ALAM SEMESTA YANG BEGITU ISTIMEWA

ALAM SEMESTA YANG BEGITU ISTIMEWA

Kosmos dicirikan dengan sifat-sifat keutuhan, ketertiban, dan harmoni antara semua elemen dan peristiwa di dalamnya. Iqbal menyebut ini sebagai Teori Keseimbangan (Theory of Balance), yang ia rujuk dari pendapat Jabir bin Hayyan (ahli kimia Muslim pada abad ke-9). Waktu dan kronologi kosmos dalam Alquran bersifat kualitatif, semisal ‘hari-hari’ (ayyām), yang tidak dijelaskan durasinya secara khusus.

Faktor pemberi kehidupan berada pada pusat keseluruhan mesin dan rancangan dunia – John Wheeler –

Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam ukuran dan keselarasan yang tepat, sedangkan alam semesta dipenuhi keselarasan mengagumkan yang menjejakkan kesatuan di ranah keberagaman – Seyyed Hossein Nasrl –

Bayangkan jika Anda divonis hukuman mati dan akan segera dieksekusi. Puluhan penembak sudah berada tidak jauh dari Anda dan mata Anda ditutup. Perintah menembak sudah diberikan; Anda mendengar suara tembakan. Akan tetapi, setelah beberapa detik berlalu, Anda ternyata masih baik-baik saja. Tembakan para penembak ternyata meleset-atau barangkali mereka menggunakan peluru kosong. Bagaimana kira-kira reaksi Anda? Akankah Anda bergumam pada diri sendiri, “Tak ada yang perlu dijelaskan; Aku baik-baik saja; urusan selesai” Ataukah Anda mulai berpikir, pasti ada sesuatu di balik peristiwa ini; entah bagaimana nyawaku terselamatkan karena sebuah alasan dan mungkin juga karena suatu tujuan?

Kiasan indah ini pertama kali dikemukakan oleh filsuf John Leslie untuk menggambarkan keadaan ketika para ilmuwan menemukan alam semesta memiliki beberapa ciri khas kosmos yang secara menakjubkan tertata baik sesuai dengan keberadaan manusia atau -dalam lingkup yang lebih umum- dengan kemunculan serta evolusi kehidupan. Andaikata parameter-parameter fisik yang membentuk alam semesta tersusun secara asal-asalan, kemungkinan terciptanya kehidupan dan munculnya kecerdasan (di sejumlah waktu dan ruang) akan amat sangat kecil seperti satu banding sejuta triliun.

Banyak pemikir mengakui besarnya arti-penting penemuan ini, yang barangkali juga merupakan penemuan terpenting sepanjang masa, meski ada yang menganggapnya sekadar merupakan temuan dari faktor yang bias. Sejatinya, bukti ‘keistimewaan’ alam semesta kita telah lama diketahui setidak-tidaknya pada satu abad terakhir seiring dengan kemajuan pesat di berbagai bidang baru-baru ini. Walhasil, sebuah prinsip antropik yang secara resmi dikemukakan sekitar 30 tahun lalu menyatakan bahwa alam semesta sangat cocok dengan kehidupan atau bahkan dengan umat manusia (‘antropo’ [anthrop] berarti ‘manusia’ dalam bahasa Yunani). Dalam beberapa tahun terakhir, topik panas ini telah dikaji dalam berbagai publikasi penting di Barat. Beberapa di antaranya adalah dua majalah serius berbahasa Prancis, Ciel et Espace dan Philosophie, yang masing-masing menerbitkan edisi khusus dan kumpulan informasi tentang topik ini pada edisi Musim Gugur 2006 dan Mei 2007. Selain itu, Paul Davies, yang barangkali merupakan ilmuwan-filsufl paling terkemuka dari generasi ini, baru saja menerbitkan The Goldilocks Enigma: Why is the Universe Just Right for Life?. Davies menyebut prinsip antropik sebagai “revolusi pemikiran ilmiah”. Sementara itu, Nocola Dallaportaii mengatakan bahwa sudah seharusnya (kemunculan) prinsip antropik dianggap sebagai “momentum yang begitu menentukan dalam perkembangan sains karena telah membuka jalan baru bagi kajian aspek-aspek alam semesta yang belum diketahui”. Adapun George V. Coynei menekankan bahwa prinsip antropik adalah “titik temu yang menggairahkan antara teologi dan sains, khususnya dalam hal bersatu padunya kembali faktor manusia setelah terpisah dari ilmu fisika selama berabad-abad”.

Tidak semua orang terpesona dan menyambut baik perkembangan ini. Malcolm S. Longair (Profesor Filsafat Alam di Cambridge University dan pengarang berbagai buku), misalnya, mengemukakan: ”Aku membenci teori prinsip antropik; Aku menganggapnya sebagai jalan keluar terakhir ketika semua argumen fisika telah gagal. Seluruh dasar argumen antropik terlihat berseberangan dengan cita-cita para ilmuwan”. Baru-baru ini, Michel Paty, mantan direktur penelitian pada French National Center of Scientific Research (CNRS), mengatakan:”Prinsip antropik hanyalah sebuah konsep metafisika yang sia-sia.”

Prinsip antropik menjadi topik yang sangat panas dan kontroversial dewasa ini karena sejumlah alasan. Pertama, prinsip tersebut jelas-jelas ingin menghidupkan gagasan rancangan. Karena itulah, banyak ilmuwan dan filsuf cenderung merasa gerah dengan implikasi subtil (atau tidak terlalu subtil) mengenai pencipta, perencana, cetak bim kosmis, dan lain sebagainya. (Edisi khusus Ciel et Espace berjudul “Does the Universe Need God?” (”Apakah Alam Semesta memerlukan Tuhan?”) dan salah satu artikel utamanya berjudul ”Is ‘the Anthropic Principle’ the New Name of God?” (”Apakah Prinsip Antropik adalah nama baru dari Tuhan?”). Kedua, gagasan prinsip antropik sendiri bisa dianggap sebagai gerak mundur dari Revolusi Copernicus yang membuat bumi dan manusia tergeser dari titik pusat alam semesta sebagaimana terdapat dalam pandangan filosofis dan religius kuno. Apalagi, banyak orang meyakini bahwa semakin jauh manusia mengungkap alam semesta beserta skala ruang dan waktunya yang luas sekali serta keanekaragaman objeknya yang tak terkira, semakin mereka sadar bahwa manusia sama sekali tidak istimewa dan hanya merupakan sebutir debu dalam lanskap semesta yang nyaris tak berbatas. Dalam sindirannya pada pendahuluan karya terpenting tentang prinsip antropik karangan Barrow dan Tipler, Wheeler mengatakan: “Manusia? Biokimia murni! Akal? Daya ingat yang tiruannya bisa dibuat oleh sirkuit elektronik! Makna? Mengapa bertanya soal barang yang membingungkan dan tak bisa diraba itu? Apa artinya manusia sampai-sampai alam semesta harus selalu mengingatnya?”

Dalam paragraf selanjutnya, Wheeler menjelaskan,

“Tidak! Para filsuf masa lalu itu memang benar! Makna itu penting, bahkan sentral. Bukan hanya manusia yang beradaptasi den.gan alam semesta. Alam semesta pun beradaptasi dengan manusia.”

 

Leave a Reply

Close Menu