AL-BĪRŪNĪ (973-1051)‎

AL-BĪRŪNĪ (973-1051)‎

Al-Bīrūnī adalah tokoh terpenting dari mazhab ilmiah (metodis) Muslim. Sebagai salah satu ilmuwan yang paling kompeten pada Abad Pertengahan, ia menelaah alam semesta sebagai seorang Muslim taat yang memandang dunia sebagai ciptaan Allah dan menganggap studi terhadap alam semesta sebagai kewajiban agama.

Al-Bīrūnī adalah ilmuwan yang begitu menjunjung tinggi Alquran, sehingga ia benar-benar menganut doktrin penciptaan ex nihilo. Namun, ia berkesimpulan bahwa kita tidak mungkin mengetahui tanggal atau waktu penciptaan secara pasti, karena Allah tidak menyebutkan apa pun mengenai hal ini di dalam Kitab-Nya dan memutuskan untuk membatasi pengetahuan mengenai hal tersebut hanya untuk diri-Nya saja. Selain itu, perkiraan tanggal penciptaan menurut berbagai peradaban kuno sangatlah beragam, dan menurut Al-Bīrūnī, sebagian di antara perkiraan tersebut benar-benar tidak realistis. Karena itulah, ia menekankan bahwa konsep waktu dalam pandangan manusia pastilah sangat berbeda dengan konsep waktu menurut Sang Pencipta: Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu sama seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (Alquran, Surah al-Anbiyā’, 22: 47).

Al-Bīrūnī juga mengakui bahwa berbagai pengamatan dan penyelidikan yang ia lakukan terhadap alam semesta mendorongnya kepada kesimpulan bahwa hukum-hukum alam pastilah tetap dan tidak berubah -seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, ia menerima kepercayaan kuno mengenai siklus alam semesta dalam sejarah, termasuk pandangan mengenai adanya kemusnahan secara bertahap, baik pada materi maupun karakteristik moral makhluk hidup.

Kosmologi/ilmu falak Al-Bīrūnī mirip dengan pandangan para pemikir Yunani (khususnya Aristoteles dan Ptolomeus, yang menyatakan bahwa kosmos layaknya bola kerang yang berpusat di bumi). Dalam hal ini, ia tidak terpengaruh oleh konsepsi kosmologi India meskipun ia pernah tinggal di sana dalam waktu yang lama dan menjadi seorang ahli dalam bidang sejarah dan budaya India. Al-Bīrūnī adalah seorang pemikir independen yang sangat mendukung pendekatan ilmiah dan hasil penyelidikannya sebagaimana dukungannya terhadap Alquran.

Tinggalkan Balasan

Close Menu