ARGUMEN RANCANGAN DALAM ISLAM

ARGUMEN RANCANGAN DALAM ISLAM

Alquran menceritakan kisah Nabi Ibrahim sebagai renungan filosofis dan rasional pertama manusia terhadap alam semesta dan bagaimana renungan tersebut bisa mengantarkan seseorang kepada Tuhan. Dalam kisah tersebut, sekalipun Tuhan memerintahkan Ibrahim agar mengamati dunia dan mengerahkan daya ciptanya, Ibrahim ternyata tidak berhasil sampai kepada Tuhan dengan segala pikiran rasional dan daya cipta yang ia miliki. Ia justru berseru, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk orang yang sesat (Alquran Surah Al-An‘ām, 6: 77). Ayat Alquran berikut juga tampaknya merepresentasikan adanya rancangan atau keteraturan dunia: Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata: “Inilah Tuhanku” Tatkala dia melihat bulan terbit, dia juga berkata: “Inilah Tuhanku” Begitu juga, tatkala melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar” (Alquran Surah Al-An‘ām  6: 76-78) dan menjadi dalil penegas, bukan kesimpulan induktif.

Barangkali, versi tertua argumen rancangan dapat ditelusuri hingga Al-Kindī yang -merujuk pada dalil al-‘ināyah (argumen ‘pemeliharaan’ atau ‘kebajikan’)- menegaskan bahwa “keteraturan dan keindahan fenomena alam semesta mustahil tidak memiliki tujuan apa atau merupakan kebetulan belaka”. Teolog Asy’ariah terkemuka yang juga ahli fiqih, Al-Bāqillāni (950-1013) mengungkapkan argumen tersebut dengan analogi sederhana: Dunia pasti memiliki Pencipta dan Perancang (Muhdits wa Musawwir) “layaknya tulisan yang pasti memiliki penulis, lukisan yang pasti memiliki pelukis, dan bangunan yang pasti memiliki tukang bangunan”.

Al-Ghazālī  juga menguraikan argumen ini secara terperinci dalam bukunya yang kurang populer, Al-ikmah fī Makhlūqātillāh (Kearifan dalam Penciptaan/Makhluk Tuhan), yang diedit dan diterbitkan pertama kali pada 1978. Buku tersebut secara khusus membahas dunia dan memuat berbagai pandangan tentang kinerja, fungsi, dan sifat dunia yang mencukupi kehidupan manusia. Dalam pengantar buku tersebut, ia menulis:

Ketahuilah [wahai pembaca], Semoga Allah Memberkatimu. Jika kamu merenungkan dunia ini, kamu akan melihatnya laksana rumah yang telah memuat segala sesuatu yang dibutuhkan. Lapisan-Iapisan langit ditinggikan layaknya langit-Iangit rumah, bumi terhampar luas seperti sebuah karpet, bintang-bintang bergantungan seperti lampu-Iampu dan manusia adalah si tuan rumah yang memiliki hak penuh untuk mengelola rumah tersebut. Sementara itu, tumbuhan ditanam untuk kebutuhan manusia dan beraneka-ragam spesies binatang juga ditujukan untuk kebutuhan dan kepentingan si tuan rumah ….

 

Ia menambahkan, “Semua ini merupakan dalil nyata yang memperlihatkan pencipta alam semesta. Rancangan yang begitu menakjubkan ini juga menunjukkan luasnya pengetahuan sang pencipta, sedangkan kerapian segala sesuatu di dalamnya juga menunjuk kepada maksud-maksud sang pencipta”.

Dalam beberapa bab buku tersebut, yang masing-masing secara khusus mengulas satu makhluk/bagian di alam semesta, Al-Ghazālī  menguatkan prinsip-prinsip teleologis dan antropiknya dengan mengutip ayat-ayat Alquran. Misalnya saja, dalam bab tentang kebijaksanaan di balik penciptaan bumi, ia mengutip, Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi dengan kukuh agar bumi tidak goncang bersama kamu; begitu juga (mengatur) sungai-sungai dan jalan-jalan yang akan membimbingmu (Alquran Surah An-Naḥl, 16: 15). Sementara itu, dalam bab mengenai lautan, ia mengutip, Bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa manfaat bagi manusia. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (Alquran Surah Al-Baqarah, 2: 164). Dalam bab tentang tubuh manusia, ia menulis,

“Lalu perhatikanlah penciptaan tubuh manusia, dapatkah kamu temukan sesuatu yang tak berguna? Tidakkah penglihatan diciptakan untuk melihat berbagai objek dan warna. Maka jika warna sudah ada, sementara pandangan tidak ada, masihkah warna memiliki arti? Dan bukankah pendengaran diciptakan untuk menangkap suara-suara, lalu bila suara sudah ada, sementara tidak ada pendengaran untuk menangkap suara tersebut, masihkah suara itu berguna? Begitu pula dengan indra yang lain.

