ASAL MUASAL KEHIDUPAN

ASAL MUASAL KEHIDUPAN

Serial Quran dan Sains

Tentang pertanyaan kapankah kehidupan mulai ada, Alquran memberi jawaban yang tegas, yakni bahwa kehidupan bermula saat alam semesta tercipta. Beberapa ayat di bawah ini menjelaskan hal tersebut.

 أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ۝

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman? (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 30)

 ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ۝

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” (Alquran, Surah Fuṣṣilat/41:11)

Dalam kaitannya dengan asal mula makhluk hidup, kejadian di atas dapat saja berarti bahwa semua makhluk hidup di bumi ini diciptakan dari air sebagai komponen esensialnya, atau bahwa setiap makhluk hidup berasal dari dalam air. Faktanya, setiap kehidupan berasal dari kondisi akuatik, dan air adalah komponen utama dari setiap sel makhluk hidup. Tanpa air, kehidupan tidak dimungkinkan. Karenanya, setiap diskusi tentang kemungkinan adanya kehidupan di planet lain selalu dimulai dengan pertanyaan apakah ada cukup air yang mendukung kehidupan di planet itu.

Teori abiogenesis adalah satu teori yang biasa dipakai dalam mengungkap permulaan kehidupan di bumi. Teori ini menyatakan bahwa kehidupan berawal dari agregat-agregat materi nonhidup.

Bumi diperkirakan sudah berumur 4,6 miliar tahun. Selama miliar pertama dari saat pembentukannya, bumi yang baru ini dihujani oleh material benda langit dari angkasa luar, seperti komet dan objek-objek sebesar asteriod. Energi yang dilepaskan dari tabrakan ini diperkirakan cukup untuk menimbulkan panas yang mampu menguapkan lautan yang baru terbentuk serta membunuh semua makhluk hidup yang mulai muncul di daratan.

Pada awal terbentuknya, kondisi atmosfer bumi belum sempurna sehingga menimbulkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya polimer organik yang terbentuk dari pertemuan monomer organik yang berasal dari daratan dan luar angkasa.

Teori lain yang masih diteliti sampai saat ini mengindikasikan bahwa kehidupan di bumi dimulai jauh di dasar laut. Menurut teori ini, awal kehidupan terjadi di celah atau ventilasi magma di sekitar kawah gunung berapi bawah laut, yang dikenal dengan nama hidrotermal (hydrothermal).

Walaupun berada di tempat yang sangat gelap dan dingin beberapa kilometer di bawah permukaan laut, tampaknya kehidupan dapat berlangsung di sekitar lingkungan ventilasi kerak bumi yang bersahabat itu. Suhu di sekitar ventilasi ini dinilai sangat ideal bagi terciptanya komunitas kehidupan. Hanya saja, rantai makanan yang terbentuk di tempat ini berbeda dengan rantai makanan yang bergantung pada keberadaan sinar matahari. Di sini, bahan dasar kehidupan adalah mineral-mineral yang dihasilkan oleh magma. Teori ini terus berkembang seiring makin banyaknya bukti yang terkumpul melalui bantuan kapal selam tak berawak yang didesain untuk menyelam hingga kedalaman tersebut.

Pengetahuan baru ini ditemukan oleh para peneliti dengan menggunakan kapal selam laut dalam “Alvin” di kawasan Pasifik (21° LU) pada 1979. Pengukuran suhu air di pusat semburan mencapai 380 °C.

Ventilasi geotermal yang demikian ini dinamakan smoker karena kemiripannya dengan cerobong yang mengeluarkan zat serupa asap yang terdiri dari cairan panas yang kaya mineral. Cairan panas ini berasal dari air laut yang masuk ke dalam lubang saluran dan bersentuhan langsung dengan kerak bumi yang sangat panas, yang baru terbentuk.

Teori lain mengenai asal kehidupan mengindikasikan bahwa kehidupan di bumi berasal dari antariksa (space). Menurut teori ini, bahan dasar kehidupan datang bersama meteor yang jatuh saat bumi sedang dalam masa pembentukan. Bahan dasar kehidupan itu salah satunya adalah molekul (materi) yang disebut porfirin. Porfirin adalah molekul dengan struktur kimia yang terdiri dari sistem makrosiklik tetrapirolik (tetrapyrrolic macrocycle ring), yang merupakan materi dasar pembentuk inti hemoglobin (pada hewan tingkat tinggi dan manusia), atau inti klorofil (pada jenis tumbuhan tingkat tinggi, rendah, atau mikroorganisme). Porfirin tersebut sampai ke bumi bersama meteorid-meteorid yang menabrak bumi. Diperkirakan, porfirin ini kemudian masuk ke dalam organisme uniseluler yang paling tua/sederhana, dan mengalami reaksi biokimia untuk berkembang menjadi klorofil. Seperti halnya teori ventilasi gunung berapi bawah laut, teori ini juga mengindikasikan bahwa mikroba adalah makhluk hidup pertama yang muncul di bumi.

Teori-teori tentang awal mula makhluk hidup ini muncul dan berkembang sejalan dengan temuan-temuan alat bantu, seperti mikroskop, dalam menjelaskannya. Beberapa teori ditolak karena kekurangan bukti, dan beberapa lainnya masih dianggap relevan karena didukung bukti yang ditemukan dengan alat-alat bantu dan peraga.

Tumbuhan diyakini sebagai makhluk tingkat tinggi pertama di bumi. Alga, bentuk tumbuhan paling sederhana, ditemukan pada masa pre-Cambrian, masa daratan bumi paling tua. Organisme yang berupa binatang diperkirakan muncul beberapa masa setelahnya. Dari masa itu hingga masa kini, dunia binatang dan tumbuhan masih terus berkembang.

Binatang, seperti halnya tumbuhan, bermula dari lautan. Hal ini sejalan dengan penjelasan Alquran bahwa kehidupan berasal dari air: al-mā’, baik dari langit maupun laut. Dalam ayat di bawah ini misalnya, air digambarkan sebagai elemen terpenting bagi kehidupan tumbuhan.

 الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّن نَّبَاتٍ شَتَّىٰ۝

(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan. (Alquran, Surah Tāhā/20: 53)

Arti kedua dari kata al-mā’ yang menunjuk pada semua bentuk cairan, digunakan untuk menunjukkan dasar kehidupan binatang pada ayat berikut:

 وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِّن مَّاءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 45)

Dengan demikian, pernyataan yang ada dalam Alquran mengenai asal muasal kehidupan, baik itu menunjuk pada kehidupan secara umum, pada elemen yang dapat “melahirkan” tumbuhan yang tumbuh di tanah, ataupun air mani yang dimiliki oleh binatang kelompok tertentu, adalah sesuai dengan data-data ilmiah yang ada saat ini.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu