AṠL

AṠL

Pohon Aṡl, yang dalam Bahasa Arab kadang disebut dengan Tarfa, Bigm, Fareq, Tarfa, Ubal, dan Gaz, adalah nama untuk beberapa jenis marga Tamarix yang termasuk suku Tamaricaceae. Salah satunya adalah Tamarix aphylla yang perawakannya berupa pohon kecil atau semak. Tumbuhan ini memiliki akar yang kuat dan menghujam sangat dalam, mencapai kedalaman 20 kaki. Dalam Alquran, tepatnya pada ayat yang telah disebutkan sebelumnya, pohon ini dikaitkan dengan banjir bandang di negeri Kaum Saba’ di Yaman pada 542 M. Banjir yang diakibatkan jebolnya Bendungan Ma’rib ini menghancurkan semua lahan perkebunan dan pertanian yang ada, terkecuali beberapa tumbuhan yang memiliki perakaran yang dalam, yaitu Aṡl (Tamarix), Sidr (Cedrus), dan kham atau miswāk (Salvatora persica).

Pohon Aṡl termasuk kelompok pohon yang tumbuh cepat, berpohon kecil, dengan tinggi mencapai 18 meter. Batang pohon ini berlekuk-lekuk, berdiameter 60-80 centimeter, dan berbonggol-bonggol. Batang dan rantingnya tumbuh merunduk. Kulit batang dan rantingnya berwarna abu-abu kecoklatan atau coklat kemerahan; kasar, menebal, dan membentuk salur-salur dalam. Perakarannya melebar di permukaan tanah atau sedikit di bawah permukaan tanah sampai sepanjang 34 meter. Sedangkan daunnya berwarna hijau kebiruan, berbentuk kecil dan melancip.

Pohon ini umumnya hidup di kawasan gumuk pasir, tepian sungai, gurun asin, rawa masin, dan pantai berpasir. la hidup alami dan tersebar luas dari Timur Tengah ke barat sampai Maroko dan Tunisia; ke selatan sampai Uganda dan Ethiopia; dan ke timur sampai India dan Srilanka. Dari wilayah-wilayah ini tumbuhan tersebut dibawa ke belahan dunia lain, dan saat ini bisa ditemukan dengan mudah di Kanada, Meksiko, Australia, dan Afrika Selatan. Pohon ini mampu hidup dengan baik pada ketinggian 0-1.200 meter.

Manusia banyak memanfaatkan bagian tumbuhan ini, terutama ranting lunak dan daunnya, untuk pakan ternak. Namun karena kandungan garamnya yang tinggi, ternak yang diberi pakan dari tumbuhan ini harus diberi banyak air minum. Sementara itu, madu yang dihasilkan dari bunga Tamarix berwarna coklat tua dan beraroma segar seperti mint. Batang dan cabang Tamarix jamak digunakan sebagai kayu bakar, meski agak sulit untuk memulai perapiannya. Ranting dan daun Tamarix sulit terbakar, mungkin karena kandungan garamnya yang tinggi. Kualitas kayunya cukup baik untuk dijadikan furnitur. Kandungan tannin pada bunga dan kulit pohonnya dapat digunakan untuk menyamak kulit. Beberapa kelompok Suku Tuareq di Niger memaniskan air dengan memasukkan ranting tamarik ke dalamnya. Tampaknya ada peran manna, getah manis yang dikandung tanaman ini, dalam proses pemanisan tersebut.

Jenis-jenis Tamarix digunakan sebagai kontrol erosi; ia sangat baik untuk menstabilkan gumuk pasir karena tumbuh cepat dan mempunyai perakaran yang menyebar dan dalam. Serasah yang berupa ranting dan daun cepat terbentuk sehingga kapasitas sediaan air dapat segera dibentuk. Kandungan garam yang tinggi pada serasah ini menghalangi rumputdan tumbuhan lain hidup liar di sekitarnya. Dari perspektif manajemen kebakaran hutan, kondisi ini sangat ideal karena minimnya bahan yang bisa dilalap api, dikombinasikan dengan sulitnya Tamarix terbakar, membuat potensi kebakaran sangat kecil. Dengan demikian, kemungkinan timbulnya kebakaran akibat percikan api dari kilat atau kesalahan manusia (puntung rokok, api unggun, dan sejenisnya) bisa diminimalisasi.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu