. Pada umumnya hinny agak sulit dijumpai karena jumlahnya tidak terlalu banyak. Masalah utama dalam perkawinan silang model ini terletak pada kuda jantan yang sangat pemilih dalam mencari jodohnya, berbeda dengan keledai jantan yang cenderung tidak terlalu pemilih.

Sejak kapan bagal “dibentuk” oleh manusia, tidak ada yang dapat memastikan. Diduga persilangan ini sudah dilakukan sejak lama, mengingat  domestikasi kuda dan keledai sudah dilakukan sejak 4.000 SM. Kendati demikian, tidak ada catatan yang menunjukkan pada masa peradaban mana manusia mulai mengawinkan keledai dan kuda. Bagal juga hanya sedikit tercatat mempengaruhi budaya manusia.

Bagal memiliki kesabaran, daya tahan tinggi, dan pandai memilih jalan yang aman, terutama di lingkungan pegunungan -sifat-sifat yang diwarisinya dari keledai. Dari kuda mereka mewarisi kekuatan dan keberanian. Mereka yang pernah bekerja dengan bagal dan kuda tentu lebih memilih bagal karena kesabarannya dalam membawa beban yang berat. Kelebihan lainnya adalah kesehatan dan daya tahan tubuh. Kulit bagal lebih tidak sensitif terhadap penyakit, serangga, dan cuaca dibanding kuda. Kukunya yang tunggal jauh lebih keras daripada kuku kuda, dan dapat digunakannya untuk menyepak. Hal ini sangat membantunya mempertahankan diri dari pemangsa. Bagal tidak saja dapat menyepak ke depan atau belakang, tapi juga ke samping.

Berat standar bagal sangat bervariasi, antara 20-500 kg. Kemampuannya dalam mengangkat beban sangat tergantung pada kemampuan individu. Bagal dengan perawakan besar dan kekar, yang biasa digunakan sebagai pengangkatakomodasi militer, tercatat mampu mengangkat beban seberat 72 kilogram dan berjalan sejauh 26 km tanpa berhenti. Umumnya bagal dapat mengangkat beban mati seberat 20% dari berat tubuhnya, atau hingga sekitar 90 kg. Bila mengangkut beban hidup, misalnya manusia, bagal dapat mengangkat beban setara dengan 30% berat tubuhnya. Dalam hal jarak yang mampu ditempuh, bagal relatif lebih kuat daripada kuda.

Variasi perawakan dan warna bulu bagal cukup banyak. Dari sudut genetika, kromosom bagal berjumlah ganjil, suatu hal yang menyebabkannya mandul, tidak dapat menghasilkan keturunan. Kromosom keledai berjumlah genap (62) dan kromosom kuda juga genap (64). Hasil perkawinan keduanya, bagal, memiliki jumlah kromosom 63. Kondisi yang sama·juga dialami hinny. Pada dasarnya semua organ yang diperlukan dalam proses reproduksi tersedia lengkap, baik pada bagal maupun hinny. Kendati begitu, apabila mereka kawin, baik dengan jenisnya sendiri maupun dengan kuda atau keledai, perkawinan itu tidak  akan menghasilkan keturunan. Meski begitu, bagal masih saja memiliki nafsu berahi, karena memang organ reproduksinya lengkap. Pada musim kawin bagal jantan akan berperilaku berlebihan dan tidak terkontrol. Untuk mengatasinya, umumnya bagal jantan dikebiri.

Kendati umumnya mandul, namun dari 1527 sampai sekarang tercatat ada sekitar 60 bagal betina yang menghasilkan anakan. Di Cina pada 1984, misalnya, dilaporkan ada seekor bagal betina melahirkan anak, demikian juga di Maroko pada 2002. Sayangnya laporan-laporan itu tidak disertai bukti yang kuat. Akhirnya konfirmasi tentang hal tersebut secara ilmiah didapatkan seiring lahirnya anakan jantan dari seekor bagal betina pada 2007 di Colorado, Amerika Serikat. Hasil tes darah dan bulu anak bagal ini membuktikan bahwa kedua hewan itu memang anakan dan indukan. Dengan demikian, bagal betina masih dapat melahirkan anak, akan tetapi kejadiannya sangat langka. Anakan hasil kawin silang antara kuda betina dengan keledai jantan seringkali sulit diprediksi. Ada perjudian genetik di sini. Seekor kuda betina apabila dikawinkan dengan keledai yang sama akan menghasilkan anak-anak yang mirip satu sama lain. Akan tetapi, ada kuda betina yang menghasilkan anak-anak yang berbeda walaupun dikawinkan dengan keledai jantan yang sama. Bagal dapat ditemukan dalam berbagai penampilan. Ada pencinta bagal yang ingin bagalnya lebih mirip kuda, namun bertelinga mirip keledai. Hal ini menjadi ladang bisnis tersendiri bagi para peternak bagal. Saat ini mereka sudah dapat mengetahui berbagai indukan kuda yang baik untuk menghasilkan berbagai bentuk bagal yang laku di pasaran.

Bagal bukanlah hewan yang keras kepala. Segitu menemukan situasi yang berbahaya, ia cenderung memilih berhenti dan berdiam diri, atau kalaupun lari pastilah tidak terlalu jauh. Hal ini membuat bagal sangat aman dikendarai dan menjadi kesukaan mereka yang menyukai perjalanan wisata alam. Hampir selama 100 tahun pengelola Taman Nasional Grand Canyon di Amerika Serikat selalu menggunakan bagal bagi para pelanggannya. Perilaku bagal sangat tepat untuk dijadikan kendaraan dalam perjalanan melintasi lingkungan pegunungan yang cukup berbahaya. Bagal ternyata lebih kuat dan tidak terlalu memilih-milih makanan, tidak seperti kuda. Layaknya keledai, bagal hanya perlu makanan dalam jumlah sedikit dan tidak menuntut pakan berkualitas baik. Umumnya jam kerja bagal lebih panjang daripada kuda, demikian juga masa hidupnya. Bagal cenderung lebih berhati-hati dan menjaga diri dari kecelakaan yang dapat melukai dirinya. Seperti halnya gajah, bagal memiliki memori yang kuat. Bagal ingat dengan baik siapa yang pernah menyakitinya, walaupun itu sudah lama terjadi. Bagal adalah hewan sosial seperti induknya, kuda. Meski demikian, tidak terlalu mengherankan apabila ada bagal muda memisahkan diri dari rombongan, lebih suka menyendiri, atau bahkan berkumpul dengan manusia. Bagal termasuk hewan yang sangat dekat dan bergantung kepada manusia, terutama mereka yang memeliharanya dengan baik. Bagal juga jauh lebih toleran terhadap kehadiran anjing daripada kuda.

Pada pertengahan abad XX penggunaan bagal untuk berbagai keperluan menurun seiring munculnya industrialisasi di berbagai belahan dunia. Penggunaan bagal sebagai penarik bajak dalam ranah pertanian, penarik kayu dalam industri kehutanan, dan penarik gerobak untuk mengangkut hasil bumi, telah digantikan posisinya oleh mesin. Namun, untuk alasan tertentu, di beberapa bagian dunia manusia masih memanfaatkan jasa bagal. Seperti sudah disebutkan, bagal masih dijadikan alat transportasi pendukung wisata alam di Taman Nasional Grand Canyon, AS, karena hewan ini sangat aman ditunggangi. Para penggemar bagal di Amerika Serikat juga cukup banyak sehingga   industri peternakan bagal dapat terus eksis. Serbagai kompetisi bagal juga terus dilestarikan di sana untuk tetap menghidupkan kegemaran mereka akan hewan ini.

Dalam industri pariwisata, bagal dimanfaatkan sebagai hewan tunggangan sekaligus pengangkut barang. Di objek wisata pendakian gunung di Sierra Nevada, California, Amerika Serikat, bagal digunakan untuk mengangkut akomodasi pendakian. Jasa angkut dengan bagal sangat diperlukan di sini. Bagal juga menjadi hewan yang penting bagi kalangan Amish, suatu kelompok keagamaan yang eksklusif di Amerika Serikat, yang menolak menggunakan mesin sama sekali. Mereka menggunakan bagal untuk membajak sawah, menarik kereta, dan pekerjaan lainnya.

Di banyak negara, di antaranya di Maroko, bagal juga masih digunakan, demikian pula di Cina dan beberapa negara lainnya. Bagal juga memainkan peran sebagai pengangkut logistik dalam beberapa peperangan, tidak saja dalam perang saudara di AS, tapi juga dalam perang Afghanistan. Baik pihak gerilyawan Afghanistan, Rusia, maupun AS banyak menggunakan jasa bagal untuk mengangkut peralatan perang di Iingkungan pegunungan di negara ini. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu karavan kuda melewati jalur sutra dengan membawa garam dan teh. Di saat yang sama karavan bagal membawa bahan bangunan sampai ke lokasi pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut di Yichang, provinsi Hubei, Cina.

Kehadiran bagal di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Bahwa manusia mengawinkan dua jenis hewan yang berbeda, yakni kuda dan keledai, juga tidak terjadi dengan sendiri dan merupakan suatu kebetulan. Semua itu tentu sudah ada yang mengatur dan menulis “skenarionya”; Dialah Allah Yang Mahakuasa.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu