APA BAGUSNYA SEPEREMPAT MATA?

APA BAGUSNYA SEPEREMPAT MATA?

William Paley terkenal dengan pertanyaannya tentang orang yang menemukan arloji di tanah lapang; apakah orang tersebut bisa yakin bahwa arloji yang ia temukan dirakit dengan baik sehingga dengan sendirinya bisa menunjukkan waktu yang tepat. Demikian juga, bahkan lebih dari itu, para penentang evolusi sudah lama beralasan bahwa organ-organ kompleks seperti mata menunjukkan bahwa tidak ada proses acak apa pun yang bisa menjelaskan rancangan, pemasangan, dan peralihan resolusi tinggi ini seperti halnya kamera warna. Bagaimana mungkin bagian-bagian mata yang berbeda (lensa, retina, pupil, dll) berevolusi (sendiri-sendiri) dan berkumpul untuk saling melengkapi sehingga terbentuk sebuah gambar yang tajam?

Darwin sendiri menyadari betul bahwa perkara ini sulit untuk dijelaskan, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai pukulan telak bagi teorinya. Tak lama kemudian, para ahli biologi justru mengemukakan penjelasan sederhana dan masuk akal lalu menemukan bukti pendukung teori Darwin. Singkatnya, menurut penjelasan mereka, penglihatan tidaklah harus bersifat kompleks, dan kepekaan pada cahaya saja (tanpa kemampuan membentuk jenis gambar apa pun) sudah merupakan keuntungan tersendiri (dalam mengenali kehadiran sumber cahaya, misalnya lubang atau permukaan laut) yang kemudian akan diseleksi secara alamiah. Penglihatan bisa diperoleh melalui pigmentasi kulit (ketika mata masih belum ada), yakni dengan serat-serat saraf yang tersambung pada titik pembawa informasi ke sistem saraf pusat kemudian ke otak dalam bentuk-bentuknya yang berbeda. Karena itulah, mutasi bisa jadi membelokkan titik tersebut ke sebuah ‘mangkuk’ yang perlahan-lahan mengubahnya menjadi soket seperti lekuk mata, sementara daerah peka cahaya kini tertutup dan berangsur-angsur berubah menjadi sebuah retina. Lensa adalah unsur terakhir yang akan terbentuk, baik berasal dari epitel yang berkembang dan memanfaatkan kemampuan refraksi yang baru muncul ataupun dari lapisan rangkap kulit yang mengandung air (dapat membiaskan sinar). Skenario di atas mendapat dukungan kuat karena mata yang sesuai dengan setiap tahapannya pernah ditemukan di alam semesta dan dalam fosil-fosil yang usianya di atas 500 miliar tahun. Para evolusionis kemudian beralasan bahwa beberapa cacat dalam rancangan mata kita malah semakin mengukuhkan asal-usul evolusinya; misalnya, fakta bahwa retina memiliki titik buta dan pembuluh darah yang melintasi permukaannya menjadikan ia sebagai sebuah organ yang tak sempurna.

Argumen anatomi bandingan ini begitu kuat mendukung evolusi, sampai-sampai para pendukung teori ini kerap menggunakan argumen tersebut untuk menyerang argumen rancangan. Mereka biasanya bertanya: Bila ciri khas berbagai organ pada tubuh manusia dan binatang-binatang lainnya adalah hasil rancangan (Tuhan) yang sangat terencana dan bukan hasil sebuah evolusi panjang dan pelik yang dipengaruhi oleh mutasi acak dan beragam kondisi lokal, lalu bagaimana menjelaskan berbagai cacat atau ketidaksempurnaan yang dengan mudah bisa ditemui dalam banyak kasus? Contoh-contoh yang biasanya mereka ajukan terbilang sangat kuat seperti dalam beberapa poin berikut:

  • Ukuran kepala manusia terlalu besar jika dibandingkan lubang vagina wanita. Akibatnya, proses persalinan begitu menyakitkan, jika bukan membahayakan.
  • Geraham bungsu kita yang tak berguna; tulang berongga pada unggas yang tak dapat terbang seperti penguin; mata yang tak bisa melihat pada binatang penghuni gua; semua organ itu disebut vestigial (organ yang kehilangan daya guna-penerj.) .
  • Ekor pada janin manusia dan tambahan jari kaki yang adakalanya dijumpai pada kuda, menyerupai jari kaki ketiga dan seterusnya.

Para pendukung rancangan-langsung (atau kreasionisme) tidak bisa menjelaskan perihal ini. Mereka biasanya hanya mengatakan: Ketidakmampuan kami menjelaskan bagian-bagian yang unik ini tidak kemudian menunjukkan bahwa semua bagian tersebut adalah produk salah rancangan. Akan tetapi, para evolusionis teistik memercayai pandangan mengenai alam kreatif yang tak berbatas. Menurut mereka, kehidupan bisa berkembang dalam segala kemungkinan arah melalui proses seleksi yang berangsur-angsur dalam menggerakkan segala hal; dengan ini, siapa pun bisa menjelaskan setiap bagian khas yang “buruk” atau “tak berguna” yang dijumpai pada spesies di dunia pada umumnya.

 

 

Leave a Reply

Close Menu