ANJURAN BERCOCOK TANAM

ANJURAN BERCOCOK TANAM

Islam memberi warna tersendiri terhadap perkembangan pertanian. Hal itu tampak dari beberapa hadis berikut yang secara jelas menganjurkan umat Islam untuk menanami lahan dan menjadikannya kawasan yang produktif.

Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman atau pohon, kemudian hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan apa yang dilakukannya itu menjadi sedekah baginya.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Anas)

Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman, melainkan apa yang dimakan (oleh manusia) dari (hasil) tanaman itu menjadi sedekah baginya; apa yang dicuri (oleh manusia) dari (hasil) tanaman itu pun menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan oleh hewan liar dari (hasil) tanaman itu menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan oleh burung dari (hasil) tanaman itu menjadi sedekah baginya. Begitupun, apa saja yang diambil darinya juga akan menjadi sedekah bagi muslim tersebut.” (Riwayat Muslim dari Jābir)

Kendatipun hari kiamat segera datang, sedang di tangan salah seorang dari kalian terdapat satu bibit pohon kurma, dan kiamat itu tidak segera datang sebelum ia menanam bibit itu, maka hendaklah ia menanamnya.” (Riwayat al-Bukhāri  dalam kitab Al-Adab alMufrad, dan Aḥmad dari Anas)

Hadis yang terakhir ini menyuratkan pesan kepada tiap orang agar memanfaatkan masa hidupnya untuk menanam pohon, meskipun hanya satu, agar dapat dinikmati orang lain, sehingga pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat tiba karena apa yang dilakukannya tercatat sebagai amal sedekah baginya. Dalam riwayat-riwayat yang serupa disebutkan,

 

Jika engkau mendengar kabar bahwa Dajjal telah muncul, sedang engkau sedang menanam tanaman di suatu lembah, maka janganlah engkau terburu-buru membereskannya, karena sesungguhnya masih ada kehidupan bagi manusia setelah masa itu.  (Riwayat al-Bukhāri dalam Al-Adab al-Mufrad dengan sanad yang daif dan mauquf, dari Abdullāh bin Salām)

Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaṭṭāb berkata kepada ayahku, “Apa yang menghalangimu untuk menanami tanahmu?” Ayah menjawab, “Aku sudah sangat renta dan akan mati esok hari.” Umar menimpali, “Aku minta dengan sangat agar engkau mau menanaminya. ” (Tak lama kemudian) aku lihat ‘Umar bin al-Khaṭṭāb menanami tanah itu dengan tangannya sendiri bersama ayahku.” (Dikutip oleh ‘Alā‘ud-Din ‘Ali al-Muttaqi bin usāmud-Dīn al-Hindī dalam Kanzul-‘Ummāl. la kemudian menisbatkan hadis ini kepada Ibnu Jarīr dari ‘Imārah bin Khuzaimah bin Ṡābit)

Karenanya sebagian sahabat menganggap orang yang bekerja untuk mengolah dan memanfaatkan lahan sebagai karyawan Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa salah satu pekerjaan yang terbaik adalah bertani. Alasannya, menurut mereka, karena dengan bertani itulah seseorang dianggap makan dari hasil tangannya sendiri, sesuai dengan sabda Rasulullah,

Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik apa yang yang dihasikan oleh tangannya, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari apa yang dihasilkan oleh tangannya sendiri. (Riwayat al-Bukhāri dari al-Miqdām)

Dikutip Dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu