AIR SUMBER KEHIDUPAN

AIR SUMBER KEHIDUPAN

Serial Quran dan Sains

Air merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Seperti halnya oksigen, pentingnya peran air seringkali tidak disadari karena pada umumnya air merupakan barang yang mudah didapat di alam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Vitalnya peran air biasanya baru dirasakan ketika kebutuhan akan air sulit dipenuhi atau ketika air menimbulkan masalah. Dilain pihak, air merupakan bahan yang memiliki banyak manfaat, digunakan mulai dari keperluan untuk air minum, memasak, mencuci, irigasi, industri sampai dengan untuk penyediaan energi dan rekreasi.

Aktivitas manusia dapat dipastikan tidak bisa terlepas dari keberadaan air. Pentingnya peran air tergambar pula pada kenyataan sejarah, di mana kita saksikan bahwa pusat-pusat peradaban manusia dimasa lalu selalu berkembang di daerah yang berdekatan dengan sumber air. Mesopotamia yang dianggap sebagai pusat peradaban tertua berkembang di antara dua sungai besar: Euphrat dan Tigris. Kebudayaan Mesir Kuno sangat tergantung pada Sungai Nil. Bahkan kota-kota metropolitan yang kita dapati pada zaman modern ini pun, seperti misalnya Rotterdam, London, Paris, New York, Buenos Aires, Shanghai, Tokyo, dan lain-lain selalu berdekatan dengan sungai atau badan air yang besarnya cukup memadai sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dan prasarana transportasi.

Di dalam agama Islam air penting sebagai sarana ibadah. Air diperlukan untuk bersuci sebagai salah satu syarat sebelum menunaikan salat yang merupakan ibadah pokok dalam ajaran Islam. Berwudlu sebagai salah satu syarat sah salat dilakukan dengan cara membasahi atau mencuci bagian-bagian tertentu dari anggota badan dengan air bersih (suci dan menyucikan). Perintah berwudlu dan mandi junub dengan menggunakan air bersih terdapat dalam Alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan maka jika kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 6).

Di dalam Alquran banyak ayat yang membicarakan masalah air dan fungsinya di alam, misalnya tentang asal dan penopang kehidupan, daur hidrologi, sarana transportasi, dan sebagainya. Bahkan, surga dilukiskan sebagai kebun yang dialiri sungai-sungai yang jernih. Di lain pihak, dengan air Allah pernah mengazab umat-umat terdahulu yang ingkar dan melampaui batas sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi, antara lain umat Nabi Nuh, Fir’aun, kaum Sabā’, dan umat-umat lainnya. Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa air merupakan barang yang penting dan diperlukan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah dan bencana.

Terdapat lebih dari 200 ayat di  dalam Alquran yang mengandung kata air atau hal yang berhubungan  dengan air, seperti hujan, sungai, laut, awan, mata air dan lain-lain. Di antara ayat-ayat itu terdapat uraian tentang proses-proses air di alam dengan ringkas tetapi sangat jelas, misalnya proses terjadinya hujan dan daur air. Beberapa peristiwa alam yang berkaitan dengan air disebutkan dalam bentuk sumpah (qasam). Proses-proses alam yang berkaitan dengan air banyak pula dipakai sebagai kiasan dalam menggambarkan hubungan sebab suatu perbuatan (amal) dengan akibatnya yang akan diperoleh manusia baik di dunia maupun di akhirat. Bagian dari keindahan Alquran adalah kalimatnya yang hemat kata-kata pada perumpamaan-perumpamaan yang dapat memberikan gambaran rinci dan cermat tentang suatu proses di alam tetapi selalu memberikan pencerminan yang tepat sebagai permisalan. Sebagai kitab hidayah, ayat-ayat Alquran tidak saja menukilkan tentang air yang ada di alam dunia ini, tetapi juga di alam akhirat. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ۝

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir) (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 45).

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ۝ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ۝ لَّا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ۝

Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk (Alquran, Surah al-Wāqi’ah/56: 17-19).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ۝ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ۝

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (Alquran, Surah al-Bayyinah/98: 7-8). 

Ayat-ayat di atas adalah beberapa dari sekian banyak ayat lainnya yang melukiskan keadaan surga, yang diperuntukkan hanya bagi hamba-hamba-Nya yang diridhai, diekspresikan melalui penekanan terhadap adanya air yang mengalir di tengah taman sebagai gambaran umum untuk kenyamanan dan keindahan. Meminum airnya adalah gambaran dari kesejukan, kesegaran, dan kenikmatan. Akan tetapi pada ayat-ayat lainnya digambarkan pula,

هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ۝

Inilah (azab neraka) maka biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin (Alquran, Surah Ṣāḍ/38: 57).

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا۝

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek (Alquran, Surah al-Kahfi/18: 29). 

Keberadaan air di akhirat, peran dan pengaruhnya bagi manusia sangat tergantung pada amalan-amalan yang telah diperbuat terdahulu semasa masih di dunia. Keberadaan air di mana-mana, termasuk di surga dan neraka, mengindikasikan bahwa air tidak pernah terpisah jauh dari kehidupan manusia.

مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ۝

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang mumi. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong? (Alquran, Surah Muḥammad/47: 15).

Bahkan pada kenyataan yang kita hadapi di dunia ini pun, air yang sedianya merupakan benda bermanfaat bagi manusia, acapkali menimbulkan masalah dan bencana. Secara langsung dan tidak, manfaat dan persoalan yang berkaitan dengan air pada dasarnya akibat tindakan manusia. Sementara itu cara kita berperilaku sehubungan dengan air tampaknya lebih banyak diatur dalam hadits, misalnya: (1) Permintaan seseorang yang tidak boleh ditolak, apabila persediaan cukup, adalah air, api, dan garam; (2) Salah satu sedekah yang akan memberikan pahala yang mengalir adalah menggali sumur untuk umum.

Ayahku meminta izin kepada Rasulullah, kemudian ia masuk, mencium, dan duduk bersanding dengan Beliau. Lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, permintaan apakah yang tidak boleh ditolak?”  Beliau menjawab, “Air”. la bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Garam”. la bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang engkau lakukan adalah baik bagimu” (Riwayat Abū Dāwūd dengan sanad daif dari seorang wanita yang biasa dipanggil Buhaisah).

Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, lalu sedekah apakah yang lebih utama (agar pahalanya sampai kepada roh beliau)? Rasulullah menjawab, “Air”. Kemudian Sa‘d menggali sebuah sumur; ia berkata, “Sumur ini aku persembahkan untuk Ibu Sa‘d” (Riwayat Abū Dāwūd dari Sa‘d bin ‘Ubādah).

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa air memiliki peran sosial yang penting. Hadits tentang perilaku terhadap air ini umumnya mengatur hubungan antarmanusia, termasuk dengan pihak selain umat Islam. Perintah serta batasan-batasan yang berkaitan dengan kebersihan air telah banyak diulas ulama dalam kitab-kitab fikih. Di dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang mengharuskan manusia menjaga Iingkungan hidupnya di mana mereka hidup bersama termasuk dengan makhluk-makhluk lainnya. Allah telah menata dan mengatur alam ini sebaik-baiknya dengan menyediakan berbagai keperluan untuk hidup dan berpenghidupan. Oleh sebab itu, sangat dilarang merusak lingkungan hidup yang memberi berbagai persediaan untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya, termasuk di antaranya sumber daya air yang sangat vital. Salah satu ayat Alquran yang melarang keras manusia merusak Iingkungan yang telah ditata dan disediakan oleh Allah adalah surah al-A‘rāf/7: 85.

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ۝

Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu‘aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 85). 

Buku ini berusaha menyajikan telaah atas kandungan beberapa ayat kauniyah tentang air berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkembang hingga saat ini untuk melihat hubungan antara yang tertulis secara tekstual dalam Alquran dengan kenyataan yang ada di alam sejauh yang dapat dimengerti sampai pada saat ini. Tidak semua fenomena yang dicantumkan dalam Alquran sudah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, bahkan karena banyak di antaranya yang dilukiskan sebagai kiasan maka bukan tidak mungkin tafsir yang diberikan pun masih sangat sumir. Meski demikian, setiap penafsiran tetap diusahakan berdasarkan pada fakta ilmiah yang baku dan tentunya akan tetap berkembang. Adanya ketidakselarasan antara kandungan tekstual Alquran dengan hasil penafsiran adalah karena ilmu pengetahuan yang ada saat ini belum cukup lengkap untuk menangkap kandungan isi Alquran yang dimaksud sedangkan kebenaran Alquran adalah tetap dan abadi.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu