AL-BULŪG (KEDEWASAAN)

AL-BULŪG (KEDEWASAAN)

Serial Quran dan Sains

Kehidupan manusia mengalami fase- fase perkembangan, mulai dari fase pembuahan, fase pranatal (sebelum kelahiran), dan fase pascanatal (sesudah kelahiran). Pertumbuhan dan perkembangan itu terus bergerak maju sejalan dengan perjalanan waktu meskipun dengan tempo yang relatif berbeda-beda. Artinya, progres pertumbuhan dan perkembangan manusia terus saja bergerak hingga akhir hayat mereka, dan selanjutnya beralih ke alam lain, alam baka.

Fase Pertumbuhan dan Perkembangan

Tak dapat diingkari bahwa kehidupan manusia mengalami suatu proses yang terus bergerak maju, dari nuṭfah ‎, fetus (janin), hingga lahir dan akhirnya menjadi remaja, dewasa, dan bahkan lanjut usia jika ia memiliki usia panjang. Fase pertumbuhan dan perkembangan itu meliputi aspek fisik dan psikis yang selaras dan seimbang pada manusia normal. Fase-fase itu pada umumnya diklasifikasi sebagai berikut:

  1. 0,0 – 2 minggu : Infancy (orok)
  2. 2 mg – 2 tahun : Babyhood (bayi)
  3. 2 – 6 tahun : Early childhood (masa kanak-kanak awal)
  4. 6 -12 tahun : Late childhood (masa kanak-kanak akhir)
  5. 12 -14 tahun : Puberty (pubertas)
  6. 14 -17 tahun : Early adolescence (masa remaja awal)
  7. 17 – 21 tahun : Late adolescence (masa remaja akhir)
  8. 21 – 40 tahun : Early adulthood (masa dewasa awal)
  9. 40 – 60 tahun : Middle age (masa setengah baya)
  10. 60 tahun ke atas : Senescence (masa usia lanjut)

 

Pada fase-fase itu diketahui ada masa-masa krisis dalam kehidupan, misalnya krisis penentangan pertama pada anak usia sekitar dua atau tiga tahun, krisis identitas pada usia remaja, krisis paruh baya, dan sebagainya. Pada remaja (pubertas) yang dikenal dalam istilah agama dengan balig, terjadi perubahan yang sangat menonjol ketika kelenjar-kelenjar seksual memproduksi horman-harmon yang mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku terkait dengan masalah seksual.

Dalam Alquran terdapat beberapa ayat yang menggambarkan proses perkembangan manusia dari telur yang dibuahi (zigot) lalu selanjutnya menjadi blastosin, kemudian menjadi janin, lahir, tumbuh dan berkembang sebagai manusia, kemudian wafat menunggu proses kehidupan selanjutnya di alam lain (akhirat).

Surah al-Mu’minūn/23: 12-16 dan al-Ḥajj/22: 5 masing-masing menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan itu. Ayat-ayat pada surah yang pertama menerangkan reproduksi manusia fase demi fase selama masa pranatal, dan surah yang kedua selain menjelaskan tentang fase-fase perkembangan janin manusia di dalam rahim juga mengemukakan perkembangan setelah kelahiran hingga mencapai usia lanjut (pikun). Surah al-Mu’minūn‎/23: 12-16,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ۝ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ۝ ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ۝ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati. Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat. (Alquran, Surah al-Mu’minūn/ 23: 12-16)  

 

Dari ayat ini dapat dipahami fase pertumbuhan dan perkembangan manusia pranatal sebagai berikut.

  1. Fase nufah (tetesan sperma, spermatozoa), yang memiliki sifat dinamis (memancar) dan terus bergerak (sebagaimana dijelaskan Surah al-Qiyāmah‎/75: 37; an-Najm/53: 46; aṭ-Ṭāriq/86: 6-7) untuk mencapai sel telur yang siap untuk dibuahi.
  2. Fase ‘alaqah atau fase gumpalan darah, atau yang bergantung/melekat pada dinding uterus/rahim. ‘Alaqah ini pada umumnya diartikan sebagai gumpalan darah, tetapi dapat pula diartikan sebagai jantung yang berfungsi memompa darah, karena bagian itu yang pertama berproses untuk menyuplai makanan ke seluruh jaringan. Bucaille mengartikan agak lain, yaitu sesuatu yang bergantung atau melekat pada sesuatu yang lain, karena janin tidak pernah mengalami perubahan dalam gumpalan darah.
  3. Fase mugah (gumpalan daging), yaitu proses dari gumpalan darah menjadi gumpalan daging yang masih sangat lembut. Mugah itu adalah mirip dengan daging yang dikunyah, karena daging yang telah memiliki jaringan otot disebut dengan lam.
  4. Fase terbentuknya tulang (‘iẓām) yang terbalut oleh daging, jaringan, dan otot.
  5. Fase janin dalam bentuk sempurna ketika organ-organ tubuh telah lengkap dan telah pula memiliki roh yang menjadikannya ia hidup sebagai manusia. Dalam ayat di atas kondisi pada tahap ini disebutkan sebagai makhluk dalam bentuk lain (ansya’nāhu khalqan ākhar), karena tidak lagi hanya terdiri atas jaringan, otot, dan daging belaka, tetapi telah berubah bentuk menjadi manusia sempurna, jasad dan roh. Roh ini berasal dari unsur suci yang dimasukkan ke dalam jasad.
Sperma saat membuahi sel telur

Sementara itu, pada Surah al-Ḥajj/22: 5 (bandingkan dengan Surah Gāfir/40: 67), Allah menjelaskan proses janin di dalam rahim, lalu menerangkan perkembangan manusia setelah lahir hingga mencapai usia lanjut atau meninggal dunia sebelum itu.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari  setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu. Dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 5)

 

Dari ayat ini dapat dipahami fase-fase pertumbuhan dan perkembangan manusia pranatal dan pascanatal. Pascanatal meliputi fase-fase berikut.

Janin Lengkap

Fase bayi dan anak-anak (ifl), yaitu masa sejak persalinan hingga menjadi anak-anak yang mulai beranjak remaja. Dalam kamus Lisānul-‘Arab, Ibnu Manẓūr menjelaskan bahwa anak disebut ṭifl sejak lahir hingga balig. Fase ini, jika ditinjau dari sudut taklīf, adalah fase persiapan menerima tanggung jawab hukum sebagai hamba Allah. Tidak ada implikasi hukum terhadap semua perbuatan yang dilakukan pada masa ini. Dalam psikologi, yang tinjauannya pada perbedaan tingkah laku, fase ini umumnya dibagi menjadi tiga bagian: babyhood, early childhood, dan late childhood (bayi, kanak-kanak, anak-anak).

Fase remaja hingga dewasa (Ii tablugū asyuddakum) yaitu masa ketika perubahan mendasar dalam kehidupan terjadi. Pada fase ini puncak kekuatan fisik dicapai oleh manusia dan dorongan-dorongan syahwat sangat deras bersamaan dengan terjadinya kematangan (maturation) secara seksual. Sejak fase ini pula manusia mempunyai konsekuensi terhadap semua perbuatannya di hadapan Allah. Tak satu pun tindakan yang tidak memiliki implikasi hukum (nilai) dan akan terakumulasi hingga akhir hayat. la akan mempertanggungjawabkan apa saja yang dilakukannya sejak hari pertama ia balig hingga meninggal dunia. Tanda dimulainya fase ini adalah ketika terjadi perubahan hormonal di dalam tubuh dan tingkat maturasi yang cukup untuk bereproduksi. Pada wanita ditandai dengan haid (menstruasi) dan pada pria berupa itilām (mimpi basah, mimpi-dewasa) selain perubahan pada bagian tubuh atau organ-organ tertentu dan juga pada tingkah laku. Dari segi mental, pada usia ini telah dianggap mampu bertanggung jawab sehingga tonggak taklīf dimulai dari sini. Rentang fase ini cukup panjang karena tinjauan Alquran terutama didasarkan pada implikasi hukum yang harus dipertanggungjawabkan oleh manusia di hadapan Allah. Dalam psikologi, fase ini umumnya dibagi menjadi empat fase lagi: puberty, early adolescence, late adolescence, adulthood (pubertas, remaja awal, remaja akhir, dan dewasa), karena pembagiannya didasarkan pada perbedaan tingkah laku.

Fase usia lanjut (arzālul-‘umur, atau di ayat lain disebut, syuyūkh dan ‘ajūz), yaitu fase ketika melewati masa puncak kekuatan fisik lalu menurun kembali menjadi tidak berdaya. Istilah yang digunakan di dalam ayat di atas adalah ‘yuraddu’, yaitu sebuah proses pengembalian atau penurunan kembali berbagai kemampuan yang pernah dicapai. Dalam psikologi, fase ini umumnya dibagi menjadi middle age dan senescence (paruh baya dan lansia atau manula-manusia lanjut usia) yang ditandai dengan menurunnya kemampuan-kemampuan fisik, memori, dan lain-lain.

Perubahan mendasar memang terjadi pada fase balig karena selain perubahan hormonal yang menyebabkan terjadinya kematangan seksual, juga disertai perubahan dari segi bentuk fisik, suara, sikap dan perilaku. Pada fase ini individu tampil lebih bergaya, atraktif, dan berupaya menampilkan pesona dirinya di hadapan orang lain, terutama di depan lawan jenisnya. Akan tetapi, perubahan yang sangat signifikan dari tinjauan syariat adalah perubahan dari belum bertaklif menjadi manusia yang bertaklif. Mulai saat itu, ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa saja yang diperbuatnya, baik atau buruk, yang berakibat pada pahala atau dosa. Begitu memasuki fase balig maka pencatatan terhadap kesalahan yang dilakukan akan diaktifkan. Semua perkataan dan perbuatan akan dicatat dan dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan secara mandiri di hadapan Allah. Masa ini lazim juga disebut masa pubertas, disertai berbagai tanda yang dapat dikenali karena perubahan-perubahan yang terjadi, baik perubahan yang bersifat fisik maupun psikis.

 

Tanda-Tanda Pubertas

Pubertas berasal dari kata latin puberatum, yang berarti umur menjelang dewasa. Pubertas merupakan perubahan fisik yang terjadi pada tubuh seorang anak menjadi seorang dewasa yang mampu melakukan reproduksi. Perubahan pada pubertas diawali dengan isyarat-isyarat hormonal, yang datang dari otak (hipotalamus), ke alat kelamin, yaitu ovarium atau indung telur pada perempuan dan testis atau buah pelir pada laki-Iaki. Rangsangan yang datang menyebabkan alat kelamin itu membentuk sejumlah hormon yang merangsang pertumbuhan, fungsi, serta menyebabkan perubahan pada otak, tulang, otot, darah, kulit, rambut, payudara, dan alat kelamin. Pertumbuhan fisik, tinggi dan berat badan, menjadi lebih cepat pada awal pubertas dan berhenti setelah anak itu mencapai bentuk tubuh dewasa. Sebelum tercapainya kemampuan reproduksi, perbedaan antara anak perempuan dan laki-Iaki adalah pada alat kelamin luar, yaitu penis (zakar) pada laki-Iaki dan vagina pada perempuan. Pada pematangan tubuh anak menjadi dewasa terjadi perubahan pada tubuh anak yang semakin membedakan tubuh perempuan dan laki-Iaki. Perubahan yang terjadi disebut ciri seks sekunder.

Proses pubertas pada anak perempuan biasanya dimulai pada umur 10-11 tahun dan proses itu akan selesai pada umur 15-17 tahun. Kematangan reproduksi pada anak perempuan dicapai pada umur 15-17 tahun. Pada anak laki-Iaki, pubertas dimulai pada umur 12-13 tahun dan akan selesai pada umur 16-18 tahun. Setelah usia pubertas tidak lagi terjadi pertambahan tinggi badan. Kematangan reproduksi pada anak laki-Iaki dicapai pada umur 16 – 18 tahun.

Tanda-tanda awal pubertas pada perempuan adalah:

  1. Perkembangan payudara;
  2. Pertumbuhan rambut di sekitar kelamin dan ketiak, serta sering timbul jerawat (acne) karena kulit lebih banyak mensekresi sabun;
  3. Mulai menstruasi

 

Adapun tanda awal pubertas pada laki-Iaki adalah:

  1. Testis dan penis mulai membesar;
  2. Pertumbuhan rambut di sekitar kelamin dan ketiak;
  3. Otot menjadi lebih besar, suara menjadi lebih berat, mulai timbul jerawat dan rambut di muka (kumis dan jenggot).

 

Kematangan reproduksi pada anak perempuan umumnya dicapai empat tahun setelah tanda-tanda pertama pubertas tampak. Pada anak laki-laki, pencapaian kematangan reproduksi lebih lambat, yaitu kira-kira 6 tahun setelah tanda pertama pubertas tampak.

Seorang dokter anak di Inggris bernama James Tanner membuat suatu skala pengukuran perkembangan fisik pada anak, adolesens atau yang lebih popular dikenal sebagai ABG (anak baru gede), dan dewasa, berdasarkan pertumbuhan alat kelamin dan ciri seks sekunder dan disebut skala Tanner. Ciri utama skala Tanner adalah pengamatan perubahan pada rambut kemaluan, alat kelamin, dan payudara.

Berikut adalah bagan rangsangan hormon dalam proses pematangan seksual. Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) ) yang berasal dari hipofisis merangsang ovarium pada perempuan atau testis pada laki-laki. Akibat rangsangan tersebut maka ovarium (pada perempuan) akan mensekresi estrogen dan testis (pada laki-Iaki) akan mensekresi testosteron. Hipofisis dikendalikan oleh hipotalamus dan keduanya dipengaruhi oleh kadar estrogen (pada perempuan) dan testosteron (pada laki-Iaki). Ada mekanisme pengendalian umpan balik antara hipotalamus hipofisis-testis/ovarium. Mekanisme pengendalian ini juga disebut poros hipotalamus-hipofisis-gonad. Kesetimbangan hormon-hormon itu menentukan perilaku seksual seseorang. Hipofisis juga mensekresi hormon prolactin yang merangsang pembentukan air susu ibu.

Laki-Iaki pada umumnya lebih tinggi daripada perempuan. Hal itu disebabkan kadar hormon estradiol pada perempuan lebih tinggi daripada laki-Iaki. Hormon estradiol selain penting untuk pertumbuhan payudara dan rahim, juga merangsang pematangan dan penutupan epifisis atau pusat pertumbuhan tulang panjang sehingga pertumbuhan tulang panjang berhenti. Pada laki-Iaki pematangan dan penutupan epifisis terjadi lebih lambat karena kadar estradiol yang lebih rendah. Dengan demikian masa pertumbuhan tulang panjang pada laki-Iaki lebih lama, sehingga laki-Iaki akan menjadi lebih tinggi daripada perempuan.

Gizi seseorang mempengaruhi dimulainya masa pubertas. Awal masa pubertas pada anak perempuan banyak dipengaruhi keadaan gizinya. Pada perempuan pengaturan gizi amat penting guna menunjang kehamilan. Seseorang yang kelebihan kalori akan menimbunnya dalam bentuk lemak. Dengan demikian, bagi tubuh jika terjadi penimbunan lemak, maka hal itu menjadi isyarat bahwa sumber daya untuk memulai proses pubertas sudah siap, sehingga anak yang lebih gemuk akan memulai proses pubertasnya lebih awal. Dengan bertambah makmurnya masyarakat, maka jumlah anak yang berlebih berat badannya juga akan bertambah, sehingga tampak usia pubertas akan lebih rendah di negara-negara yang lebih makmur ketimbang negara yang masih miskin.

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada manusia fase demi fase sejatinya merupakan sunnatullah. Fase atau tahapan itu harus dilalui sebagai perkembangan gerak maju kehidupan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Tidak ada gerak mundur (regresi). Apa yang telah dilewati akan berlalu tanpa bisa diputar ulang. Dalam Surah al-lnsyiqāq/84: 19 telah dijelaskan,

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ

Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Alquran, Surah al- lnsyiqāq/84: 19)

 

Dalam surah yang lain, Allah menegaskan pula bahwa,

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian). (Alquran, Surah Nūḥ/71: 14)

 

Kedua ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa fase-fase kehidupan manusia dari mulai konsepsi (pertemuan nuṭfah ‎yang memancar –min maniyyin yumnā– bertemu dengan sel telur, lalu berkembang menjadi janin di dalam rahim hingga pada saatnya berpindah alam. Saat dilahirkan ia diberi ASI kira-kira dua tahun sehingga total kira-kira 30 bulan. Terus berkembang menjadi anak-anak hingga remaja ketika ia mencapai usia mukallaf, sebuah tugas kemanusiaan dan keilahian bertemu yang pada saatnya nanti diperhitungkan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Proses-proses ini diingatkan oleh Allah agar manusia mempersiapkan diri untuk senantiasa mensyukuri nikmatnikmat-Nya dengan mengerjakan amal saleh yang terbaik yang diridai Allah.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ۝

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim. (Alquran, Surah al-Aqāf/46: 15)

 

Khitan

Khitan, sirkumsisi, atau sunat adalah tindakan operatif mengangkat kulit muka (preputium) penis. Khitan dilakukan bukan hanya oleh umat Muslim. Kaum Yahudi juga melakukannya. Waktu khitan bervariasi, dari satu hari setelah lahir sampai umur sebelum akil balig. Di negara Muslim seperti Iran, khitan dilakukan satu hari setelah lahir, jika lahir di rumah sakit. Masyarakat petani umumnya melakukan khitan pada usia 6-11 tahun. Di Amerika Serikat dan Korea Selatan setiap bayi laki-Iaki yang lahir di rumah sakit akan dikhitan sebelum pulang.

Khitan mempunyai dasar kedokteran. Jika tidak dikhitan dan kebersihan pribadi kurang diperhatikan, maka kuman dapat berkembang di bawah kulit preputium sehingga menimbulkan infeksi. Dalam keadaan demikian, seringkali diperlukan khitan sebagai pengobatan. Itulah alasan mengapa semua bayi yang lahir di rumah sakit di negara Amerika Serikat dan Korea Selatan dikhitan, yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi (balanitis dan fimosis). Penelitian epidemiologi telah membuktikan bahwa khitan juga dapat mencegah timbulnya kanker kepala penis, karena penis yang tidak dikhitan dan kurang bersih dapat menyimpan senyawa karsinogen (penyebab kanker) di samping kuman. Itulah sebabnya mengapa di Amerika Serikat dan Korea Selatan bayi yang baru lahir harus dikhitan.

Ada beberapa tindakan yang berhubungan dengan kebersihan diri (jasad) harus diperhatikan karena termasuk di antara sunah-sunah kesucian, antara lain berkhitan. Orang yang tidak dikhitan memberi peluang. Kotoran menumpuk di bawah kulup kemaluannya dan tentu saja tempat yang nyaman bagi kuman-kuman penyakit bersarang di tempat itu. Dengan berkhitan maka peluang tersebut akan hilang hingga kebersihan tetap terjaga. Dalam salah satu hadis Rasulullah dijelaskan sunnah-sunnah kesucian itu sebagai berikut.

Ada lima hal yang termasuk fitrah: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Berkhitan merupakan salah satu dari perwujudan kesucian badaniah yang berdampak positif pada kesehatan. Bayangkan, bagaimana sulitnya seseorang yang tak berkhitan ketika akan berwudu untuk menghilangkan hadas terpaksa harus membersihkan terlebih dahulu bagian-bagian yang berada di bawah kulit kulup kelaminnya, karena di wilayah itu pasti menyimpan najis bekas-bekas air seni yang mengantong.

Kebersihan, baik dalam konteks khitan maupun yang lain, merupakan bagian dari syari’at Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim harus terus menerus berupaya hidup sehat secara jasmani dan rohani. Dalam Surah al-Baqarah/2: 222 dijelaskan bahwa,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ۝

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 222)

 

Akhir-akhir ini ada kelompok HAM yang menentang khitan pada anak dengan alasan bahwa anak tidak dapat memberi izin (informed consent). Lebih keras lagi tentangan itu terhadap anak perempuan.

Khitan pada anak perempuan menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian mengatakan tak perlu dilakukan karena ‘illat-nya berbeda dengan laki-Iaki, yaitu pada laki-Iaki terdapat kulup yang memungkinkan menyimpan sisa-sisa najis (urine). Sebagian yang lain menyatakan boleh dilakukan sebagai kehormatan dan dengan cara yang berbeda dengan laki-laki. Argumen yang dimajukan adalah salah satu hadis Rasulullah berikut ini.

 

Khitan itu sunah bagi laki-Iaki dan kemuliaan bagi kaum wanita. (Riwayat Amad dari Usāmah)

 

  1. Al-Bulūg Dan ahārah

Itilām (mimpi dewasa) bagi remaja pria merupakan salah satu tanda fase balig, seperti halnya remaja wanita yang mengalami menstruasi perdana. Ketika terjadi Itilām yang ditandai dengan keluarnya sperma atau keluar darah menstruasi maka hal itu mewajibkan mandi junub. Tidak sah melakukan ibadah tertentu seperti salat sebelum mandi junub atau dikenal pula dengan mandi besar. Bagi wanita yang haid, mandi dilakukan setelah berhenti haid (biasanya seminggu), dan bagi pria yang Iḥtilām ‎segera setelah peristiwa tersebut. Dalil yang mengharuskan mandi junub itu adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci). Usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (Alquran, Surah al-Ma’idah/5: 6)

 

Ungkapan “wa in kuntum junuban faṭṭahharū” (dan jika kamu junub maka mandilah) merupakan perintah y,ang harus dilakukan terkait dengan prasalat. Salat mengharuskan suci lahir batin, sementara orang yang masih dalam keadaan junub tentu tidak suci sehingga ia harus membersihkan dan menyucikan diri dengan cara mandi     terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat. Cara mandi junub (mandi besar) adalah dengan mengguyurkan air bersih (air yang boleh digunakan bersuci) ke seluruh tubuh, karena salah satu sebab berikut ini: hubungan suami istri, keluar sperma (seperti pada Iḥtilām ‎), sehabis haid atau nifas setelah ‎persalinan.

Peristiwa peralihan kehidupan manusia dari pra-balig ke balig (dewasa) merupakan hal yang sangat penting. Karena itu, para orang tua dianjurkan membekali putra-putrinya pengetahuan akan hal tersebut menjelang masa peralihan ini. Untuk anak laki-Iaki, ayahnya yang paling kompeten, dan jika perempuan ibunya yang lebih utama, karena masing-masing bisa menerangkan sesuai dengan pengalaman hidupnya dahulu. Beberapa hal yang perlu disampaikan, antara lain:

  1. Akan ada pengalaman baru yang dialami oleh anak, Iḥtilām ‎ ataukah haid sesuai jenis kelaminnya.
  2. Pada saat pengalaman baru itu terjadi, anak remaja tidak boleh panik, malu, atau stres, karena setiap orang mengalaminya sesuai dengan perkembangannya.
  3. Orang tua memberitahu langkah-langkah ‎ yang harus dilakukan apabila pengalaman baru itu terjadi, mulai dari sikap penerimaan (acceptance) hingga pembersihan (penyuciannya) sesuai dengan aturan agama.
  4. Dan yang terpenting orang tua menegaskan bahwa mulai pada saat itu ia telah menjadi manusia mukaIlaf yang harus mempertanggungjawabkan segaJa sikap, ucapan, dan perbuatan di hadapan Allah. Apa pun yang dikerjakan memiliki dampak hukum (wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah) yang berimplikasi pada dosa atau pahala. Penegasan semacam inilah yang kadang-kadang luput dari perhatian orang tua sehingga anak yang beralih menjadi balig (dewasa) tidak menyadari konsekuensi peralihan itu.

 

Mahram

Dalam kehidupan umat manusia terjadi hubungan-hubungan antarmereka. Ada hubungan pernikahan, hubungan kekerabatan, dan jenis hubungan yang lain. Dari hubungan pernikahan itu kemudian melahirkan anak keturunan yang pada gilirannya melahirkan keluarga baru pula. Dalam hubungan keluarga dan kekerabatan ini ada yang berstatus mahram dan bukan mahram. Yang bersatus mahram tidak diperkenankan melakukan hubungan pernikahan antarmereka. Di dalam AIquran kita jumpai adanya larangan melakukan hubungan pernikahan dengan keluarga dekat (mahram), misalnya dalam Surah an-Nisā’‎/4: 22-23,

وَلَا تَنكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا۝ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا۝

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-Iaki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 22-23)

 

Mahram bisa dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, mahram karena nasab (keturunan). Kedua, mahram karena penyusuan. Ketiga, mahram karena pernikahan. Kelompok yang pertama (mahram karena keturunan) ada tujuh golongan, yakni:

  1. Ibu, nenek, dan seterusnya ke atas, baik jalur laki-Iaki maupun wanita.
  2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan, dan seterusnya, ke bawah baik dari jalur laki-Iaki maupun perempuan.
  3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu.
  4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu.
  6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah, atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah, baik dari jalur laki-Iaki maupun wanita.
  7. Putri saudara laki-Iaki (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-Iaki maupun wanita.

 

Kelompok yang kedua ada tujuh golongan juga, sama persis seperti di atas, tetapi hubungannya karena sepersusuan (yakni satu ibu susuan, dengan minimal disusui 5 kali sampai kenyang).

Kelompok yang ketiga terdiri dari 4 golongan, yaitu:

  1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas
  2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah
  3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas
  4. Anak perempuan istri (yang sudah dicampuri/rabībah), cucu perempuan istri baik dari keturunan rabībah maupun dari keturunan rabīb (anak lelaki istri dari suami lain)

 

Dalam tulisan ini akan dibahas tinjauan kedokteran terutama yang berkaitan dengan mahram karena hubungan darah, karena mahram pada kategori ini adalah mahram murni dari garis keturunan (hubungan darah).

Menurut ilmu kedokteran, semua fenotip (ciri yang tampak) atau penyakit merupakan interaksi antara genotip (susunan gen) seseorang dan Iingkungan yang biasanya dinyatakan dengan rumus F (fenotip) = G (genotip) + L (Iingkungan). Ada sifat atau penyakit yang hampir sepenuhnya ditentukan oleh genotip dan ada pula yang pengaruh genotipnya kecil sekali. Pada albinisme, suatu penyakit kekurangan pigmen penderita menjadi ‘bule’, faktor genotip yang menentukan, sedangkan pada penyakit infeksi faktor Iingkungan yang lebih berperan.

Suatu gen dapat bersifat dominan, ko-dominan atau resesif. Jika suatu gen dominan, maka keberadaan satu gen saja akan menimbulkan sifat itu, sehingga akan tampak hanya 2 fenotip. Dalam keadaan dominansi, genotip heterozigot, yaitu yang mengemban gen dominan dan resesif akan tampak sebagai dominan. Sebagai contoh kita ambil lagi albinisme. Sifat albinisme diemban oleh gen yang diberi simbol ‘c’, sedangkan gen normalnya adalah ‘C’. Genotip yang mungkin aetalah CC, Cc, dan cc. Genotip CC dan Cc akan memberi fenotip normal sedangkan genotip cc akan memberi fenotip albino.

Jika suatu gen ko-dominan, maka akan tampak 3 fenotip. Sebagai contoh adalah gen yang menyebabkan  penyakit sel sabit atau sickle cell disease. Penyakit ini disebabkan kelainan molekul hemoglobin pada sel darah merah (eritrosit). Molekul hemoglobin merupakan molekul pengangkut oksigen yang terdapat dalam sel darah merah. Gen normal adalah HbA dan gen mutan adalah HbS. Seorang dengan genotip HbAHbA mempunyai hemoglobin normal, sedangkan orang yang bergenotip HbSHbS akan menderita anemia sel sabit sebagai akibat kelainan hemoglobinnya. Seorang heterozigot HbAHbS akan menderita kelainan hemoglobin yang tidak terlalu parah sehingga sel darah merahnya masih dapat mengangkut hemoglobin (sickle cell trait). Gen HbS tidak hilang dari populasi karena sel darah merah yang bergenotip HbAHbS dan berisikan hemoglobin dengan kelainan tersebut di atas, walaupun kurang efisien mengangkut hemoglobin, memberi kekebalan pada sel darah merah terhadap serangan parasit malaria, sehingga orang yang mengemban genotip itu lebih resisten terhadap malaria.

Pewarisan sifat pada perkawinan antarkeluarga dekat dapat menimbulkan berbagai risiko tinggi dalam penurunan atau pewarisan sifat-sifat negatif. Dalam Islam perkawinan antarkeluarga paling dekat yang diperbolehkan adalah antar sepupu. Perkawinan antar keluarga meningkatkan kemungkinan timbulnya kelainan pada ketu- . runan berlipat ganda, sampai lebih dari 300 kali.

 

Pendidikan Seks

Pendidikan seks atau sex education ialah suatu informasi yang jelas dan benar mengenai persoalan seksualitas manusia. Informasi ini meliputi perbedaan jenis kelamin laki-Iaki dan perempuan, mulai dari proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual yang baik dan yang buruk, sikap kehati-hatian dalam hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, hukum, kejiwaan, dan kemasyarakatan.

Pendapat lain mengatakan bahwa pendidikan seks adalah suatu pengetahuan yang kita ajarkan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin. Ini mencakup mulai dari pertumbuhan jenis kelamin laki-Iaki dan perempuan, bagaimana fungsi kelamin sebagai alat reproduksi, bagaimana perkembangan alat kelamin pada laki-Iaki dan pada perempuan, tentang menstruasi atau haid, mimpi basah dan sebagainya, sampai pada tumbuhnya berahi karena adanya perubahan pada hormon-hormon, termasuk nantinya masalah perkawinan, kehamilan, dan sebagainya.

Tentang perlunya dilakukan pendidikan seks bagi para remaja di kalangan masyarakat kita masih terjadi pro dan kontra. Satu segi para remaja memang perlu pengetahuan itu, tetapi pada sisi lain ada kekhawatiran ketidaktepatan pemberian informasi tersebut, yang dapat berakibat pada penyalahgunaan dan penyelewengan secara lebih dini. Namun demikian, penyimpangan dan penyalahgunaan tentang seksualitas selama ini juga sudah banyak terjadi, maka dengan diberikannya pengetahuan tentang pendidikan seks ini, apakah akan dapat menghentikan penyalahgunaan itu, atau justru akan menambah. Hal inilah yang perlu dipikirkan dan didiskusikan secara mendalam. Bila perlu, harus diadakan penelitian secara benar.

Allah berfirman dalam Surah al-Aḥzāb/33: 35,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا۝

Sungguh, laki-Iaki dan perempuan muslim, laki-Iaki dan perempuan mukmin, laki-Iaki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-Iaki dan perempuan yang benar, laki-Iaki dan perempuan yang sabar, laki-Iaki dan perempuan yang khusyuk, laki-Iaki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-Iaki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Alquran, Surah al-Aḥzāb/33: 35) 

 

Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang orang-orang yang baik, laki-laki dan perempuan, yang mendapat ampunan dan pahala besar dari Allah. Mereka ialah laki-Iaki dan perempuan yang melaksanakan ajaran Islam, beriman kepada Allah dan Hari Akhir, taat dalam melaksanakan ibadah, selalu bersikap dan berperilaku yang benar, bersifat sabar, khusyuk dalam salat, menunaikan zakat dan sedekah, melaksanakan puasa, menjaga kemaluan dan kehormatannya, berzikir dan selalu mengingat serta menyebut asma Allah.

Supaya dapat menjaga kemaluan dan kehormatan, kita sebagai muslim perlu mengetahui hal-hal baik yang harus kita lakukan, dan juga hal-hal buruk yang tidak boleh kita lakukan. Kita perlu memahami perkembangan tubuh atau jasmani kita, di samping perkembangan rohani dan mental kita. Kita perlu mengetahui hal-hal yang berbahaya jika salah kita melakukannya, dan bagaimana melakukan halhal yang bersifat pribadi dengan baik, aman, dan tidak melanggar agama.

Karena itu, perlu kepada para remaja yang sedang tumbuh jasmani dan rohaninya diberikan pendidikan seks yang benar, baik dalam hal materi maupun metode atau cara penyampaiannya. Perlu bagi para pemangku wewenang untuk menyusun materi  pendidikan seks yang sesuai dengan tujuan diberikannya pendidikan seks. Metode penyampaiannya juga harus benar dan tepat untuk menghindari efek atau akibat negatif yang mungkin terjadi.

Dalam mata pelajaran fikih juga ada hal-hal penting untuk disampaikan, seperti apa yang dimaksud dengan darah istihadah, apa yang mesti dilakukan jika seorang wanita ragu apakah haidnya sudah berhenti atau belum, bagaimana membedakan mana darah haid dan mana yang bukan. Demikian pula, pria juga perlu mengetahui bedanya mani dengan mazi, apakah mani najis atau tidak, bagaimana hukum mazi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan mimpi basah.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu