‎ MTs Assalafiyyah Mlangi: Madrasah Berbasis Alam & Pesantren

‎ MTs Assalafiyyah Mlangi: Madrasah Berbasis Alam & Pesantren

Madrasah MTs Assalafiyyah Mlangi berlokasi di Jl. Ring Road Barat Mlangi-Sawahan Nogotirto Gamping Sleman, tepatnya di sebelah utara Universitas Aisyiah Yogyakarta (UINSA). Lokasi bangunan yang strategis karena berada di pinggir lingkaran Ringroud Yogyakarta sebelah barat, sangat mudah untuk menemukan bangunan sekolah ini.

Madrasah ini memiliki jargon madrasah berbasis alam dan pesantren. Yang unik dari bangunan madrasah ini adalah bangunan madrasah ini terbuat dari anyaman bambu, berlantai ubin dan beratapkan jerami. Guru ketika mengajar duduk di atas meja dan kursi kayu, sedangkan para siswa layaknya makan di warung lesehan, duduk diatas lantai ubin dengan meja panjang dengan jumlah anak 5-6 anak.  dari luar, bangunan kelas madrasah ini seperti sebuah gazebo besar. Disamping itu, bangunan madrasah ini di kelilingi oleh sawah tanaman padi. Tidak hanya bangunan kelas yang terbuat dari anyaman bambu, kantor sekolah MTs dan MA juga terbuat dari anyaman bambu, beralas ubin dan beratapkan genteng. Di setiap kelas, terdapat gentong berisi air minum untuk para santri yang ingin minum jika haus. Juga di depan kantor madrasah terdapat gentong berisi air yang digunakan untuk para guru jika ingin mencuci tangan. Menurut kepala sekolah MTs Assalafiyyah. Bapak Alif Jum’an, bangunan madrasah ini didesain oleh Kyai Irwan Masduqi selaku pimpinan pesantren Assalafiyyah terpadu. 

 

Berdirinya MTs Assalafiyyah Mlangi tidak terlepas dari sejarah berdirinya pondok pesantren Mlangi. Hal itu karena, Madrasah ini berada di bawah yayasan pondok pesantren Assalafiyyah Mlangi. Berdasarkan sejarah, pondok pesantren Assalafiyyah Mlangi didirikan oleh Kyai Masduqi pada tahun 1936, dengan tujuan untuk menyebarkan dakwah Islam ala Ahlusunnah wal Jama’ah di Indonesia. Dalam laku kesehariannya, Kyai Masduqi tidak hanya mengajar para santri tentang ilmu agama, melainkan juga mengajak para santri untuk bersama-sama melawan penjajah di era kolonialisme. 

Setelah 1 tahun pasca kemerdekaan Indonesia, Kyai Masduqi meninggal dunia dan perjuangan pondok pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama KH. Syuja’ie Masduqi. Di bawah asuhan Kyai Syuja’ie inilah pondok pesantren Assalafiyyah terus berkembang maju dan konsisten mengajarkan kitab kuning untuk memperkaya wawasan para santri dalam mendalami khazanah kebudayaan Islam. Karena dengan wawasan yang luas atas khazanah keilmuwan tersebut, seorang santri diharapkan mampu bersikap lebih terbuka, tidak kaku dalam berdakwah di tengah masyarakat dan mampu menjawab tantangan dinamika perkembangan zaman. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan zaman yang pesat dan bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap konsep pendidikan yang terpadu, maka elit pesantren Assalafiyyah mendirikan sebuah sekolah pendidikan formal berbasis pesantren yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Assalafiyyah.

Menurut kepala sekolah Bapak Alif, MTs Assalafiyyah berdiri pada tanggal 10 agustus 2013, dan berdirinya pendidikan formal tersebut tidak terlepas dari sumbangsih para alumni pesantren Assalafiyyah yang memiliki peran vital bagi kemajuan pesantren. Bangunan madrasah tersebut berkat sumbangsih para alumni pesantren Assalafiyyah yang telah rela menyumbang waqaf tunai untuk perluasan tanah pesantren, gigih dalam merekrut para santri-santri di berbagai daerah binaan alumni dan bahkan kerja bakti bulanan untuk pembangunan pesantren.

 

Di masa awal-awal berdiri, yakni pada tahun pertama. Kelas VII terdiri dari 2 rombongan belajar yaitu kelas VII A berjumlah 32 siswa dan kelas VII B berjumlah 19 siswa. Total keseluruhan jumlah siswa pada angkatan pertama yaitu 51 siswa. Menurut penuturan kepala sekolah bapak Alif, seluruh siswa yang bersekolah di MTs Assalafiyyah Mlangi adalah paara santri pondok pesantren Mlangi. Madrasah ini tidak membuka kesempatan kepada para siswa-siswi yang datang dari rumah atau santri kalong. Melainkan hanya menerima siswa-siswi yang bermukin di pesantren Mlangi. Adanya kebijakan tersebut mempermudah perekrutan para siswa-siswi bersekolah di Madrasah ini, mengingat jumlah santri dan alumni pondok pesantren Mlangi jumlahnya banyak dan telah tersebur di berbagai wilayah di Indonesia. 

Peneliti, Kepala Sekolah Bapak Alif Jum’an, S.S dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren ‎Assalafiyyah Mlangi Gus Irwan Masduqi, Lc, M.Hum. ‎

Tidak heran di tahun ajaran 2017/2018, meski madrasah ini baru seumur jagung, tapi madrasah ini telah memiliki 13 rombongan belajar yang terbagi di kelas VII berjumlah 5 rombel, kelas VIII berjumlah 4 rombel, dan di kelas IX berjumlah 4 rombel, dengan jumlah total seluruh siswa-siswi berjumlah 314 anak. Disamping itu, MTs Assalafiyyah Mlangi telah melakukan akreditasi sekolah pada tahun 2016, dengan hasil akreditasi B (80,00).

 

Disamping bangunan sekolah ini yang unik, Waktu belajar di madrasah ini pun juga dapat dikatakan unik. Unik karena tidak sama dengan di sekolah-sekolah lain pada umumnya. Jam sekolah bagi siswa laki-laki sejak pukul 07.00-12.00 WIB, sedang jam sekolah bagi siswi perempuan sejak pukul 12.30-17.00 WIB. Pembagian jam sekolah tersebut menurut bapak Alif, karena keterbatasan bangunan atau kelas sekolah. Ironi memang, jam belajar bagi anak laki-laki di pagi hingga siang hari ketika otak dan badan masih semangat, sedangkan untuk jam belajar anak perempuan dari siang hingga sore hari ketika otak dan badan sudah lemas dan mungkin sudah kurang semangat.    

Terlepas dari itu semua, pembagian jam belajar tersebut mungkin tidak lepas dari kurikulum pesantren yang memadukan kurikulum pesantren dengan kurikulum sekolah. Sehingga aktivitas santri perempuan di pagi hingga siang adalah belajar kitab kuning di asrama pesantren, sedangkan aktivitas santri laki-laki di siang hingga sore adalah belajar kuning di asrama pesantren. Proses belajar yang demikian entah akan sampai kapan. Namun yang pasti, civitas madrasah terus melakukan perbaikan dan evaluasi demi kebaikan sekolah, guru dan siswa.

 

Visi madrasah ini adalah mencetak anak didik yang berilmu dan berakhlak mulia. Adapun program unggulan sekolah antara lain sekolah alam, kurikulum 2013, ekstrakurikuler, fieldtrip, study tour dan wisata religi. Sebagai sekolah yang baru berdiri, tidak banyak koleksi buku di perpustakaan sekolah, dan itupun koleksi buku yang ada adalah koleksi buku untuk sekolah MTs dan MA Assalafiyyah. Disamping itu, peralatan laboratorium juga tidak banyak, ada beberapa alat laboratorium yang dimiliki oleh sekarang akan tetapi jarang sekali digunakan. Alat laboratorium tersebut tersimpan rapi di dalam lemari yang mana koleksi buku dan koleksi alat laboratorium terdapat di dalam satu bangunan. Yaitu perpustakaan sekolah dan ruangan laboratorium. 

Peneliti, guru IPA dan subjek penelitian‎

Dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPA, guru IPA lebih sering menggunakan alat dari alam. Seperti jika tema pelajaran adalah tata surya, meski di dalam laboratorium ada alat tatasurya dan globe. Tapi guru lebih memilih metode pembelajaran dengan bermain game tatasurya. Kemudian ketika pelajaran rotasi planet dan matahari, guru lebih menggunakan metode pembelajaran alat sederhana seperti kertas plano besar, garis lingkaran, benang dan potlot. Menurut guru IPA ibu Sri, metode yang demikian lebih efektif karena akan membuat siswi tidak pasif tapi bergerak, berfikir sambil bermain. Kemudian lanjut ibu Sri, metode belajar dengan menggunakan alat seadanya dari alam akan mempermudah siswa untuk mengamati alam dengan cara yang sederhana, bisa langsung dilihat, langsung di raba dan langsung di rasakan, tanpa perlu menunggu alat.

Dalam hal kreativitas siswa, ada satu karya siswa yang ditempel di depan kantor sekolah yaitu Majalah Dinding terbuat dari gambar karikatur. Sekilas dilihat dari luar, Madin tersebut unik tapi sederhana karena tanpa mengeluarkan biaya yang mahal cukup dengan guntingan sisa kertas.

Satu hal yang membuat sekolah ini kental dengan tradisi pesantren tentang kesederhanaan dan kemandirian adalah sekolah MTs Assalafiyyah Mlangi menyediakan biaya gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin. Biasanya mereka akan disebut sebagai “santri mandiri”. Anak-anak tersebut sekolah di MTs Assalafiyyah Mlangi tanpa dipungut biaya apapun hingga anak tersebut selesai sekolah. Sebagai imbalannya, santri mandiri tersebut membantu pondok pesantren. Seperti menjaga kantin jika libur sekolah, menjaga absensi kantor dan lain sebagainya. Menurut pak Alif, biaya tersebut di dapat dengan cara biaya silang. Artinya, anak dari keluarga mampu membayar full study sedangkan dari keluarga miskin tidak perlu membayar.

 

Sebagai madrasah yang baru berdiri, sekolah ini tidak banyak memiliki prestasi. Baik prestasi di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Tapi yang pasti, sekolah ini berkembang sangat cepat di usianya yang masih muda. Para siswa dan siswi datang dari berbagai daerah. Murid-murid tersebut adalah para santri pondok pesantren Assalafiyyah. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah, siswi dan orang tua wali murid, anak-anak yang belajar di sekolah MTs Assalafiyyah adalah anak-anak dari orang tua yang dulu pernah nyantri di pesantren Assalafiyyah. Jadi anak-anak yang belajar di MTS Assalafiyyah adalah para alumni pondok pesantren Assalafiyyah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga alasan utama para orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke MTs Assalafiyyah adalah untuk meneruskan perjuangan orang tua kelak di masa yang akan datang. (Masthuriyah Sa’dan)

 Koleksi buku di perpustakaan Sekolah MTs Assalafiyyah Mlangi 

‎ Koleksi buku di perpustakaan Sekolah MTs Assalafiyyah Mlangi ‎

Tinggalkan Balasan

Close Menu