ANJING

ANJING

Serial Quran dan Sains

Anjing disebut dalam beberapa ayat Alquran. Anjing, misalnya, disebut dalam rangkaian kisah para pemuda penghuni gua (Aṣḥābul-Kahf) sebagai berikut.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا۝

Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidurj dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka (Alquran, Surah al-Kahfi/18: 18)

سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ ۖ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ ۚ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ ۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا۝

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat adalah anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib, dan (yang lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Muḥammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah engkau (Muḥammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun (Alquran, Surah al-Kahfi/18: 22)

Menurut sebuah riwayat nama anjing tersebut adalah Qiṭmīr atau Raqim. Anjing juga dikaitkan dengan sifat buruk seseorang, misalnya mereka yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengingkari kehadiran Tuhan.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ۝

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 176)

Perumpamaan ini memperlihatkan perilaku anjing. Anjing hampir selalu tampak menjulurkan Iidah dan meneteskan air Iiurnya. Ini dilakukannya begitu saja tanpa menunggu sebab-sebab tertentu, misalnya diserang, dikejar, melepas lelah, atau istirahat. Keadaan yang demikian ini menjadi permisalan orang-orang yang menolak kehadiran Allah. Baik sudah diberi peringatan maupun belum, mereka akan selalu meludahkan air liurnya yang kotor. Perilaku demikian ini muncul dari dan merusak jiwa mereka sendiri. Akan tetapi, ia berpotensi untuk menularkannya kepada orang lain. Karena itu, semua orang harus melindungi diri dari pengaruh mereka itu. Adalah tugas semua orang untuk memperingatkan dan menyadarkan mereka yang sedang memperoleh cobaan semacam ini.

Anjing peliharaan pada dasarnya cukup aman karena dipelihara, diberi makan yang baik-baik, dan dibersihkan. Tidak demikian adanya dengan anjing  yang hidup menggelandang. Anjing yang seperti ini dianggap tidak bersih sehingga dapat saja membawa beberapa penyakit. Mungkin inilah yang mendasari hadis di bawah ini,

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. Mereka itu adalah ular, burung gagak berbulu campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing ganas, dan kalajengking (Riwayat Muslim dari ‘Ā’isyah)

Ayat berikut ini berbicara tentang binatang buas yang telah diajari pemiliknya cara berburu menurut kepandaian yang diperolehnya dari pengalaman dan ide manusia, serta ilham dari Allah. Termasuk dalam golongan binatang buas terlatih yang halal hasil buruannya adalah anjing pemburu, elang pemburu, dan cheetah.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ۝

Mereka bertanya kepadamu (Muḥammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan- Nya.” (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 4)

Agar hewan yang disembelih menjadi halal, penyembelih wajib menyebut nama Allah saat menyembelih. Ritual ini bertujuan mengingatkan manusia bahwa mereka membunuh hewan tersebut untuk mendapatkan daging konsumsi, bukan karena alasan sepele. Bila pembunuhan tidak dilakukan dengan cara menyembelih, melainkan dengan berburu memanfaatkan jasa hewan buas seperti elang, anjing, atau cheetah, maka agar dagingnya menjadi halal harus dipenuhi syarat-syarat berikut: (1) hewan pemburu telah dilatih untuk berburu sehingga tidak membunuh mangsanya akibat menuruti naluri membunuhnya saja; dan (2) orang yang melepas hewan pemburu tersebut mesti mengucapkan basmalah saat melepas hewan itu untuk mengejar buruan. Salah satu hadis yang berbicara mengenai hal itu adalah,

Aku bertanya kepada Rasulullah tentang (hukum daging) hewan yang diburu dengan tombak. Beliau bersabda, “Jika hewan itu mati karena terkena bagian runcing (tajam)-nya tombak maka makanlah (dagingnya), namun jika mati terkena bagian tumpulnya maka (menjadi haram untuk dimakan karena) ia mati karena terpukul.” Kemudian beliau melanjutkan, “Apabila anjing itu menangkap buruan untukmu dan ia tidak memakan sedikit pun darinya, maka makanlah (hewan buruan itu) gigitan anjing pemburu itu sama dengan penyembelihan terhadapnya. Akan tetapi, apabila engkau mendapati anjing lain yang turut berburu, dan kamu khawatir anjing lain itu turut membantu anjingmu dalam membunuh binatang buruan tadi, maka jangan kamu makan dagingnya. Sesungguhnya kamu menyebut nama Allah untuk anjing pemburumu saja, dan tidak kepada anjing lainnya.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari ‘Adiy bin Ḥātim)

Pandangan masyarakat Islam tentang peran anjing dalam kehidupan berubah cukup dinamis, dari sebelum masa Islam di Jazirah Arab sampai masa penggunaan rasio pada masyarakat Islam modern. Persepsi-persepsi seputar hewan ini perlu disikapi dengan hati-hati dan rasional, misalnya  persepsi tentang anjing berbulu hitam. Serupa masyarakat Eropa, masyarakat di Jazirah Arab pada zaman dulu percaya bahwa anjing berbulu hitam mewakili kejahatan. Bahkan, lebih dari itu, ia merupakan perwujudan iblis yang menyerupakan diri dalam bentuk hewan. Meski persepsi ini bermula dari mitologi pada masa pra-Islam, namun hal ini bahkan dapat kita temukan dalam sebuah hadis, walaupun banyak ulama tidak menganggapnya sahih. Hadis tersebut berbunyi demikian.

Kalau saja anjing bukanlah salah satu dari makhluk Allah, pastilah aku meminta kalian membunuhnya. Namun, bunuhlah anjing yang berbulu hitam legam, karena yang demikian itu adalah setan. (Riwayat Ibnu Ḥibbān dari Jābir bin ‎‘Abdullāh)   

Hadis lain yang tampaknya juga berpangkal pada kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam adalah,

Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena (ketika itu) mereka melihat sesuatu yang tidak bisa kalian lihat. (Riwayat Aḥmad dan Abū Dāwūd dari Jābir bin ‎‘Abdullāh)

Dalam agama Islam, beberapa mazhab fikih menganggap anjing sebagai hewan yang najis. Salah satu buktinya adalah kewajiban untuk membasuh benda yang dijilat oleh anjing, apa pun warnanya, sebanyak tujuh kali, di mana salah satunya mesti dicampur dengan tanah (debu). Hadis di bawah ini menjelaskan hukum tersebut.

Jika seekor anjing menjilat wadah salah satu dari kalian maka hendaklah ia mencucinya sebanyak tujuh kali. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Mengenai berapa kali basuhan yang mesti dicampur dengan debu, ada banyak versi. Ada yang hanya mengharuskan satu kali, tiga kali, lima kali, bahkan ada pula yang tidak mengharuskan campuran tersebut sama sekali. Perintah ini nyata-nyata memperlihatkan bahwa anjing dalam hal ini air liur anjing -tidak steril, dan mengandung kotoran atau penyakit. Karena itu, wajar apabila kita dianjurkan untuk mencuci objek yang dijilatnya sebersih mungkin sebelum digunakan untuk keperluan manusia.

Tidak hanya menunjukkan kotornya, air liur anjing dalam arti fisik, hadis ini bisa jadi juga menunjukkan bahwa air liur anjing kotor dalam artian spiritual. Air liur anjing, dan mungkin saja tubuhnya secara keseluruhan, menyebabkan ketidakbersihan dalam artian moral. Muncul kecenderungan di sebagian masyarakat bahwa keberadaan anjing di sekitar mereka menyebabkan kebersihan mereka saat hendak melaksanakan ritual agamanya akan ternodai. Ketidakbersihan anjing dalam artian moral dapat dilihat dari hadis yang menyatakan bahwa malaikat sebagai pembawa wahyu dari Allah tidak mau hadir ke dalam rumah yang ada anjing di sana. Rasulullah bersabda,

Malaikat tidak akan masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat anjing maupun lukisan (manusia atau hewan). (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Ṭalḥah)

Jibril pernah berjanji kepada Rasulullah akan mendatanginya pada suatu waktu yang telah ditentukan. Lalu datanglah saat yang dijanjikan itu, namun Jibril urung datang. Pada saat itu Rasulullah sedang memegang tongkat, kemudian beliau pun melemparkannya sambil berkata, “Allah dan utusan-utusannya tidak pernah mengingkari janji!” Beliau lalu berpaling, dan seketika melihat sesosok anjing di bawah tempat duduknya. Beliau bertanya, “Kapan anjing ini masuk ke sini, ‘Ā’isyah?” “Demi Allah, aku tidak tahu!” jawab ‎’Ā’isyah. Lalu Rasul meminta anjing itu dikeluarkan. Setelah anjing itu dikeluarkan, barulah Jibril datang. Kemudian Rasul berkata, “Engkau sudah berjanji kepadaku, karena itu aku menunggumu, namun engkau urung datang.” “Anjing yang ada di rumahmu tadi telah menghalangi kedatanganku. Kami, para malaikat, tidak akan masuk ke dalam suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing maupun lukisan.” (Riwayat Muslim dari ‎’Ā’isyah)

Dalam hadis berikut Rasulullah mengingatkan bahwa pemilik anjing akan dikurangi pahalanya setiap hari, kecuali jika dimanfaatkannya untuk menjaga ternak, lahan, atau untuk berburu.

Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing penjaga hewan piaraan, anjing pemburu, dan anjing penjaga lahan pertanian, maka setiap hari pahalanya akan dikurangi sebanyak satu qirat. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Diduga, perlakuan terhadap anjing saat itu berkaitan dengan pencarian masyarakat pra-modern tentang batas yang membedakan manusia dari hewan; yakni bahwa hewan seharusnya lebih rendah derajatnya daripada manusia. Artinya, hewan sedang dipinggirkan atau dimarjinalkan. Untuk itu, digunakanlah anjing sebagai representasi seluruh hewan. Keadaan ini diperburuk dengan “kekuasaan laki-Iaki” yang sedang berusaha memojokkan masyarakat “lain”. Anggota masyarakat yang dipilih adalah wanita, non-muslim, dan tentunya, anjing. Dalam tradisi yang demikian ini muncullah suatu klaim dalam masyarakat bahwa Nabi pernah menyatakan apabila ada wanita, orang non-muslim, keledai, atau anjing lewat di depan jamaah yang sedang salat maka salat mereka batal. Menariknya, klaim ini diprotes oleh ‎’Ā’isyah, istri Nabi. Menurutnya, menghubung-hubungkan anjing dengan wanita akan sangat merugikan kedudukan wanita. Pada masa berikutnya, banyak pemuka agama yang juga mendukung pendapat ‎’Ā’isyah ini. Pernyataan yang demikian ini, kata mereka, tidak otentik dan diragukan dasarnya.

Banyak ulama yang menolak legalisasi membunuh anjing karena hal ini tentu saja melenyapkan kehidupan suatu ciptaan Allah. Hal ini tidak sejalan dengan tugas kekhalifahan, yang antara lain menghormati semua ciptaan Allah. Suatu ciptaan tidak dapat dengan demikian saja dimusnahkan, dan kehidupan tidak dapat dihilangkan tanpa alasan yang kuat. Tidak ada alasan apa pun untuk membunuh anjing karena anjing memang dilarang untuk dimakan.

Para ulama memperbolehkan seseorang memelihara anjing untuk keperluan membantu manusia dalam pertanian, peternakan, atau perburuan, namun tidak untuk keperluan mencari kesenangan belaka. Beberapa ilmuwan mencoba merasionalkan hal ini dengan melihatnya sebagai hewan yang membahayakan keselamatan orang di sekitarnya. Akan tetapi, hal lain yang menonjol dalam penolakan ini adalah bahwa anjing dianggap najis karena kotor (tubuh dan air Iiurnya) bagi mereka yang akan melakukan ritual keagamaan. Kenajisan anjing sudah cukup menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak memeliharanya, kecuali ada keperluan lain yang mendesak. Anjing tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif. Hewan ini terkadang juga dikaitkan dengan hal-hal positif. Dalam hadis dinyatakan,

Seorang pria sedang dalam perjalanan. la merasa sangat haus, lalu ia mendapati sebuah sumur. la mendekatinya dan minum air sumur tersebut. Ia pun beranjak meninggalkan sumur, ketika tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, “Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku alami tadi.” Maka ia turun kembali ke sumur tadi, dan diisinya sepatunya dengan air. la menggigit sepatunya dan minum air di dalamnya hingga merasa segar. la lalu menuangkan air di dalam sepatu itu ke mulut anjing tadi hingga rasa hausnya hilang. Anjing itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria tadi, dan karenanya Allah pun mengampuni pria itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, akankah kita mendapat pahala dengan berbuat baik kepada hewan?” “Perbuatan baik kalian kepada setiap makhluk yang bernyawa pasti diberi pahala,” jawab beliau. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Anjing adalah makhluk ciptaan Allah yang harus dilindungi dan ditolong apabila memerlukan. Hadis ini menegaskan bahwa Allah tidak akan melupakan begitu saja kebaikan yang seseorang lakukan, bahkan kepada anjing sekalipun.

Perikehidupan Anjing

Linnaeus, seorang ahli taksonomi, pada 1758 mula-mula memasukkan anjing hasil domestikasi ke dalam nama Canis familiaris dan Canus familiarus domesticus. Pada 1993, penempatan nama tersebut kemudian diusulkan untuk diubah menjadi Canis lupus familiaris, suatu anak jenis dari serigala abu-abu, Canis lupus. Pengubahan ini didasarkan pada bukti-bukti penelitian perilaku, perawakan, dan penelitian biologi molekuler, yang berujung pada kesimpulan bahwa serigala abu-abu adalah nenek moyang dari sekian banyak turunan dari anjing peliharaan.

Hubungan antara anjing dan manusia sudah berjalan lama. Anjing telah menjadi teman dalam bekerja dan berburu sepanjang sejarah kehidupan manusia, sejak didomestikasi sekitar 15.000 tahun yang lalu. Sejak saat itu, didasarkan pada keperluannya, telah terbentuk ratusan turunan anjing yang bervariasi penampilan maupun perilakunya. Tinggi bahu anjing bervariasi. Anjing terpendek diketahui memiliki tinggi bahu hanya 6,3 cm,  dari jenis Yorkshire Terrier. Anjing turunan Cihuahua juga terhitung kecil. Sementara itu, rekor anjng tertinggi dipegang oleh anjing turunan Great Dane, yang memiliki tinggi bahu 106,7 cm. Anjing turunan Irishwolfhound juga terhitung sebagai anjing dengan bahu tinggi. Warna, postur tubuh, dan bulu anjing juga bermacam-macam.

Anjing dalam hubungannya dengan kebudayaan manusia memiliki kedudukan sosial yang jauh lebih kompleks daripada nenek moyangnya, serigala abu-abu. Anjing, misalnya, dapat dilatih untuk berburu. Di Jazirah Arab dikenal satu jenis anjing saluki yang biasa masyarakat setempat gunakan untuk berburu. Dalam berburu anjing ini biasanya dipadukan dengan burung falcon. Hubungan antara manusia dengan anjing demikian dekat, walaupun pada kenyataannya anjing sangat potensial menjadi pemangsa yang sewaktu-waktu dapat membahayakan manusia. Anjing menjadi bagian penting dari komunitas suku Indian Athabascan di Amerika Utara, dan merupakan satu-satunya hewan peliharaan mereka. Anjing juga menjadi pembawa beban pada saat migrasi suku Indian Apache dan Navayo pada 1-400 tahun lalu. Kebiasaan menjadikan anjing sebagai pembawa beban masih dijumpai, meski kuda sudah masuk ke Amerika.

Konon, migrasi manusia dari Asia ke Amerika melalui Selat Bering pada sekitar 12.000 tahun yang lalu tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan anjing yang bertugas menarik kereta es. Anjing membantu manusia dari  mulai berburu, menggembala ternak, menjaga rumah, membantu tugas kepolisian maupun militer, sebagai teman, hingga membantu mereka yang cacat (misalnya membantu menuntun dan mengarahkan tunanetra).

Para ahli setuju proses domestikasi anjing dilakukan setidaknya 15.000 tahun yang lalu, malah beberapa arkeolog percaya proses ini terjadi lebih jauh sebelumnya. Beberapa uji genetika bahkan menunjukkan bahwa anjing sudah didomestikasi antara 14.000-17.000 tahun lalu, yakni pada masa Paleolithic, mendekati Pleistocene/ Holocene. Mana yang benar belum dapat dipastikan sampai saat ini. Pada 2008, misalnya, ditemukan kerangka binatang menyerupai anjing yang berukuran besar. Hewan ini ditemukan hidup di gua-gua di Belgia pada 31.700 tahun yang lalu. Diet   hewan ini terdiri dari kuda, rusa, dan rubah. Sebelum temuan di Belgia, fosil tulang kepala dan rahang anjing ditemukan di Rusia dan Jerman. Umur fosilnya diperkirakan sekitar 14.000 tahun yang lalu.

Fosil jenis anjing yang lebih kecil ditemukan di gua-gua Timur Tengah, termasuk dalam sebuah kuburan berumur antara 10.000-12.000 tahun lalu. Dalam kuburan ini ditemukan fosil anjing bersama dengan kerangka manusia. Setelah itu banyak ditemukan fosil anjing di Eropa, Irak, dan Turki yang berumur antara 8.000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Apakah proses domestikasi terjadi dengan memelihara serigala abu-abu secara langsung ataukah berjalan secara bertahap, masih dipertanyakan. Domestikasi diduga bermula dari kehadiran beberapa ekor serigala abu-abu di sekitar kampung atau perkemahan karena tertarik dengan sisa makanan yang dibuang. Lama kelamaan mereka terbiasa dekat dengan manusia. Secara alami, individu yang nyaman berada di sekitar manusia inilah yang menjadi modal utama untuk didomestikasi.

Jika dilihat dari analisis DNA maka waktu permulaan domestikasi, anjing semakin memanjang sampai dengan 100.000-140.000 tahun lalu. Pemecahan serigala dan coyote, sejenis serigala dengan perawakan yang lebih kecil, diperkirakan terjadi sekitar 700.000 tahun yang lalu. Hanya saja perkiraan menggunakan analisis DNA ini masih banyak diperdebatkan para ahli, terutama karena pembandingnya, anjing yang telah didomestikasi, mengalami degradasi DNA karena terjadi perkawinan secara selektif antarketurunan.

Data yang ada menunjukkan bahwa domestikasi anjing dimulai dari serigala di kawasan Asia Timur. Anjing peliharaan ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, dan diperkirakan mencapai kawasan Amerika Utara pada tahun 8.000 SM. Anjing turunan yang dekat dengan nenek moyangnya (diciri dengan DNA yang mirip dengan serigala abu-abu), terutama keturunan yang menempati Asia dan Afrika, seperti anjing Basenji, Lhasa Apso, dan Siberian Husky. Anjing keturunan yang dianggap paling tua di antaranya adalah Pharaoh Hound, Ibizan Hound, dan Norwegian Elkhound.

Anjing dan manusia memiliki hubungan yang panjang. Serigala dan jenis marganya yang liar lainnya tampaknya memperoleh keuntungan saat manusia mulai bermukim. Marga manusia, Homo, mulai menyebar di Afrika sekitar 400.000 tahun lalu. Beberapa bukti menunjukkan bahwa saat manusia mulai bermukim dan bertani pada sekitar 15.000 tahun lalu, anjing sudah hidup di sekitar manusia. Mereka mendapat keuntungan hidup di sekitar manusia, seperti memperoleh keamanan, ketersediaan makanan yang lebih terjamin, berkurangnya penggunaan energi, serta kesempatan yang lebih besar untuk berkembang biak. Anjing peliharaan diakui memiliki kecerdasan sosial yang tertinggi, jauh meninggalkan hewan lainnya. Anjing mampu belajar dari melakukan observasi. Anjing turunan Border Colie diketahui sebagai turunan anjing yang paling cerdas.

Penyakit anjing gila alias rabies adalah suatu penyakit menular yang akut. Penyakit ini menyerang susunan syaraf pusat, dan disebabkan oleh virus rabies jenis Rhabdho virus. Virus rabies, selain menempati susunan syaraf pusat, juga terdapat pada air liur hewan penderita rabies. Oleh sebab itu penularan penyakit rabies pada manusia atau hewan lain dilakukan melalui gigitan. Virus ini dapat menyerang semua hewan berdarah panas, seperti kucing, kelelawar, kera, termasuk juga manusia. Penyakit rabies merupakan penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti. Begitu gejala klinis penyakit rabies timbul maka umumnya akan diakhiri dengan kematian apabila tidak segera ditangani.

Masa inkubasi (waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit) penyakit rabies pada hewan sekitar 2-8 minggu, sedangkan pada manusia antara 2-3 minggu sampai 1 tahun. Masa inkubasi ini dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat, tergantung antara lain kedalaman dan parahnya luka gigitan, lokasi luka, banyaknya syaraf di sekitar luka, pathogenitas dan jumlah virus yang masuk, dan jumlah luka gigitan.

Perjalanan penyakit rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 tahap, yaitu:

  1. Tahap Prodormal. Pada tahap ini hewan mencari tempat dingin dan menyendiri, berubah lebih agresif dan gelisah, pupil mata meluas dan sikap tubuh tegang. Fase ini berlangsung selama 1-3 hari. Fase prodormal diikuti oleh tahap Eksitasi atau dapat saja melompat ke tahap Paralisa.
  2. Tahap Eksitasi. Pada fase ini hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya, mata menjadi keruh dan selalu terbuka, dan tubuh gemetaran.
  3. Tahap Paralisa. Pada fase ini hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuhnya, dan berakhir dengan kematian.

Gejala penyakit rabies pada anjing dikenal dalam tiga bentuk:

  1. Bentuk ganas (Furious Rabies). Masa eksitasi pada bentuk ini cukup panjang. Umumnya kematian akan datang dalam 2-5 hari setelah tanda-tanda terlihat. Tanda-tanda yang sering terlihat adalah: hewan menjadi penakut atau menjadi galak, suka bersembunyi di tempat-tempat yang dingin dan gelap, menyendiri tetapi dapat menjadi agresif, tidak menurut perintah majikannya, nafsu makan hilang, dan air liur menetes tak terkendali, menyerang apa saja yang ada di sekitarnya, memakan benda-benda asing seperti batu dan kayu, menyerang dan menggigit benda bergerak apa saja yang dijumpai, kejangkejang yang disusul kelumpuhan, dan menggelambirkan ekor di antara dua paha.
  2. Bentuk diam (Dumb Rabies). Masa eksitasi pada bentuk ini pendek, dan paralisa cepat terjadi. Tanda- tanda yang sering terlihat adalah pada hewan yang terjangkit rabies bentuk ini adalah suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk, kejang-kejang sangat singkat bahkan sering tidak terlihat, lumpuh, tidak dapat menelan, mulut terbuka, dan air liur keluar berlebihan.
  3. Bentuk Asystomatis. Hewan yang terjangkit rabies bentuk ini seringkali tidak memperlihatkan gejala sakit apa pun, namun tiba-tiba saja mati.

Gejala yang terlihat pada kucing yang terjangkit rabies mirip dengan anjing, seperti menyembunyikan diri, banyak mengeong, mencakar-cakar lantai, dan menjadi agresif. Dalam 2-4 hari setelah gejala pertama biasanya terjadi kelumpuhan, terutama di bagian belakang tubuh.

Yang penting diperhatikan pada manusia bila terlihat padanya gejala-gejala yang mencurigakan adalah ada tidaknya riwayat gigitan hewan seperti anjing, kucing, dan kera. Gejalanya dimulai dari hilangnya nafsu makan, sakit kepala, tidak bisa tidur, demam tinggi, mual/muntah, pupil mata membesar, bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan tampak kesakitan. Gejala lainnya adalah munculnya rasa panas (nyeri) pada tempat gigitan, menjadi gugup, takut berlebihan pada air; peka terhadap suara keras, cahaya, dan angin; keluarnya air liur dan air mata yang berlebihan, kejang-kejang yang disusul kelumpuhan, dan berakhir pada kematian. Penderita rabies akan meninggal dalam 4-6 hari setelah gejala klinis atau tanda-tanda penyakit pertama timbul.

Apabila seseorang digigit hewan  yang dicurigai membawa rabies, maka tindakan yang harus diambil adalah:

  1. Mencuci luka gigitan dengan sabun atau deterjen selama 5-10 menit di bawah air mengalir. Luka kemudian diberi alkohol 70% atau yodium tincture. Setelah itu korban disarankan pergi ke puskesmas atau dokter untuk mendapat pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
  2. Melaporkan kasus penggigitan tersebut kepada petugas Dinas Peternakan setempat.
  3. Mengirimkan hewan penggigit ke rumah observasi hewan Dinas Peternakan untuk diobservasi dan diperiksa kesehatannya selama 10-14 hari. Bila hewan itu tidak diketahui atau tidak dapat ditangkap, maka korban gigitan harus dibawa ke rumah sakit khusus infeksi.

Dalam Alquran dan hadis, jelas sekali aturan-aturan yang diturunkan Allah tentang anjing. Pada dasarnya hal ini secara logis merupakan suatu kenyataan. Air Iiur anjing tidak steril; ia mengandung bahan yang kotor dan dapat menimbulkan penyakit. Karena itu, wajar apabila mereka yang tersentuh untuk membasuhnya sebersih mungkin. Akan tetapi, anjing sebagai ciptaan Allah tetap mesti dihargai dan ditolong apabila memerlukan. Pertolongan yang demikian ini, seperti dinyatakan dalam hadis, merupakan salah satu jalan memperoleh ampunan Allah. Rasulullah bersabda,

Ketika seekor anjing sedang berjalan mengitari sebuah sumur dengan rasa haus yang hampir membuatnya mati, tiba-tiba seorang wanita pelacur dari Bani Israil melihatnya. la lantas melepas sepatunya, memenuhinya dengan air dari sumur, dan menuangkannya ke mulut anjing tersebut. Karena perbuatannya itu wanita tersebut diampuni dosanya oleh Allah. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Tinggalkan Balasan

Close Menu