ALLAH/TUHAN, FILSAFAT, DAN SAINS MODERN

ALLAH/TUHAN, FILSAFAT, DAN SAINS MODERN

Wacana

 

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Alquran, Surah AI-adīd, 57: 3)

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-Iah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.(Alquran, Surah Asy-Syūrā’, 42: 11)

Hal yang Paling Benar

Sebagaimana umat Muslim pada umumnya -dan beberapa non-Muslim yang mengenal teks-teks Islam- saya pun senantiasa terpesona oleh ayat-ayat Alquran dan prosa Islam lain yang menggambarkan Allah. Keindahan luar biasa dalam ayat-ayat dan teks-teks tersebut dapat menarik perhatian siapa pun yang membaca atau sekadar mendengarkan pembacaannya. Selain itu, penggambaran Allah sebagai Zat yang misterius namun jelas, yang transenden namun imanen, baik sifat-sifatnya yang antropik maupun yang tak terbayangkan, sebagaimana pasangan sifar-sifat lain yang berlawanan, membuat siapa pun semakin ingin mengenal-Nya meskipun menyadari bahwa hal itu mustahil dilakukan secara sempurna.

Buku ini tidak membahas teologi dalam konteks studi tentang Allah. Buku ini akan membahas hubungan antara sains dan Islam. Namun, kita tidak akan dapat mengerti berbagai isu yang muncul dari wacana tersebut ataupun menyajikan pandangan-pandangan yang masuk akal dan bermanfaat tanpa terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip utama Islam. Tentu saja, tidak ada prinsip yang lebih utama dan sentral dalam Islam selain perihal Allah dan tidak ada aturan yang lebih penting dan fundamental dalam bangunan Islam selain Alquran. Apalagi, dalam perkembangannya, prinsip-prinsip tersebut telah dipengaruhi oleh berbagai wacana filosofis dan revolusi konseptual yang dibawa oleh sains modern selama berabad-abad.

Semua wacana yang berkembang dalam Islam dimulai dengan kajian mengenai Allah. Semua Muslim diajarkan untuk memulai setiap tindakan keseharian mereka dengan mengucapkan Bismillāh ar-Ramān ar-Raḥīm (“Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”). Orang tua juga diperintahkan mengumandangkan nama Allah di telinga bayi yang baru lahir agar nama tersebut menjadi kata pertama yang didengar dalam hidup si bayi. Selain itu, setiap anak kecil juga dilatih untuk menghafal surat-surat pendek dalam Alquran, seperti Surah al-Ikhlāṣ:

Katakanlah: Dia adalah Allah Yang Maha Esa!

Allah adalah Abadi, Mutlak.

Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan;

dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia

(Q.S. al-Ikhlāṣ, 112: 1-4).

 

Surah pendek ini dianggap sangat penting sebab Rasulullah pernah mengemukakani bahwa kandungan empat ayat tersebut mewakili sepertiga Alquran.

Ayat lain yang menonjol dalam pembahasan mengenai Allah adalah ayat yang dikenal dengan sebutan Ayat AI-Kursi. Umat Muslim terbiasa membaca ayat tersebut sebanyak mungkin dalam hati atau menggantung ukiran atau kaligrafinya di dinding ruang keluarga. Ayat tersebut berbunyi: ‘Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah] melainkan Dia yang hidup kekal dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya]; tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Siapakah yang bisa memberi syafaat tanpa izin-Nya? Allah mengetahui segala hal yang ada di hadapan dan di belakang manusia, sedang mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki aleh-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Allah adalah Zat yang Maha Tinggi dan Maha besar. (QS Al-Baqarah, 2: 255).

Mengenai hal ini, ada sebuah buku terkenal tentang kearifan masyakarat Arab, Al-Musthtraf, yang terdiri dari 775 halaman berisi ringkasan berbagai warisan bangsa Arab yang dibagi menjadi sekitar 200 topik. Buku yang ditulis lebih dari ribuan tahun lalu tersebut hingga hari ini masih terus dicetak (dengan copyright gratis) dan dibaca secara luas. Berikut permulaan bab pertamanya:

Para pembaca yang budiman, Anda harus mengetahui bahwa Allah Yang Maha Mulia adalah tunggal, tidak memiliki pasangan atau apa pun yang setara dengan-Nya. Dia bersifat unik dan tidak ada yang menyamai-Nya. Dia juga bersifat mutlak dan tidak ada yang menyaingi (kekuasaan)-Nya. Dia bersifat abadi dan tidak ada awal dari keberadaan-Nya maupun akhir dari keabadian-Nya. Dia Maha Adikuasa dan tidak ada apa pun yang bisa mencampuri atau mengubah-Nya. Dialah Yang Pertama dan Yang Terakhir, yang Nyata namun Imanen, melampaui materialitas dan tidak ada yang seperti diri-Nya. Dia menguasai segala sesuatu, tetapi ketinggian-Nya tidak membuat-Nya jauh dari makhluk-Nya. Bahkan, Dia lebih dekat dari urat leher makhluk-Nya. Dialah saksi semua peristiwa, dan Dia ada bersamamu di mana pun engkau berada”.

Paragraf tersebut dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan senada tentang Allah dalam beberapa paragraf berikutnya yang kemudian diakhiri dengan kutipan berikut: “Nabi Muḥammad  -semoga kedamaian dan keselamatan selalu bersamanya-pernah berbicara di atas mimbar bahwa pernyataan paling benar yang diucapkan oleh orang-orang Arab ialah bahwa segala sesuatu selain Allah adalah palsu.

Dalam judul bab ini, saya sengaja menggunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan, tetapi dalam pengantar, saya lebih memilih diksi ‘Tuhan’. Apakah ada perbedaannya? Sebenarnya, dengan maksud dan tujuan apa pun, saya tidak ingin membedakan keduanya. Saya hanya lebih suka memilih ‘Tuhan’ ketika menyampaikan fakta penting mengenai Tuhan dalam agama Islam, seperti bagaimana Ia menggambarkan Diri-Nya sendiri ataupun seperti yang muncul di benak para penganut monoteistik dan ateis ketika merujuk sebuah konsep tertentu. Bahkan, kata ‘Allah’ sebenarnya tidak lebih dari Al-Ilāh dalam bahas Arab yang berarti ‘Tuhan’. Meski demikian, beberapa ahli bersikeras bahwa Allah adalah nama Tuhan yang Ia berikan pada diri-Nya sendiri, dan karena itu Ia harus dirujuk hanya dengan nama itu, tidak dengan nama lain. Beberapa ahli lain menambahkan bahwa karena ada beberapa perbedaan teologis antara Tuhan dalam agama Islam dan Tuhan dalam agama Kristen, maka seseorang harus menggunakan kata ‘Allah’ untuk lebih menegaskan keyakinannya. Sejauh yang kami perhatikan mengenai masalah ini, perbedaan teologis tersebut tidak berimplikasi pada banyak hal, karena esensinya terdapat pada sifat-sifat Allah (Pencipta, Pemelihara, Mahakuasa, Mahatahu, dan lain-lain) yang dikenal dan diakui dalam semua agama monoteis.

 

Mengenal Allah

Dalam kesadaran umat Muslim pada umumnya, keberadaan Allah dianggap sudah jelas sehingga jarang sekali ada diskusi yang membahas keberadaan-Nya. Selama beberapa periode yang cukup panjang, para ulama berpandangan bahwa manusia dapat mengenal Allah secara fitrah berdasarkan ayat-ayat Alquran yang menegaskan hal tersebut.

Baru-baru ini, istilah ateisme mulai muncul dalam wacana keislaman. Secara praktis, konsep ateisme tidak disinggung dalam Alquran, tetapi ada sebuah ayat yang paling mendekati wacana ini, yakni ayat mengenai sekelompok orang yang tidak mengakui kehidupan setelah mati: ‘Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja. Kita hidup saat ini dan akan mati suatu hari nanti. Tidak ada yang akan membinasakan kita selain waktu”. Orang-orang itu sebenarnya tidak memiliki pengetahuan apa pun dan hanya mengatakan dugaan mereka saja’ (QS Al-Jāṡiyah, 45: 24). Dalam terminologi Islam, orang-orang tersebut biasa dikenal dengan istilah dahriyyūn (dari kata dahr [waktul zaman] yang merujuk pada penganut kepercayaan yang meyakini bahwa hanya waktulah yang mempengaruhi manusia). Berbeda dengan konsep politeisme yang sering disebut-sebut dan dijadikan sarana untuk membuktikan keesaan Tuhan (tauhid) dan menunjukkan sifat-sifat-Nya, konsep ateisme jarang disinggung oleh Alquran. Baru-baru ini, para sarjana Muslim mulai mengembangkan argumen untuk “membuktikan” keberadaan Allah, sebagaimana yang akan kita diskusikan nanti.

Dalam setiap karya tentang Islam, bab pertama hampir selalu membahas tauhid. Secara harfiah, istilah ini berarti ‘kesatuan’ dan secara teknis mengacu kepada cara ideal seorang Muslim dakan meyakini dan menggambarkan Allah. Tauhid sering dibagi menjadi tiga bagian: (1) tauhid rubūbiyyah (divinity), (2) tauhid sifat (attributes), dan (3) tauhid ulūhiyyah (worshipability).

Bagian pertama menekankan aspek keilahian Allah, misalnya Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara, Pemberi hidup dan mati, Penguasa dan Pengawas, Mahatahu dan Mahakuasa, dan lain-lain. Para ulama, utamanya yang ortodoks, mencurahkan perhatiannya untuk membahas bagian ini dengan membuat garis pembeda yang tajam antara gambaran Allah yang diterima dan yang tidak dapat diterima. Bagian pertama ini jugalah yang sering menjadi tema perdebatan teologis pada masa klasik, khususnya antara aliran rasionalis Mu’tazilah dan para ulama ortodoks yang akan saya jelaskan kemudian.

Sementara itu, bagian kedua menggambarkan Allah dalam ‘sifat-sifat yang tepat’, sebagaimana yang dijelaskan Alquran atau Nabi Muḥammad . Bagian ini juga kerap kali menjadi tema perdebatan, tetapi bukan mengenai keberadaan sifat-sifat tersebut, melainkan perihal persepsi dan penafsiran manusia tentangnya. Sebuah hadis terkenal menyatakan bahwa Allah memiliki 99 ‘nama indah’ (al-asmā al-usnā) dan menjanjikan surga kepada siapa saja yang menghafal semua nama tersebut. Sementara itu, hadis lain mengatakan bahwa ada nama keseratus di mana pembaca nama tersebut dijamin masuk surga. Daftar 99 Nama yang indah itu bersumber dari Nabi sendiri dalam berbagai hadisnya dan bisa ditemukan di berbagai referensi, termasuk pada web page online, yang terkadang disertai terjemahan, penjelasan, diskusi, dan referensi lebih lanjut. Banyak seniman telah menghasilkan karya-karya indah bertema 99 nama tersebut (beberapa di antaranya juga bisa diakses di website) untuk dipasang di rumah-rumah dan masjid-masjid Muslim dalam bentuk permadani menggantung dan lukisan kaligrafi . Pernyataan Nabi bahwa Allah memiliki ‘Nama yang paling agung’ (Ismu Allah Al-‘Azhām), tetapi cerita-cerita yang berkaitan dengan hal ini menunjukkan secara implisit bahwa Nabi menentukan cara khusus untuk “mendekati dan memanggil” Allah, yakni dalam bentuk kombinasi tertentu dari Nama-Nama-Nya yang indah.

Bagian ketiga tauhid menekankan fakta bahwa hanya Allah yang memiliki segala-galanya sehingga Ia layak disembah. Seorang penulis pernah berujar: “Sang pencipta Memiliki Sifat Sempurna [teks asli menggunakan huruf kapital]. Ia adalah Yang Pertama, tidak ada yang lain sebelum Dia, dan Ia selalu Hidup. Segala sesuatu akan kembali pada-Nya…”. Dengan demikian, manusia memang akan ‘kembali kepada Penciptanya sendiri.’

Konsep mengenai Allah gamblang dan lugas hingga kita mendalami pembahasan ini. Isu paling kontroversial mengenai sifat Allah adalah aspek antropomorfis. Beberapa di antaranya adalah perihal ayat Alquran yang menyebutkan bahwa Allah “melihat” dan “mendengar”. Maha Melihat dan Maha Mendengar merupakan dua di antara Nama-Nama indah Allah. Selain itu, sebuah hadis menyebutkan bahwa “tangan kanan Allah” memberi anugerah pada manusia. Ada juga hadis lain yang menyinggung perihal Allah yang akan berbicara kepada manusia di Hari Pembalasan tanpa ada mediator atau perantara. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali memunculkan perselisihan teologis yang serius mengenai apakah manusia akan benar-benar melihat Allah pada Hari Pembalasan.

Pertan

Close Menu