 

Dari sinilah AI-Ghazālī merasa sah-sah saja menarik kesimpulan mengenai rancangan sebagaimana berikut,

“Semua contoh ini merupakan kesaksian-kesaksian yang berbeda-beda, bukti-bukti yang saling menguatkan, dan isyarat-isyarat yang menakjubkan tentang adanya pencipta alam semesta yang secara jelas menunjukkan kesempurnaan kuasaNya dan keajaiban dalam kebijaksanaan-Nya. Inilah karya Sang Mahakuasa, Sang Pengawas, dan Sang Mahaagung.”

Keserupaan dan gaung dalam berbagai pendapat dan tulisan para pemikir dari budaya-budaya dan zaman-zaman yang berbeda selalu menjadi hal menarik dan mengandung pelajaran. Misalnya saja, ketika menyinggung Al-Ghazālī, John Ray, seorang pendeta-naturalis, menulis (lima abad setelah AI-Ghazālī ) sebagai berikut:

Tidak ada argumen paling hebat atau lebih jelas dan meyakinkan tentang Keberadaan Tuhan dibandingkan argumen Seni dan Kebijaksanaan yang demikian dipuji. Argumen tersebut mengatakan bahwa Keberadaan Tuhan dapat diketahui dari Penciptaan dan Wujud Jasmani, Aturan dan Keberaturan, Tujuan dan kegunaan segala bagian dan anggota dari susunan agung Langit dan Bumi.

Di zaman kita saat ini, Michael Denton lebih jauh berpandangan: “Karena utuhnya universalitas kesempurnaan, maka ke mana pun kita melihat, sedalam apa pun kita memandang, kita akan menemukan keelokan dan kecerdikan dalam sebuah kualitas yang sangat transenden dan jauh sekali dari kebetulan”.

AI-Ghazālī  menemukan banyak sekali ayat Alquran yang menurutnya membahas seputar rancangan alam semesta, misalnya,

Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atasnya, bagaimana Kami meninggikan dan menghiasinya lalu langit tersebut tidak memiliki keretakan sedikit pun? (Alquran Surah Qāf, 50: 6)

 

Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit untuk kamu. Sebagian (air hujan tersebut) menjadi minuman dan sebagian lain (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan yang menjadi tempat kamu menggembala ternakmu. Dengan air hujan itu pula, Dia menumbuhkan air tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (Alquran Surah an-Naḥl, 16: 10-11)

(Menurut Ibn Rusyd, alasan di balik luasnya paparan Alquran mengenai rancangan adalah karena Wahyu tersebut ingin mengajarkan manusia untuk memberdayakan segala potensi mentalnya dengan perantara argumen rancangan yang menurutnya sangat tepat).

Namun, AI-Ghazālī tidak cukup puas dengan contoh-contoh yang disajikan Alquran. Karena itu, ia mencari lebih banyak fenomena dan tanda-tanda rancangan di seluruh bagian alam semesta. Dari sekian banyak contoh, ia menyebutkan beberapa hal berikut:

  • Bintang-bintang berguna sebagai penunjuk arah dan waktu bagi manusia. Letak bulan dirancang khusus untuk membantu manusia saat beraktivitas pada malam hari.
  • Kayu lebih ringan dibandingkan air agar perahu bisa mengapung dan mengangkut manusia di lautan.
  • Spesies binatang yang begitu banyak, beraneka-ragam, dan selaras adalah tanda Kemahakuasaan Pencipta. Masing-masing spesies tersebut memiliki peran yang harus dimainkan di alam semesta (termasuk estetika), sekalipun tak jarang peran tersebut sulit dikenali. AI-Ghazālī kemudian menyimpulkan, “Perhatikan bagaimana kebijaksanaan Pencipta mendahului seni penciptaan.”

 

Terakhir, AI-Ghazālī mengutarakan kesimpulan umumnya,

“Wahai pembaca, apa pendapatmu tentang penciptaan yang telah sampai pada tingkatan-tingkatan demikian? Menengadahlah ke atas dan simpulkan sendiri Kemahakuasaan Penciptanya, Keagungan, Kekuatan, Pengetahuan-Nya, Kehendak-Nya, dan Kebijaksanaan yang sempurna terhadap makhluk-mahklukNya”.

 

Ia juga menambahkan:

Siapa pun yang melihat semua ini dengan pikiran dan mata hatinya akan memeroleh pengetahuan tentang Tuhan sehingga orang tersebut akan memuliakan-Nya dan semua ciptaanNya. Tidak akan ada pengingkaran atas segala sesuatu yang tersirat bagi mereka yang merenung, karena setiap kali akalnya memerhatikan keajaiban rancangan dan keagungan penciptaan, pengetahuan dan keyakinannya [atas Pencipta] akan semakin dalam sehingga orang tersebut pun tunduk dan memuji Sang Penguasa.

Leave a Reply

Close Menu