ARGUMEN RANCANGAN

ARGUMEN RANCANGAN

Setelah membaca berbagai ulasan dan menilik sejumlah perdebatan serius mengenai signifikansi, relevansi, dan urgensi argumen rancangan, sudah selayaknya kita bertanya pada diri sendiri, “Pelajaran atau nilai apa yang bisa diambil dari argumen ini oleh khalayak ramai dan tradisi Islam, khususnya di masa kini?”

Menurut saya, argumen rancangan seharusnya dijadikan salah satu pilar inti ketika melihat iman melalui pendekatan alam, yakni pendekatan yang menekankan akal dan bertolak belakang dengan pendekatan teologis wahyu yang lebih mengedepankan keyakinan, penerimaan, dan otoritas keagamaan. Lalu, bagaimana kita menyikapi konsensus modern yang mengatakan bahwa rancangan, atau setidaknya pertimbangan-pertimbangan simplistis Al-Ghazālī  dan Harūn Yaḥya, sudah usang dan tak lagi bernilai dalam debat-debat teologis? Saya rasa argumen rancangan tidak seharusnya dipertentangkan dengan evolusi, khususnya jika evolusi yang dimaksud tidak sepenuhnya ‘buta’. Sejatinya, seperti dikemukakan Case Winters, rancangan tidak harus dipahami dalam bentuknya yang terbatas seperti itu. Ia menulis:

“Bagaimana jika terdapat asumsi dalam argumen rancangan bahwa beberapa hal terjadi karena sebuah keniscayaan (by necessity), hal-hal lain terjadi karena kebetulan (by chance), dan juga ada yang terjadi karena keterpengaruhan terbuka dengan kebebasan yang relatif? Sebuah rancangan bisa saja meliputi keseluruhan spektrum, ada yang mungkin dan yang ajeg, ada yang kacau-balau dan yang beraturan, serta ada yang baru maupun yang berkesinambungan”.

Beberapa teolog modern dan progresif sebenarnya telah menyusun ulang konsep rancangan untuk menyiratkan keterarahan umum atau ‘garis vektor’ penciptaan yang berkesinambungan dan berevolusi, tetapi mereka belum sampai pada sebuah cetak biru yang terperinci dan siap pakai. Dalam tafsiran yang paling bebas, rancangan bahkan bisa diartikan sebagai kondisi-kondisi utama yang memungkinkan terciptanya kehidupan, kesadaran dan kecerdasan yang hamper serupa dengan ‘penalaan halus’ terhadap konstanta-konstanta alam semesta yang kemudian melahirkan prinsip antropik. Jelasnya, konsep rancangan yang demikian jauh lebih dekat dengan teori evolusi yang standar dibandingkan argumen karunia atau intervensi ilahi.

Gagaan/argumen rancangan seperrtinya diterima begitu saja dalam tradisi-tradisi Islam dengan tingkat potensi dan relevansinya beraneka ragam sesuai dengan level kepentingnnya. Bahkan, kita menjumpai banyak sekali pembahasan seputar argumen rancangan dalam filsafat klasik Islam. Salah satu contohnya adalah gagasan Ibn Rusyd yang demikian kuat bahwa argumen rancangan  (a) salah satu argumen yang paling tegas mendukung keberadaan dan pemuliaan Tuhan; (b) termaktub dalam ayat Alquran (misalnya Alquran Surah Al-Gāsyiyah, 88: 17; Al-Ḥajj, 22: 73); dan (c) memungkinkan keragaman pemahaman antara kaum awam dan kaum elite.

Saya juga telah mengemukakan bahwa tulisan-tulisan Muslim kontemporer, terdapat keterkaitan erat antara  penekanan kuat atas argumen rancangan dan penolakan yang hampir total atas evolusi Darwin sekalipun scenario-skenario evolusi materi alam semesta, semisal kosmologi Dentuman Besar (Big Bang), usia alam semesta yang sangat tua, serta sistem tata surya dan bumi umumnya masih diterima.

Karena terus tak mengindahkan revolusi Darwin, para teolog dan pemikir Muslim jadi enggan mengkaji argumen rancangan dan hanya berupaya menemukan aspek-aspek di dalamnya yang tetap bisa mempertahankan kerangka teologis Islam dan paradigma evolusi biologis. Situasi ini jugalah yang membuat Muslim acuh tak acuh dan hanya menjadi penonton dalam berbagai perdebatan sengit (intelektual dan sosio-politik) di Barat seputar topik-topik ID dari sudut pandang ilmiah, teologis atau sosiologis.

Leave a Reply

Close Menu